Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dosen IPB: Indonesia Swasembada Beras Di Era Mentan Amran

Kamis, 18 Agustus 2022 23:13 WIB
Mantan Mentan Andi Amran Sulaiman panen padi saat masih menjabat di Kabinet Jokowi-JK. (Foto: Istimewa)
Mantan Mentan Andi Amran Sulaiman panen padi saat masih menjabat di Kabinet Jokowi-JK. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Berdasarkan ketetapan organisasi pangan dunia, FAO tahun 1999, suatu negara dikatakan swasembada jika produksinya telah mencapai 90 persen dari kebutuhan nasional.

Artinya Indonesia dalam pemerintahan Jokowi-JK periode pertama 2017 dan 2019 telah berhasil mencapai swasembada beras sewaktu Kementerian Pertanian (Kementan) dikomandoi oleh Andi Amran Sulaiman.

Diketahui, dari data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), swasembada beras telah dicapai sejak tahun 2017 dan sudah tidak impor lagi. Pada tahun 2018, Indonesia tetap surplus beras 2,85 juta ton tapi muncul kebijakan untuk mengimpor beras yang kemudian menimbulkan polemik. Saat itu, Amran Sulaiman menolak keras impor.

Pada tahun 2019 Amran masih menjabat Mentan hingga bulan Oktober, tercatat surplus beras mencapai 2.38 juta sehingga swasembada 2019 merupakan hasil kerja Amran.

Berita Terkait : Ketua MPR: Indonesia Harus Kembangkan Sistem Perekonomian Merdeka

Karena Syahrul Yasin Limpo (SYL) baru menjabat 2 bulan dan 2020, produksi beras menurun berturut-turut hingga surplus 1,97 juta ton dan 2021 surplus 1,33 juta ton.

Produksi beras berdasarkan data BPS akhir-akhir ini juga tidak ada kenaikan signifikan yaitu 2018 sebanyak 33,47 juta ton, 2019 sebanyak 31,3 juta ton, 2020 sebanyak 31,50 juta ton, dan 2021 sebanyak 31, 30 juta ton.

"Kerja keras dan gebrakan swasembada beras yang dicanangkan Amran telah menuai hasil cemarlang di periode kepemimpinannya di Kementan. Kini, Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) bisa menikmati hasil kerja keras tersebut," kata akademisi dan eks Dekan Institut Pertanian Bogor (IPB) Sam Herodian, Kamis (18/8).

Menurutnya, sejak 2017 hingga 2019 tercatat sudah tidak ada lagi impor beras dan Indonesia sudah menikmati swasembada menurut ketetapan FAO. Jadi sangat keliru jika menyebut Indonesia baru mencapai swasembada di era Syahrul Yasin Limpo dan mengulang 36 tahun lalu.

Berita Terkait : Sore Ini Lawan Barito Putera, Bali United Ogah Kebobolan

Dia menambahkan, saat ini tidak bisa lagi mengelabui publik karena ada rekam jejak dan data yang mengungkap dan berbicara.

"Bahkan swasembada era Soeharto pun sebenarnya kita masih ada impor sebesar 10 persen, tapi itu sudah memenuhi ketetapan swasembada FAO," lanjutnya.

Di era Mentan Syahrul Yasin Limpo, produksi beras terus mengalami penurunan di banding era Andi Amran. "Bukan membandingkan tapi begitulah realitasnya. Jadi seharusnya kita tidak menafikkan hasil kerja orang lain. Karena setiap tahapan kerja pastilah berkesinambungan," ujarnya.

Sementara itu, mantan Stafsus Mentan Amran, Sukriansyah S. Latief menandaskan, di zaman Amran tidak pernah terjadi kericuhan terkait mewabahnya penyakit kuku dan mulut (PMK).Memang penyakit itu ada tapi segera tertangani dengan cepat.

Berita Terkait : Sore Ini, Fortes Siap Turun Lawan Persik Kediri

Di era Mentan Andi Amran, tambah Uki, panggilan akrab Sukriansyah, juga tidak pernah terjadi kelangkaan minyak goreng. Setelah Amran tidak menjabat, masalah PMK dan kelangkaan minyak goreng terjadi.

"Walau begitu, Pak Amran senantiasa tidak mau berkomentar terkait Kementan. Itu karena loyalitas penuh Pak Amran terhadap Presiden Jokowi," klaimnya. ■