Dark/Light Mode

Alia Damar Adiningsih, Mahasiswa Universitas Paramadina

Optimalisasi Produksi Ikan Nelayan Pulau Pagerungan Kecil Gunakan Teknologi Hybrid Renewable Energy

Minggu, 27 November 2022 10:14 WIB
Ikan hasil tangkapan nelayan Pulau Pagerungan Kecil. (Foto: Abdur Rahim)
Ikan hasil tangkapan nelayan Pulau Pagerungan Kecil. (Foto: Abdur Rahim)

Nelayan merupakan mata pencaharian utama bagi masyarakat yang hidup di pinggir pantai atau masyarakat yang hidup di daerah kepulauan kecil atau yang kita kenal sebagai daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Hal itulah yang terjadi di Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat maritim yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Koperasi Nusantara Jaya Abadi merupakan satu-satunya koperasi yang berada di Pulau Pagerungan Kecil. Koperasi ini berfungsi sebagai penampung atau distributor dari para nelayan yang dikelola masyarakat dengan anggota resmi 20 orang.

Nelayan menjual ikan hasil tangkapan mereka ke koperasi tersebut, yang nantinya akan dijual kepada agen yang lebih besar dari Banyuwangi, Surabaya, dan daerah lain. Sehingga para nelayan memiliki jaminan bahwa ikan yang didapatnya bisa terjual langsung. Pendapatan rata-rata bulanan para nelayan adalah sekitar Rp 4juta sampai Rp 5 juta. Hal ini tentunya relatif kecil jika dibandingkan banyaknya dan jenis ikan yang mereka tangkap. 

 

Aktivitas Nelayan Pulau Pagerungan Kecil (Foto: Abdur Rahim)

Menurut keterangan Kepala Koperasi Nusantara Jaya Abadi, koperasi mampu mengumpulkan ikan sebanyak 600-700 kilogram per empat hari, namun hanya mampu menjual kurang lebih 400 kilogram ke agen-agen besar. Sisa ikan yang tidak terjual harus dikeringkan dan dijadikan ikan asin sehingga harga jual semakin menurun. 

Ikan Hasil Tangkapan Nelayan yang Disimpan di Cooling Box (Foto: Abdur Rahim)

Hal ini terjadi karena penyimpanan dan pengawetan ikan masih menggunakan cooling box yang diisi es batu. Sebab, Pulau Pagerungan Kecil belum teraliri listrik selama 24 jam, melainkan hanya 2-4 jam, sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan freezer sebagai tempat penyimpanan ikan. Listrik di Pulau Pagerungan Kecil disuplai dua pembangkit listrik yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Solar (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

PLTS dengan kapasitas 50 KVA dikelola oleh PLN hanya mampu memasok listrik selama empat jam di musim kemarau dan dua jam selama musim penghujan, bergiliran untuk dua dusun dalam satu hari. Sedangkan PLTD dengan kapasitas 350 KVA dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi pemasok listrik utama. Satu jaringan transmisi listrik harus dibagi ke lima rumah dikarenakan hanya tersedia satu KWH meter untuk setiap lima rumah. PLTD hanya mampu memasok listrik selama 4 jam dengan tarif flat Rp 430.000 per bulan, biaya tersebut tentunya sangatlah besar bagi masyarakat Pulau Pagerungan Kecil.

Baca juga : Dukung ASN Cakap Digital, Kemenkominfo & Kemendikbudristek Gelar Training Literasi

Kondisi rumah penduduk ketika malam hari (Foto: Abdur Rahim)

Kelangkaan solar yang disebabkan kenaikan harga dan tingginya tarif PLTD mengakibatkan BUMDes mengalami kerugian, karena banyak masyarakat yang menunggak imbas dari tidak mampu membayar. Sehingga saat ini PLTD harus dimatikan oleh petugas desa dan masyarakat tidak dapat menikmati listrik yang bersumber dari diesel, akibatnya masyarakat setiap hari harus mengalami kondisi gelap tanpa adanya listrik di malam hari. 

Demo masyarakat Pagerungan Kecil nenuntut kemandirian energi listrik berkelanjutan (Foto: Abdur Rahim)

Masyarakat semakin geram karena di tengah eksploitasi pengeboran minyak oleh salah satu perusahaan swasta yang telah dilakukan selama lebih dari 30 tahun di laut dekat Pulau Pagerungan Kecil tidak menurunkan dana CSR untuk mengaliri listrik di sana, melainkan hanya sekadar penyuluhan lingkungan seperti reboisasi dan pengolahan sampah. Bahkan, Pulau Pagerungan Kecil masih dikategorikan sebagai pulau miskin ekstrim. Masyarakat menuntut Pemerintah dan pihak swasta yang telah mengekspoitasi Pulau Pagerungan Kecil untuk memberikan akses listrik yang jauh lebih memadai untuk setiap rumah dan fasilitas umum, seperti Puskesmas, koperasi, dan pasar.

