Dewan Pers

Dark/Light Mode

Polarisasi Cebong-Kadrun Sudah Saatnya Diakhiri

Minggu, 26 Juni 2022 07:05 WIB
Ilustrasi cebong-kadrun. (Foto : Istimewa).
Ilustrasi cebong-kadrun. (Foto : Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Polarisasi cebong-kadrun masih terjadi di masyarakat, khususnya di media sosial (medsos). Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikannya, tapi belum berhasil.

Akun @politikhariini mengungkap upaya Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh menghentikan polarisasi cebong-kadrun. Caranya, dengan menyodorkan nama Anies Baswedan-Puan Maharani kepada Presiden Jokowi.

“Surya mengatakan usulan nama pasangan capres-cawapres kepada Jokowi murni karena keinginannya menghadapi pemilu yang damai. Ia mengaku tak ada motif politik apa pun di balik penawaran nama tersebut,” ungkap @politikhariini.

Akun @TimHore1112 setuju dengan usulan Ketum Nasdem Surya Paloh. Menurutnya, usulan tersebut cerdas. Dia berharap, usulan bos media grup tersebut dapat terlaksana.

“Makan bareng-bareng semuanya kan lebih enak. Jadi nggak seenaknya saja bikin istilah. Seperti yang paling benar saja,” katanya.

Berita Terkait : KSP: Pelaksanaan Kartu Prakerja Sudah Sesuai Aturan

Akun @MardinasMarshel juga setu­ju dengan usulan Capres-Cawapres Surya Paloh. Hanya saja, dia lebih mengutamakan kompetisi secara jantan. Bahwa semua pihak, menyiapkan diri untuk kalah.

“Bukan untuk menang. #IndahnyaKebersamaan,” ujarnya.

Akun @AfandiDadi mengatakan, usu­lan Capres-Cawapres Surya Paloh akan ditolak oleh buzzer kedua kubu. Soalnya, kata dia, usulan tersebut bisa berdampak pada dapur yang tidak ngebul.

“Jahat sekali politikus dan buzzer yang mengail manfaat dari bertahannya polarisasi terutama sejak 2014 hingga kini,” ujar @withrif.

Pandangan berbeda dilontarkan @radiefrmadna. Menurut dia, sekarang juga ada kemungkinan Ganjar berpasangan dengan Anies. Kata dia, pasangan terse­but cukup pas untuk mengakhiri polarisasi seperti tahun 2014 dan 2019.

 

Berita Terkait : Habiskan Energi, Perseteruan Sesama Tokoh Batak Harus Segera Diakhiri

“Serta mengakhiri narasi cebong-kampret-kadrun,” katanya.

Akun @CeciliaSuwanda1 mengatakan, gaduh cebong-kadrun terjadi karena kedua belah pihak merasa paling benar. Awalnya, kata dia, ada yang nyinyirin Pemerintah, bukan kritik wajar. Lalu di-counter oleh yang pro Pemerintah.

“Keluarlah tuduhan buzzerRp, cebong vs kadrun, begitu saja terus. Ada sebab ada akibat,” katanya.

Menurut @SangGuru2471, satu-satunya cara akhiri cebong-kadrun adalah menghapus politik identitas. Kata @ari­efnoviandi_, narasi meninggalkan polari­sasi, dan mengakhiri era cebong-kadrun ala @NasDem, kemungkinan akan ditanggapi warga secara positif.

“Semua kisah ini harus segera diakhiri. Tidak ada lagi cebong, kampret atau kadrun atau umpatan-umpatan lainnya,” ujar @RobbyZulpandi02.

Berita Terkait : Zulhas Sudah Siapkan Penggantinya Di MPR

Akun @ismailfahmi berharap para influencer, buzzer, fans, dan pendukung yang namanya ada dalam jajaran kadrun, kampret, buzzeRp, buzzerRp, dan ce­bong, bersedia mengurangi volume suara panggilan yang berdampak negatif bagi persatuan NKRI kita tercinta ini.

“Satu lagi, penting untuk nggak terlalu fanatik sama ‘jagoan politik’. Supaya kita Bisa terima kalau jagoan kita buat salah,” ajak @kai_ekimci.

“Sulit, selama para elit-elit dan politisi masih berambisi untuk memperebutkan kursi-kursi empuk. Pertempuran sulit dipadamkan meskipun masyarakat yang di bawah jadi korban,” tukas @shda_ag­atha_. [ASI]