Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kearifan tanda-tanda alam dari Semeru dan Merapi jadi kenyataan. Bagi yang eling dan waspada, muntahan lahar panas kedua gunung tersebut sejatinya untuk mengingatkan datangnya gempa dahsyat. Yaitu banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.
Kemunculan Siklon Tropis Senyar menyebabkan cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi diikuti angin kencang. Fenomena Siklon sebetulnya dapat diantisipasi. Namun kawasan hutan Sumatera telah habis dibabat untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi. Tata kelola ekosistem tidak berfungsi untuk menahan gempuran curah hujan tinggi. Akibatnya banjir bandang dan tanah longsor tidak dapat dihindari.
“Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan hutan, Mo?" celetuk Petruk prihatin. Romo Semar menghela napas panjang menghilangkan sesak di dadanya. Melihat onggokan kayu gelondongan dan batang kelapa sawit hanyut pasca banjir, seolah menampar muka kita sendiri. Kita dengan vulgar tahu siapa perusak ekosistem hutan Sumatera.
Baca juga : Pesan Dari Kawah Jonggring Saloka
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Nasi urap dengan lauk rempeyek Magelang menambah nikmat sarapan pagi di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Amarta dan Dwarawati diterjang banjir bandang.
Kocap kacarito. Sebagai pamong satria luhur, Ismaya atau Ki Lurah Semar Badranaya tidak bosan-bosannya mengingatkan satria Pandawa untuk tidak serakah dalam mengekplorasi sumber daya alam. Hasil bumi diperuntukkan untuk kemakmuran kawula Amarta. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Satria Pandawa dan pangreh praja menggunakan kekayaan alam untuk kepentingan pribadi.
Seperti yang dilakukan Abimanyu anak Harjuna. Abimanyu hidup foya-foya dan tidak memperdulikan lagi kawula. Abimayu marah dan tidak terima dengan nasihat Ki Lurah Semar. Sebagai abdi tidak semestinya ikut campur urusan para Petinggi kerajaan. Kemarahan Abimanyu tidak terkontrol dan meludahi wajah ki Lurah Semar. Sehabis meludahi Ki Lurah Semar, Abimanyu memilih pergi ke Dwarawati untuk menengok istrinya Siti Sendari.
Baca juga : Kutukan Wisrawa Pendakwah Genit
Para dewa tidak dapat menerima perlakuan Abimanyu kepada Ki Lurah Semar Badranaya. Walau bagaimanapun, Semar adalah jelmaan dari Dewa Ismaya. Para dewa marah dan ingin memberi pelajaran kepada Abimanyu.
Dewa Guru sebagai tetungguling para dewa, memerintahkan Dewa Bayu dan Dewa Baruna untuk mengirim banjir bandang ke Amarta dan Dwarawati. Baruna sebagai dewa laut tidak sulit membuat air laut pasang dan meluapi daratan. Tiupan angin Dewa Bayu menambah dahsyat bencana Amarta dan Dwarawati.
Para kawula kocar kacir menyelamatkan diri. Prabu Kresna kewalahan menghadapi bencana yang datang dengan tiba-tiba. Kresna melarikan diri ke Amarta untuk minta tolong satria Pandawa. Prabu Puntadewa tidak dapat membantu Kresna. Karena Amarta juga sedang mengalami bencana yang sama.
Baca juga : Teror Jaka Maruta Di Kerajaan Mandura
“Ndoro Abimanyu harus tanggung jawab, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Abimanyu mengaku salah dan memohon maaf kepada para dewa,” jawab Romo Semar. "Begitu pula dengan pembalak hutan dan pemberi izin, harus bertanggung jawab atas bencana yang terjadi. Kutukan lebih dahsyat akan datang kalau tidak mau bertobat,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.