Berdasarkan latar belakang dan masalah yang dihadapi, saya sebagai mahasiswa dan juga praktisi renewable energy dengan background engineering yang saat ini sedang menempuh studi magister manajemen bisnis, berupaya menghadirkan solusi untuk menciptakan sustainable consumption and production di Pulau Pagerungan Kecil. Yaitu dengan menciptakan sistem hybrid PLTB dan PLTS, sehingga Koperasi Nusantara Jaya Abadi bisa mendapatkan akses listrik 24 jam untuk freezer sebagai penyimpanan ikan berkapasitas besar. Juga untuk memenuhi kebutuhan listrik lain seperti penerangan, kipas angin, televisi, dan lain-lain.

Alasan penerapan sistem hybrid dikarenakan kedua sumber pembangkit ini saling melengkapi satu sama lain. Secara teknis, wind turbine bisa berputar 24 jam apabila ada angin yang cukup untuk menggerakkan bilahnya. PLTB (wind turbine) menjadi back up yang sangat bagus untuk PLTS (solar panel), yang ketika malam hari solar panel tidak mendapat sinar matahari sehingga tidak menghasilkan listrik untuk charging ke baterai. Kemudian ketika pagi hingga sore hari solar panel lebih dominan karena intensitas matahari yang tinggi dan dapat terserap sempurna. Inilah yang menjadi landasan bahwa sistem hybrid akan sangat sempurna untuk kemandirian energi listrik dalam rangka meningkatkan penghasilan dan pemberdayaan nelayan di Pulau Pagerungan Kecil.

Teknis sistem hybrid PLTS dan PLTB untuk Kemandirian Listik Koperasi Nusantara Jaya Abadi. (Sumber: Alia Damar A).

Kami juga berinisiasi untuk melakukan pemberdayaan agar masyarakat bisa mengolah ikan-ikan hasil tangkapan untuk dijadikan olahan ikan kemasan yang bisa dijual ke seluruh daerah di Indonesia. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan meliputi penyimpanan ikan, cara pengolahan ikan menjadi berbagai macam olahan dan rasa, sealing and packaging, serta cara melakukan pemasaran online. Keuntungan dari penjualan olahan ikan aneka rasa mencapai hampir 20 kali lipat dibandingkan dengan penjualan ikan yang dikeringkan menjadi ikan asin berkapasitas 200 kilogram ikan per empat hari, dengan perhitungan sederhana seperti yang tertuang pada tabel di bawah ini.

Baca juga : Andika Pantau Keamanan Prajurit Lewat Sistem Digitalisasi

 

Ikan Asin

Olahan Ikan Kemasan

Berat setelah penyusutan (kg)

80

180

Bahan pendukung

Rp 160,000

(40 kg garam)

Rp 15,750,000

Baca juga : TNI AL Hibur Anak-anak Korban Gempa Cianjur Nobar Di Smart Truck

(minyak, gas, bumbu dapur, packaging, dan lain-lain sebesar 30% dari pendapatan kotor)

Harga Jual (Rp)

25,000/kg

35,000/120 gram

Keuntungan (Rp)

1,840,000

36,750,000

Menurut keterangan Ketua Koperasi Nusantara Jaya Abadi, kebutuhan es batu dalam satu hari adalah sekitar 40 balok dengan harga Rp 25.000 per balok. Ketika freezer sudah dapat digunakan untuk penyimpanan ikan, maka koperasi dapat menekan biaya operasional sekitar Rp 30 juta per bulan. Jika sistem ini diterapkan maka peningkatan penghasilan koperasi diperkirakan akan naik Rp 36.750.000 dari pengolahan ikan, serta Rp 30 juta dari operasional pembelian es batu. Sehingga total peningkatan pendapatan adalah Rp 66.750.000 per bulan.

Untuk menjaga dan merawat peralatan renewable energy agar memiliki umur panjang, maka para pihak harus berkomitmen untuk mengalokasikan sekitar setengah dari peningkatan pendapatan untuk keperluan maintenance, juga untuk mengembangkan kapasitas sistem yang lebih besar lagi, sehingga freezer bisa diperbanyak dan semakin banyak lagi masyarakat yang menerima manfaat dari menjual ikan hasil tangkapan mereka ke koperasi.■

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.