Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kanjuruhan Renggut 125 Nyawa

Tragedi Gas Air Mata Jadi Banjir Air Mata

Senin, 3 Oktober 2022 07:46 WIB
Kondisi di Stadiun Kanjuruhan saat tragedi yang menewaskan 125 orang. (Foto: AP Photo/Yudha Prabowo)
Kondisi di Stadiun Kanjuruhan saat tragedi yang menewaskan 125 orang. (Foto: AP Photo/Yudha Prabowo)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabar duka datang dari sepak bola Indonesia. Ratusan orang meninggal dunia, ratusan orang lagi luka-luka. Sampai tadi malam pukul 23.00 WIB, data yang disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, ada 125 orang yang meninggal. Gas air mata yang disemprotkan aparat Polisi ke penonton yang rusuh, diduga jadi salah satu penyebab tragedi itu, terjadi. Tragedi gas air mata pun, berubah menjadi banjir air mata. Innalillah...

Tragedi ini terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10) malam, usai pertandingan Liga 1 yang mempertemukan Arema Malang Vs Persebaya Surabaya. Dalam pertandingan ini, Arema, yang merupakan tuan rumah, kalah dengan skor 2-3 dari Persebaya.

Kekalahan ini membuat para Aremania, sebutan untuk suporter Arema, ngamuk. Mereka tidak terima tim kesayangannya kalah di kandang. Usai peluit akhir pertandingan ditiup wasit, mereka ramai-ramai menyerbu ke tengah lapangan, mencari official dan pemain.

“Mereka kecewa kalah di kandang sendiri. Sebelumnya, selama 23 tahun tak pernah kalah,” kata Kapolda Jatim Nico Afinta, dalam konferensi pers, di Malang, kemarin.

Sikap para suporter ini dianggap membahayakan keselamatan tim Persebaya dan Arema. Petugas lalu berusaha menghalau. Namun, tidak digubris. Suporter yang turun ke lapangan semakin banyak. Dari 42 ribu penonton yang hadir, polisi memperkirakan ada 3 ribu orang yang merangsek ke lapangan. Melihat kondisi ini, petugas lalu menembakkan gas air mata.

Berita Terkait : CEO PSIS: Semoga Tragedi Ini Tak Pernah Terjadi Lagi

Tembakan gas air mata ini membuat para suporter panik. Mereka lalu berdesak-desakan menuju pintu 12 untuk keluar. “Di pintu 12 kemudian ada penumpukan dan di sana (menyebabkan) kekurangan oksigen, sesak napas,” ujar Nico.

Nico mengaku sangat menyesalkan peristiwa itu. "Seandainya suporter mematuhi aturan, peristiwa ini tidak akan terjadi," sesalnya.

Untuk korban meninggal, sampai tadi malam, jumlahnya masih simpang siur. Data dari Dinas Kesehatan Malang menyebutkan, korban meninggal mencapai 180 orang. Sedangkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan, yang meninggal 125 orang. Sementara Kementerian Kesehatan mencatat, ada 131 orang yang meninggal.

Presiden Jokowi langsung merespons peritiwa ini. Kepala Negara menyampaikan duka cita mendalam atas ratusan korban yang meninggal. “Saya telah meminta Menteri Kesehatan dan Gubernur Jawa Timur untuk memonitor khusus pelayanan medis bagi korban yang sedang dirawat di rumah sakit agar mendapatkan pelayanan terbaik,” ucapnya, kemarin.

Jokowi lalu memerintahkan Menpora Zainudin Amali, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepak bola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraannya.

Berita Terkait : Soal Penggunaan Gas Air Mata Di Kanjuruhan, Begini Penjelasan PSSI

“Khusus kepada Kapolri, saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” tegas mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Untuk PSSI, Jokowi memerintahkan menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan. “Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini dan saya berharap ini adalah tragedi terakhir sepak bola di tanah air, jangan sampai ada lagi tragedi kemanusian seperti ini di masa yang akan datang. Sportivitas, rasa kemanusiaan dan rasa persaudaraan bangsa Indonesia harus terus kita jaga bersama,” tutup Jokowi.

Usai perintah itu keluar, Menpora, Kapolri, dan Ketua Umum PSSI langsung terbang ke Malang. Di sana, mereka mendatangi lokasi kejadian, lalu menjenguk korban luka tragedi Kanjuruhan yang dirawat di RSUD Kanjuruhan. Mereka juga sempat takziah ke keluarga korban meninggal.

Menpora menyatakan, tragedi Kanjuruhan sangat memprihatinkan dan mengecewakan. Sebab, di tengah upaya seluruh pihak yang sedang membangun sepak bola nasional, tiba-tiba ternodai dengan kejadian ini.

Menpora dan Kapolri berjanji akan menginvestigasi secara serius tragedi Kanjuruhan ini dan mengusut tuntas penyebab peristiwa yang menewaskan ratusan orang tersebut.

Berita Terkait : Ketum PAN Berduka Atas Tragedi Kanjuruhan, Kecam Penggunaan Gas Air Mata

“Saya berharap, kita harus mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan pertandingan sepak bola, baik kompetisi maupun turnamen, agar tragedi Kanjuruhan ini tidak terulang lagi di masa depan. Kita jadikan tragedi ini sebagai pelajaran berharga yang memilukan kita semua dan harus menjadi yang terakhir,” ucapnya.

Dunia Ikut Berduka
Tragedi ini membuat klub-klub elite dunia ikut berduka. Sebelum memulai pertandingan, tadi malam, laga Liga Inggris dan Liga Spanyol diawali dengan mengheningkan cipta. Ucapan belasungkawa pun berdatangan dari klub-klub Eropa.

Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan duka cita mendalam atas tragedi Kanjuruhan. Dia bilang, ini adalah hari yang gelap bagi semua yang terlibat dalam sepak bola. Sungguh sebuah tragedi di luar pemahaman.

"Dunia sepak bola berduka, menyusul insiden tragis di Indonesia pada akhir pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan," kata Infantino, melalui laman resmi FIFA, kemarin.

“Saya menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga dan kerabat para korban yang kehilangan nyawa setelah insiden tragis ini. Bersama FIFA dan komunitas sepak bola global, kami menyatukan pikiran dan doa untuk para korban, seluruh rakyat Republik Indonesia, Konfederasi Sepak Bola Asia, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, dan Liga Sepak Bola Indonesia, pada saat yang sulit ini," imbuhnya.■