Dewan Pers

Dark/Light Mode

KSP Pastikan Pemerintah Siap Hadapi Lonjakan Omicron

Minggu, 2 Januari 2022 19:28 WIB
Tenaga Ahli Utama KSP Abraham Wirotomo (tengah) (Foto: Instagram)
Tenaga Ahli Utama KSP Abraham Wirotomo (tengah) (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Abraham Wirotomo menegaskan, pemerintah siap menghadapai lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron.

Menurutnya, saat ini pemerintah sudah menyiagakan 1.011 rumah sakit dan 82.168 tempat tidur untuk pasien Covid-19.

"Kesiapsiagaan pelayanan kesehatan ditingkatkan, mengingat perjalanan luar negeri yang masuk ke Indonesia diperkirakan semakin banyak," tegas Abraham usai memantau perkembangan kondisi pasien Covid-19 varian Omicron di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta, Minggu (2/1).

Berita Terkait : Inilah Harapan Dan Optimisme

Abraham juga memastikan, kesiapan logistik berupa APD dan obat-obatan cukup untuk tiga bulan ke depan.

Saat ini, kata Abraham, sejumlah rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Covid-19 varian Omicron mulai melakukan pengetatan untuk pasien umum.

Hal ini dilakukan sebagai persiapan jika ada gelombang Omicron.

Berita Terkait : 4 Pemainnya Dilarang Tampil Oleh Pemerintah Singapura, PSSI Ajukan Banding

"Seperti di RSPI, mereka nantinya bisa menkonversi tempat tidur untuk pasien Covid-19," ujar Abraham.

Saat ini,  kondisi 24 pasien Covid-19 varian Omicron yang saat ini dirawat di RSPI Sulianti Saroso dilaporkan terus membaik. Tidak ada yang perlu mendapatkan perawatan intensif.

Dr. dr. Rosa Marlina Sp.P, yang merupakan dokter spesialis paru RSPI Sulianti Saroso mengatakan, seluruh pasien Omicron umumnya berusia muda dan tidak memiliki komorbid.

Berita Terkait : Presiden PKS Minta Pemerintah Segera Stabilkan Harga Pangan

Pasien terdeteksi memiliki Omicron bukan karena gejala. Melainkan karena ingin melakukan perjalanan jauh.

“Saya berharap, pemerintah jangan terburu-buru kendorkan pembatasan. Pasien di awal-awal adanya varian baru cenderung tidak berat, karena mayoritas yang terinfeksi berusia muda dan memiliki kondisi tubuh yang sehat. Mereka terdeteksi, karena mau melakukan perjalanan jauh. Situasi akan mulai sulit, ketika penularan sudah menyebar ke kelompok lansia dan komorbid,” jelas Rosa. [HES]