Dewan Pers

Dark/Light Mode

Puncak Merdeka Berkreasi, PP Hima Persis Gelar Dialog Kebangsaan

Jumat, 2 September 2022 11:05 WIB
Ketua Umum PP Hima Persis Ilham Nurhidayatullah (Foto: Istimewa)
Ketua Umum PP Hima Persis Ilham Nurhidayatullah (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP Hima Persis) menyemarakan semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 dengan menggelar dialog kebangsaan. Kegiatan tersebut merupakan puncak dari kegiatan Merdeka Berkreasi PP Hima Persis dengan tema "Merdeka dari Krisis Ekonomi dan Pangan", yang di selenggarakan pada Rabu (31/8) di Hotel Balirung, Jakarta.

Dalam sambutanya, Ketua Umum PP Hima Persis Ilham Nurhidayatullah mengatakan, pihaknya mengangkat tema yang relevan dengan kondisi saat ini. PP Hima Persis memiliki concern pada persoalan krisis ekonomi dan pangan nasional.

"Saya kira masalah pangan ini menjadi PR kita bersama. Kita tidak bisa shalat dengan khusyuk dan tidak bisa belajar dengan fokus apabila pangan tidak stabil. Artinya, bicara pangan kita bicara hajat hidup kita bersama," ujar Ilham.

Berita Terkait : Gandeng Kimia Farma, Perhutani Gelar Vaksinasi Untuk Penyandang Disabilitas

Ia melajutkan bahwa, gnerasi muda harus membaca kondisi pengan ke depan dengan secara seksama. "Pembacaan pangan ke depan harus senantiasa seksama kita perhatikan. Karena permasalahan gelobal hari ini ialah krisis pangan," ujar Ilham.

Dialog Kebangsan ini turut dihadiri Sekjen Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono serta Ketua Ikatan Alumni Hima Persis (IKA HIMAPI) yang juga anggota Komisi IV DPR Haerudin Amin. 

Dalam keynote speech-nya Kasdi Subagyono mengatakan, IMF dan Bank Dunia telah menyampaikan terkait kondisi perekonomian dunia saat ini dan kedepan. "Tahun depan itu diprediksi, diistilahkan oleh AMF dan Bank Dunia, itu adalah dark significan. Artinya, sangat gelap. Artinya, kondisi ketidakmenentuan itu sangat besar," ujarnya.

Berita Terkait : Pemuda Pancasila Apresiasi Dukungan Dan Kiprah Kebangsaan HNW

Kasdi mengatakan, kondisi tersebut dipicu oleh adanya beberapa persoalan. Yakni pandemi Covid-19 yang belum berakhir, climate change yang semakin ekstream, serta geopolitical tension antara Rusia dan Ukraina. "Bagai mana mengatasi hal itu. Ada tiga strategi. Pertama, kita tetap fokus peningkatan kapasistas produksi. Kedua, pengembangan komoditas subtitusi impor. Ketiga, peningkatan ekspor," ujar Kasdi lagi. 

Dalam prosesi dialog tersebut juga turut mengundang beberapa narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan. Di antaranya Direktur Kesediaan Pangan Badan Pangan Nasional (BPN) Budi Waryanto. Ia memaparkan terkait peran BPN dalam mengawasi kestabilan harga pangan. "Kita ini berada di tengah. Kalau harga naik, didemo masyarakat. Akan tetapi apabila harga terlalu turun, kita juga didemo petani. Jadi, kita harus benar-benar menjaga kestabilan harga ini," ujarnya.

Narasumbe selanjutnya adalah Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudihistira. Ia memaparkan berbagai pandangan kritis terhadap krisis ekonomi dan pangan serta dampak kenaikan harga BBM. "Desil 4 (masyarakat menengah ke bawah) yang berada di tengah itu sebenarnya mereka dalam katagori rentan miskin apabila harga BBM dinaikkan," ujar lulusan Magister Universitas Bradford, Inggris tersebut.

Berita Terkait : Lawan Persis, The Guardian Waspada Kebangkitan Lawan

Narasumber terakhir yakni demisioner Ketua Umum PP Hima Persis Lamlam Pahala. Ia memaparkan kondisi krisis dalam prespektif ke-Islaman dengan mengaitkat kondisi hari ini dengan kisah Nabi Yusuf AS dalam menghadapi krisis pangan.■