Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kurangi Potensi Kesalahan Hasil Tes PCR
Kemenkes Benahi Sistem Input Data
Selasa, 8 Februari 2022 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan soal kesalahan tes Covid-19 laboratorium swasta yang belakangan viral di media sosial (medsos). Menurutnya, tidak ada hasil tes Polymerase Chain Reaction alias PCR yang sempurna.
Dijelaskan Budi, akurasi tes PCR berkisar di angka 95-99 persen. Di semua negara pun, sama. Kemungkinan, kesalahan hasil tes PCR makin besar saat jumlah tes tinggi. Mungkin saja petugas laboratorium salah memasukkan data karena jumlah tes meningkat.
“Kalau tes sempat 500 ribu sehari, ya ada 1 persen 5 ribu yang bisa missed,” ujar Budi, dalam konferensi pers, kemarin.
Baca juga : FKUB Tangerang Puji Pemkab Yang Berhasil Jaga Kerukunan Umat
Kemenkes, mengurangi potensi kesalahan tes PCR itu dengan membenahi sistem input data. Mereka kini memakai sistem koneksi daring untuk mengurangi beban petugas laboratorium tes Covid-19.
“Langsung masuk PeduliLindungi sehingga mengurangi kesalahan data entry dan mengurangi beban,” ucap Budi.
Selain itu, kesalahan hasil tes PCR sangat mungkin terjadi pada pemeriksaan orang-orang yang datang dari luar negeri karena jumlahnya banyak. Karena itulah, Kemenkes memberi kesempatan Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) untuk banding hasil tes Covid-19.
Baca juga : Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Satelit Di Kemenhan Naik Ke Penyidikan
“Bayar sendiri, dua lab berbeda dan sudah terakreditasi Kemenkes. Kalau keluar, nanti kita lihat. Kalau dua negatif, otomatis negatif, kalau dua positif, ya dia positif,” jelas jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Budi juga meminta masyarakat tidak panik dengan lonjakan kasus Covid-19. Yang penting, disiplin protokol kesehatan (prokes) terus dijalankan. Kolaborasi antara masyarakat dan Pemerintah diyakininya akan mampu menekan jumlah kasus.
“Sekali lagi, jangan panik, jangan jumawa, tetap waspada. Kalau kasus naik di kota kita, kurangi mobilitas, stay saja di rumah. Insya Allah nanti di akhir Februari kita bisa mengatasi pandemi ini,” tuturnya.
Baca juga : Dirjen Perumahan Iwan Soroti Kemiskinan Ekstrem Di Daerah
Budi mengakui, dalam beberapa pekan terakhir lonjakan kasus Covid-19 terjadi di Indonesia. Terutama, di tiga provinsi. Ketiganya yakni DKI Jakarta, Banten, dan Bali.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya