Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pengamat: Dukungan Jokowi Tak Lantas Dongkrak Elektabilitas Si Capres

Selasa, 26 Juli 2022 16:18 WIB
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah/Ist
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Jokowi Effect dianggap hanya mainan para kelompok pendukung. Pemilih sebenarnya akan memilih capres cawapres yang berkenan untuk mereka. Tokoh masyarakat yang bisa mempengaruhi pilihan rakyat. 

“Presiden Jokowi punya dampak terhadap kelompok-kelompok penggerak pemilih, tetapi tidak ada dampak pada pemilih langsung,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, Selasa (26/7). 

Kelompok penggerak pemilih yang dimaksud misalnya relawan, kelompok yang berkepentingan melakukan propaganda, namun suara pemilih sebenarnya diwakili dalam bentuk survei opini publik. 

“Dalam skema, survei itu melakukan asesmen terhadap preferensi politik responden. Kita bisa memastikan pemilih bukan saja punya hak memilih, mereka memang mengikuti perkembangan politik saat survei itu dilakukan,” jelas Dedi. 

Lembaga survei miliknya, Indonesia Political Opinion, lanjut Dedi, juga menjalankan sejumlah survei opini publik terkait politik. Apapun hasilnya, itu murni pilihan pemilih. 

Berita Terkait : Ganjar Banjir Dukungan Dari Emak-emak Militan Cirebon

“Tidak ada referensi pemilih apa yang diusung Presiden Jokowi, itu yang akan dia pilih, hampir tidak ada. Sehingga pilihan politik, pilihan pada tokoh potensial terusung pada Pilpres 2024. Itu murni tokoh yang disukai responden saat survei dilakukan, termasuk pilihan responden untuk siapa yang dia pilih,” jelas Dedi. 

Kalaupun ada pihak lain yang mempengaruhi pilihan pemilih, umumnya mereka adalah komunitas atau orang yang dekat, misalnya Ketua RT, Ketua Adat dan tokoh masyarakat.

Bahkan, jika Presiden Jokowi terang-terangan menunjuk capres/cawapresnya, tidak akan menimbulkan jokowi effect untuk mendongkrak elektabilitas maupun popularitas si calon. 

"Itu tidak bisa dianggap faktor Jokowi, hanya karena apa yang disarankan Jokowi sudah sesuai dengan pilihan responden.” tandas Dedi. 

Belum Berpihak

Berita Terkait : Penggunaan BBM Subsidi Harus Dikendalikan, Jangan Dikaitkan Dengan Politik Elektabilitas

Pengamat politik Emrus Sihombing menilai wajar dukungan Jokowi terhadap kandidat calon presiden (capres) di Pemilu 2024, tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan elektabilitas calon. 

Hal itu terjadi karena Jokowi tidak menunjukkan keberpihakan pada salah satu nama yang digadang-gadang maju dalam Pilpes 2024.  

Selama Jokowi belum berpihak, maka sulit untuk mengatakan ada atau tidaknya efek Jokowi tersebut.

"Saya kira sangat sederhana. Di situlah menunjukkan Bapak Presiden tidak berpihak pada salah satu calon. Kalau dia berpihak, baru kita mengatakan ada Jokowi effect atau tidak," jelas Emrus.

Emrus menambahkan, Jokowi tidak memberikan suatu dukungan verbal maupun non-verbal, langsung atau tidak langsung pada salah satu bakal calon presiden. Bahkan, terhadap Ganjar Pranowo yang santer disebut-sebut sebagai pengganti Jokowi.

Berita Terkait : Pengamat Sebut Kemunculan KIB Bawa Gairah Perpolitikan Di Indonesia

Meski demikian, Emrus menegaskan Jokowi akan tetap diperhitungkan dalam kontestasi Pilpres 2024 oleh berbagai kekuatan politik.

“Dalam konteks pilpres, Pak Jokowi menurut saya masih dihargai. Mengapa? Karena sampai pelantikan presiden (baru), Jokowi masih presiden kita," sambungnya.

Selain itu, keberhasilan dalam aspek pembangunan menjadikan Jokowi sebagai sosok yang sangat dihargai oleh kekuatan-kekuatan politik di Indonesia. 

“Keberhasilan Jokowi dalam pembangunan di segala aspek. Tidak sekadar pembangunan infrastruktur atau fisik, tapi membangun Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia," pungkasnya.■