Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Oleh: Rimayanti Wardani
Mahasiswa Magister Komunikasi Korporat, Universitas Paramadina
Tanpa disadari, dua jenis bencana terjadi belakangan ini. Pertama, bencana alam di Sumatera. Kedua, bencana komunikasi yang dipicu oleh pernyataan pejabat negara.
Jika bencana alam dapat ditangani secara teknis, maka bencana komunikasi justru memperbesar luka emosional masyarakat. Frasa “Momentum yang Baik” yang diucapkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Minggu, 30 November 2025 menjadi titik pemicu kegaduhan publik.
Pernyataan tersebut bukan sekadar salah ucap. Ia menjelma menjadi studi kasus kegagalan komunikasi krisis yang berimbas pada turunnya kepercayaan publik. Di tengah suasana duka, publik bukan hanya menunggu bantuan logistik, tetapi juga bahasa yang mengandung empati. Alih-alih menenangkan, komentar itu justru menciptakan jarak emosional.
Crisis Communication Failure: Tidak Peka terhadap Situasi
Kesalahan utama dalam kasus ini terletak pada kegagalan membaca sensitivitas situasional. Dalam komunikasi krisis dikenal konsep Crisis Context: pesan harus selaras dengan tingkat ketidakpastian, duka, dan trauma publik.
Frasa “Momentum yang Baik” jelas tidak berada dalam konteks tersebut. Saat publik berfokus pada kehilangan dan penanganan darurat, sang pejabat justru menyoroti peluang kebijakan jangka panjang. Ini menunjukkan kegagalan beralih dari bahasa birokrasi rutin ke mode komunikasi krisis yang mensyaratkan empati sebagai inti pesan.
Public Trust Erosion: Bagaimana Satu Kalimat Menggerus Kredibilitas
Satu kalimat mampu meruntuhkan kepercayaan publik karena memicu dua efek utama:
1. Pelanggaran Harapan Kredibilitas
Baca juga : ESQ Kemanusiaan Menyalurkan Donasi Peduli Bencana Sumatera
Publik berharap pejabat negara hadir sebagai representasi empati dan solidaritas. Ketika diksi yang muncul terkesan dingin, publik mempertanyakan integritas kepemimpinan: Apakah mereka benar peduli?
2. Atribusi Negatif
Kesalahan komunikasi ini lalu dihubungkan dengan persepsi buruk: bahwa pejabat tidak sensitif dan tidak memahami penderitaan rakyat. Dampaknya, fokus publik bergeser dari bencana alam ke bencana moral kepemimpinan.
Leadership Communication: Empati, Framing, dan Timing
Kasus ini menegaskan kembali bahwa komunikasi pejabat di masa krisis harus memprioritaskan:
Empati (Affective Component)
Bahasa harus mencerminkan empati, bukan sekadar kehadiran fisik atau angka laporan.
Framing (Cognitive Component)
Narasi tragedi harus dibingkai sebagai solidaritas kemanusiaan, bukan peluang kebijakan.
Baca juga : MUI Serahkan Langsung Donasi Korban Bencana Sumatera
Timing (Chronological Component)
Pesan strategis harus disampaikan pada waktu yang tepat. Di fase duka, yang diperlukan adalah kehadiran emosional, bukan rencana jangka panjang.
Ketidaktepatan dalam tiga unsur ini menjadikan pesan yang seharusnya informatif berubah menjadi kontraproduktif.
Respons Pemulihan: Strategi Damage Control
Dalam kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT), pemerintah perlu mengambil langkah pemulihan berbasis akomodasi, bukan defensif.
Langkah strategis yang diperlukan:
1. Mortification (Permintaan Maaf Terbuka)
Pernyataan maaf yang tulus, terbuka, dan tanpa pembelaan menjadi langkah awal memulihkan martabat institusi.
2. Corrective Action (Tindakan Nyata di Lapangan)
Setelah permintaan maaf, komunikasi harus bergeser dari kata-kata ke data konkret: distribusi bantuan, evakuasi, pemulihan infrastruktur, hingga rencana keberlanjutan.
3. Penunjukan Juru Bicara yang Tepat
Figur empatik dan kredibel—terutama dari lembaga penanganan bencana—perlu menjadi suara publik menggantikan pejabat yang melakukan kekeliruan komunikasi.
Baca juga : GEB Peduli Salurkan Bantuan 6 Ton Beras Dan Obat Ke Padang
Komunikasi pemerintah setelahnya harus diarahkan pada laporan progres dan bukti aksi, selaras dengan prinsip:
Say what you do, and do what you say.
Penutup
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kepercayaan publik adalah aset yang tidak ternilai. Dalam konteks manajemen krisis, empati bukan pelengkap, tetapi fondasi utama.
Salah ucap dapat memperparah situasi, menciptakan bencana kedua yang lebih sulit dipulihkan dibanding kerusakan fisik akibat bencana alam.
Pejabat publik harus memahami:
Dalam komunikasi krisis, kata-kata bisa menyelamatkan—atau melukai dua kali.
Dan kali ini, kata-kata justru menjadi luka.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya