Dewan Pers

Dark/Light Mode

Surveinya Selalu Jitu

LSI Denny JA Konsolidasi Menangkan Pilpres 5 Kali Beruntun

Minggu, 15 Mei 2022 12:43 WIB
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali (Denny JA). (Foto: Istimewa)
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali (Denny JA). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali (Denny JA) menyebut, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang menggabungkan tiga partai, Golkar, PPP dan PAN,  menjadi penanda pintu menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 sudah terbuka. 

Denny yakin, ke depan, partai-partai lain akan terpengaruh dengan koalisi ini. "Kita akan menyaksikan aneka manuver partai lain, yang tak ingin ketinggalan kereta, juga menyiapkan diri menyongsong Pilpres 2024," kata Denny JA dalam keterangannya, Minggu (15/5).

Denny JA menambahkan, berbagai manuver menuju 2024 ini akan memberi efek bagi pemerintahan Jokowi. Namun, ini hal yang biasa dalam tradisi demokrasi. Setahun sebelum jabatan Jokowi berakhir, pemerintahan Jokowi tak akan sekuat sebelumnya. 

"Sejumlah partai dan menterinya mulai membagi perhatian untuk pilpres 2024. Mereka tidak 100 persen lagi fokus masalah pemerintahan Jokowi," tambahnya.

Berita Terkait : PKB Mau Rebut Kandang Banteng

Denny JA melanjutkan, LSI sendiri memiliki tradisi. Sekitar 22 sebelum pemilu presiden, sebagai lembaga survei, konsultan politik ataupun civil society, sudah melakukan konsolidasi.

Denny JA yang dikenal the founding father profesi konsultan politik Indonesia sudah terlibat empat Pemilu Presiden sejak tahun 2004, 2009, 2014 dan 2019.

Atas kiprahnya yang panjang itu, Denny JA memperoleh penghargaan Lifetime Achievement Award karena ikut memenangkan Pilpres tiga kali berturut- turut di tahun 2017. Di tahun 2019, rekor itu ditambah menjadi ikut memenangkan Pilpres empat kali berturut-turut.

"Kini LSI bersiap-siap memecahkan rekornya sendiri. Kami bersiap memenangkan Pilpres menjadi lima kali berturut-turut di tahun 2024 nanti," yakin Denny JA.

Berita Terkait : Gelar Silatnas, KNPI Mantapkan Konsolidasi Jelang Kongres

Namun, sambung Denny JA, LSI harus lebih hati-hati. Ia tak ingin presiden yang terpilih nanti di tahun 2024 mengulangi kisah sedih sejarah presiden sebelumnya. Dia menyebut, ada semacam pola yang tetap. Presiden Indonesia di awal kekuasaannya dipuja. Namun di akhir kekuasaannya dicemooh bahkan dijatuhkan.

Denny memberi contoh. Bung Karno dihormati di tahun 1945. Tapi di tahun 1966, ia dijatuhkan. Soeharto dipuja di tahun 1966. Tapi di tahun 1998, ia diturunkan. Habibie disambut meriah di tahun 1998. Tapi di tahun 1999, pertanggung jawabannya ditolak MPR. Gus Dur disambut sebagai tokoh civil society untuk presiden tahun 1999. Tapi di tahun 2001, Gus Dur dilengserkan MPR.

Megawati dihormati sebagai presiden perempuan pertama Indonesia tahun 2001, sebagai wapres ia menggantikan Gus Dur yang lengser. Tapi ketika Megawati ikut pilpres 2004, ia dikalahkan.

SBY menjadi presiden berikutnya selama dua periode. SBY juga dihormati sebagai presiden Indonesia pertama yang dipilih langsung. Namun di akhir jabatan, partai SBY, Partai Demokrat, sangat merosot dukungannya. Dari perolehan Demokrat di atss 20 persen (2009) menjadi hanya di bawah 11 persen (2014).

Berita Terkait : Waktunya Belum Tepat, Dewan Kota Bandung Minta Kenaikan Retribusi Sampah Ditunda

"Kita belum tahu nasib Presiden Jokowi karena jabatannya belum selesai. Di luar Jokowi, tradisi presiden kita disambut dengan terompet kemenangan. Tapi mereka dilepas dengan  kondisi tidak populer, bahkan dijatuhkan. Presiden Indonesia di tahun 2024 nanti semoga keluar dari tradisi sedih presiden Indonesia," tutup Denny JA berharap. ■