Dewan Pers

Dark/Light Mode

Hati-hati, Angka Kematian Covid RI Terus Nanjak, Lebih Tinggi Dari Korsel Dan Singapura

Rabu, 23 November 2022 07:58 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Direktur WHO Prof. Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian gempa Cianjur, yang telah mengakibatkan lebih dari 200 orang wafat.

Sementara pasien di rumah sakit, masih banyak yang tidur di luar gedung RS, sampai dua hari setelah gempa.

"Tentu akan baik, kalau ada pengaturan perawatan pasien ke berbagai RS lain. Sehingga, semua mendapat pelayanan yang baik. Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, juga bisa diberdayakan. Koordinasi lapangan menjadi kunci utama," kata Prof. Tjandra dalam keterangannya, Rabu (23/11).

Di luar itu, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI ini juga mengingatkan potensi munculnya masalah kesehatan, bagi puluhan ribu pengungsi. Termasuk  bagaimana menangani anak yang demam sehubungan dengan kasus gagal ginjal yang disebut punya kaitan dengan sirup obat penurun panas.

Sementara Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Aceh  juga harus segera diatasi maksimal.

"Sambil semua kerja berjalan, kasus Covid-19 kita juga meningkat. Angka kematiannya amat perlu diwaspadai," ujar Prof. Tjandra.

Berita Terkait : Jadi Bagian Keberhasilan Atasi Covid-19, BNI Raih Anugerah Kemanusiaan

Dia mengingatkan, jumlah kasus Covid RI pada 9 Oktober 2022, masih di bawah 1.000. Persisnya 999 orang. 

Tapi sekarang, kasusnya sudah naik 7,5 kali lipat. Melebihi angka 7.500 pada 22 November kemarin.

Puncak kasus tertinggi kita sebelum ini tercatat dengan angka 6.276, pada 9 Agustus 2022. Setelahnya menurun, dan sekarang naik lagi. Bahkan, sudah lebih tinggi.

"Sudah banyak dibicarakan, jumlah kasus masih akan meningkat. Tetapi, yang perlu jadi perhatian dan membuat kita prihatin adalah angka kematian," papar Prof. Tjandra.

Pada 8 Oktober 2022, angka kematian kita masih di bawah 10 orang. Dengan enam orang yang wafat.

Namun, pada 22 November 2022, kasus meninggal naik lebih dari delapan kali lipat. Menjadi 51 orang.

Berita Terkait : Tingkat Kepercayaan Publik Terhadap Kejaksaan Di Atas KPK Dan Polri

"Ini terjadi pada 7.644 kasus kita. Jadi, perbandingannya cukup tinggi, 51 per 7.644 atau 0,66 persen," jelas Prof. Tjandra. 

Perbandingan seperti itu, imbuhnya, tidak terjadi di negara. lain.

Singapura, misalnya. Dengan puncak kasus 11.934 orang pada 18 Oktober 2022, jumlah kematian tertinggi mentok di angka 5. Secara persentase, hanya 0,04 persen.

Malaysia juga tak begitu tinggi. Dengan puncak kasus 4.621 orang pada 6 November 2022, kasus kematian tertinggi hanya mencapai angka 15 atau 0,32 persen.

"Jelas terlihat, angka persentase kematian Indonesia lebih tinggi," cetus Prof. Tjandra.

Di sisi lain, ada juga negara yang kasusnya jauh lebih banyak dari kita. Tapi, angka kematiannya lebih kecil.

Berita Terkait : Sahabat Sandi Makin Konkret Gelar Bazar Sembako Bagi Warga Jakarta

Korea Selatan (Korsel), misalnya. Dengan puncak kasus 72.873 pada 21 November 2022, atau sekitar sepuluh kali dari RI, angka kematiannya berjumlah 45. Lebih rendah dari kita.

Jepang, pada 16 November 2022 kasusnya 107.702 orang. Hampir 15 kali lebih tinggi dari RI.

Tetapi, jumlah tertinggi yang meninggal, tiga kali lebih rendah dibanding RI. Secara angka, 140 orang. Secara persentase, 0,12 persen. Lebih rendah dari angka kita.

"Jelas, persentase kematian di negara kita lebih tinggi dibanding negara tetangga. Di kita, jumlah yang meninggal sudah lebih 50 orang. Persentasenya, lebih tinggi dari negara tetangga," tandas Prof. Tjandra.

"Padahal kita tahu, XBB ini adalah bagian dari Omicron. Seharusnya tidaklah terlalu berat. Tapi, entah kenapa, di kita menimbulkan angka kematian naik cukup tinggi. Ini harus diantisipasi segera," pungkas mantan Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, serta mantan Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan. ■