Dark/Light Mode

Ekonomi Dunia Bergejolak

Sri Mulyani H2C (Harap-harap Cemas)

Sabtu, 2 Juli 2022 06:50 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. (Foto : Dok. Kementerian Keuangan).
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. (Foto : Dok. Kementerian Keuangan).

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang Rusia-Ukraina mem­buat dunia bergejolak. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun dilanda H2C alias harap-harap cemas, dampaknya mengganggu ekonomi Indonesia. Meski begitu, Sri Mul masih pede ekonomi Indonesia akan tetap aman.

Kecemasan Sri Mul disampai­kannya saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, kemarin.

Dalam paparannya, Sri Mul mengatakan, lonjakan harga ko­moditas global yang terjadi saat ini karena disrupsi rantai pasok global serta adanya geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Hal ini turut memengaruhi ekonomi dunia.

Baca juga : Pemilik Senjata Api Bela Diri Wajib Punya Keterampilan Menembak

Dengan kondisi itu, Sri Mul mem­perkirakan, laju inflasi Indonesia tahun ini akan lebih tinggi dari target yang ditetapkan Bank Indonesia, sebesar 4 persen year on year (yoy). “Inflasi mengalami tekanan 3,5 -4,5 persen (ke­seluruhan tahun 2022),” beber Sri Mul.

Proyeksi laju inflasi di tahun ini juga lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi sepanjang 2021 yang hanya 1,87 persen yoy. Meski begitu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorder diharapkan akan mendukung dan menjaga daya beli masyarakat. Supaya inflasi yang terjadi nantinya bisa terjaga.

"Selain itu, sumber pendorong eko­nomi seperti konsumsi dan investasi juga akan terus dijaga," tambahnya.

Baca juga : Ekonomi Membaik, Sri Mulyani Masih Belum Plong

Sri Mul bilang, saat ini bank sentral menjadi sumber dan pemain utama yang akan sangat menentukan atau menstabilkan dari sisi harga. Dengan kenaikan inflasi, maka pemerintah perlu meresponsnya dengan strategi kebijakan moneter dan fiskal. Se­dangkan dari sisi suplai, menurut bendahara negara ini, permintaan atau demand masyarakat di masa pemulihan ekonomi ini juga berkontribusi pada tekanan inflasi.

"Kita juga memahami walaupun se­bagian sangat besar adalah karena sisi suplai yang terdistrupsi, juga karena demand side dengan pemulihan eko­nomi memberikan kontribusi. Jadi kita harus balance memberikan kelolanya hari ini dan ke depan," urai dia.

Lebih lanjut, ia memaparkan, ham­pir seluruh komoditas terutama minyak, gas, dan mineral serta makanan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Bahkan kenaikan harga komoditas itu sebenarnya sudah mulai terjadi sejak awal pandemi Covid-19, yakni tahun 2021. Meskipun ada upaya ekspansi kegiatan ekonomi di sisi manufaktur, menurut Sri Mul, tapi belakangan juga terlihat tanda-tanda stagnasi dari ekspansi tersebut.

Baca juga : Subsidi Energi Dan Perlinsos Naik, Sri Mulyani: Ini Manfaat APBN Buat Rakyat

"Artinya tidak terjadi kenaikan yang terus menerus atau sudah mulai menunjukkan adanya saturasi. Sebab, kenaikan harga-harga komoditas membuat confidence dari masyarakat mengalami tekanan karena adanya inflasi yang tinggi," jelasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.