Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Perang Rusia-Ukraina membuat dunia bergejolak. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun dilanda H2C alias harap-harap cemas, dampaknya mengganggu ekonomi Indonesia. Meski begitu, Sri Mul masih pede ekonomi Indonesia akan tetap aman.
Kecemasan Sri Mul disampaikannya saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, kemarin.
Dalam paparannya, Sri Mul mengatakan, lonjakan harga komoditas global yang terjadi saat ini karena disrupsi rantai pasok global serta adanya geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Hal ini turut memengaruhi ekonomi dunia.
Baca juga : Pemilik Senjata Api Bela Diri Wajib Punya Keterampilan Menembak
Dengan kondisi itu, Sri Mul memperkirakan, laju inflasi Indonesia tahun ini akan lebih tinggi dari target yang ditetapkan Bank Indonesia, sebesar 4 persen year on year (yoy). “Inflasi mengalami tekanan 3,5 -4,5 persen (keseluruhan tahun 2022),” beber Sri Mul.
Proyeksi laju inflasi di tahun ini juga lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi sepanjang 2021 yang hanya 1,87 persen yoy. Meski begitu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorder diharapkan akan mendukung dan menjaga daya beli masyarakat. Supaya inflasi yang terjadi nantinya bisa terjaga.
"Selain itu, sumber pendorong ekonomi seperti konsumsi dan investasi juga akan terus dijaga," tambahnya.
Baca juga : Ekonomi Membaik, Sri Mulyani Masih Belum Plong
Sri Mul bilang, saat ini bank sentral menjadi sumber dan pemain utama yang akan sangat menentukan atau menstabilkan dari sisi harga. Dengan kenaikan inflasi, maka pemerintah perlu meresponsnya dengan strategi kebijakan moneter dan fiskal. Sedangkan dari sisi suplai, menurut bendahara negara ini, permintaan atau demand masyarakat di masa pemulihan ekonomi ini juga berkontribusi pada tekanan inflasi.
"Kita juga memahami walaupun sebagian sangat besar adalah karena sisi suplai yang terdistrupsi, juga karena demand side dengan pemulihan ekonomi memberikan kontribusi. Jadi kita harus balance memberikan kelolanya hari ini dan ke depan," urai dia.
Lebih lanjut, ia memaparkan, hampir seluruh komoditas terutama minyak, gas, dan mineral serta makanan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Bahkan kenaikan harga komoditas itu sebenarnya sudah mulai terjadi sejak awal pandemi Covid-19, yakni tahun 2021. Meskipun ada upaya ekspansi kegiatan ekonomi di sisi manufaktur, menurut Sri Mul, tapi belakangan juga terlihat tanda-tanda stagnasi dari ekspansi tersebut.
Baca juga : Subsidi Energi Dan Perlinsos Naik, Sri Mulyani: Ini Manfaat APBN Buat Rakyat
"Artinya tidak terjadi kenaikan yang terus menerus atau sudah mulai menunjukkan adanya saturasi. Sebab, kenaikan harga-harga komoditas membuat confidence dari masyarakat mengalami tekanan karena adanya inflasi yang tinggi," jelasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya