Dewan Pers

Dark/Light Mode

Catatan Joko Santoso

Respublica Literaria dan Awal Mula Gerakan Literasi

Minggu, 4 Desember 2022 16:01 WIB
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas Joko Santoso (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas Joko Santoso (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ian F. McNeely dan Lisa Wolverton berusaha memahami pertanyaan bagaimana pengetahuan senantiasa dirawat dan ditumbuhkan, melalui penelusuran sejarah dan menuangkannya dalam karya mereka, Reinventing Knowledge: from Alexandria to the Internet (2011). Karya ini mengemukakan fakta bahwa banyak pengetahuan masa lampau yang masih bertahan hingga kini berkat adanya gerakan literasi.

Kisah kepahlawanan Homer mungkin tak akan pernah kita baca bila tak ada yang tergerak untuk menuliskannya. Tradisi lisan terbukti tidak cukup konsisten dalam merawat dan mengembangan pengetahuan. Hal ini menjadi kesadaran generasi penerus Sokrates dan Plato—kesadaran yang membuka kesempatan pada kita, yang hidup di jaman digital ini, untuk membaca kembali Gilgamesh atau Odyssey, La Galigo atau Wedhatama dalam format multimedia.

Pada konteks peradaban barat, terutama wilayah Eropa pada abad 17-18, gerakan literasi sudah mulai muncul dan meluas. Gerakan ini kemudian disebut Republik Sastra, atau dalam bahasa Latin disebut Respublica Literaria, sementara dalam bahasa Inggris disebut Republic of Letters. Republik tersebut merupakan wilayah imajiner yang dibangun oleh komunitas intelektual. Mereka, para anggota komunitas intelektual itu, saling berhubungan dan berjejaring satu sama lain dalam wilayah yang sangat luas, terbentang dari Eropa Barat sampai perbatasan Rusia, bahkan Asia Minor. Ibukota Republik Sastra boleh jadi Paris, dengan titik-titik sebaran wilayah di kota-kota besar Eropa lainnya, seperti London, Berlin, Dublin, Stockholm, Leipzig, Jenewa, dan banyak kota lainnya.

Penggunaan pertama istilah "Republik Sastra" berasal dari surat yang ditulis oleh Francesco Barbaro yang dikirim ke Poggio Bracciolini pada tahun 1417. Kedua pria ini adalah sarjana dan humanis Renaisans Italia awal. Respublica Literaria, kumpulan cendekiawan dalam lingkaran penulisan surat yang berhubungan dengan gagasan dan karya mereka, namun dalam prosesnya episentrum komunikasi itu terus membesar dan menyebar.

Warga Republik Sastra dikenal sebagai sastrawan. Menjadi sastrawan bukan hanya indikasi bahwa mereka terpelajar, tetapi juga bahwa mereka memiliki pikiran yang ingin tahu dan juga terlibat dengan sastrawan lain. Republic of Letters benar-benar berkembang menjadi jaringan yang kuat di abad ke-17, seiring bangkitnya abad Pencerahan. Abad Pencerahan (Inggris: Age of Enlightenment; Jerman: Aufklärung) adalah gerakan intelektual dan filosofis yang mendominasi Eropa pada abad ke-17-18.

Abad Pencerahan ditandai dengan kemunculan serangkaian gagasan yang berfokus pada nilai kebahagiaan manusia, pencarian pengetahuan yang diperoleh melalui penalaran akal dan observasi dengan panca indra, dan cita-cita ideal seperti kebebasan, kemajuan, toleransi, persaudaraan, pemerintahan konstitusional, dan pemisahan urusan agama dengan negara. Dengan demikian, Respublica literaria adalah penulisan surat dan korespondensi, bukan penerbitan buku atau artikel, yang merupakan inti dari kehidupan intelektual.

Korespondensi dan Jejaring sebelum Internet

 

Berita Terkait : Jokowi Targetkan RI Jadi Raja Baterai Kendaraan Listrik

Jaringan korespondensi antarintelektual menyebabkan tersebar luasnya pemikiran-pemikiran yang sedang berkembang di masa tersebut. Sebagai contoh Marin Mersenne, seorang sahabat pena dari Rene Descartes, filsuf Prancis, mempunyai jaringan sebanyak 700 orang. Selama hidupnya mereka saling surat-menyurat mengenai ilmu yang sedang berkembang. Voltaire, termasuk salah satu tokoh Republik Sastra paling terkenal abad ke-18. Pada tahun 1828, surat-surat Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau kirimkan kepada Charles-Joseph Panckoucke, editor 'Encyclopédie méthodique', diterbitkan. Surat-surat Voltaire dan Rousseau menceritakan tentang berita di dunia penerbitan, kehidupan intelektual, dan proyek untuk menerbitkan suplemen 'Encyclopédie', seperti yang disarankan oleh Denis Diderot. Surat-surat ini juga menunjukkan persahabatan yang dirasakan masing-masing filsuf terhadap editornya. Republik Sastra memungkinkan difusi pemikiran dan menciptakan kesatuan budaya yang mengarah pada pengetahuan, mengatasi batas-batas teritorial dan kebangsaan.

Filsuf Prancis yang lain, Montesquieu menulis sebuah buku pada tahun 1721 berjudul Surat-surat Persia. Di dalamnya, dia mencemooh masyarakat Prancis dengan melihatnya melalui mata dua pengunjung Persia ke Paris. Dalam buku tersebut, salah satu tokoh yang merupakan astronom mengatakan, “Saya memiliki sedikit kontak dengan orang, dan di antara mereka yang saya lihat, tidak ada yang saya kenal. Tetapi ada seorang pria di Stockholm, satu lagi di Leipzig, dan satu lagi di London, yang belum pernah saya lihat, dan pasti tidak akan pernah saya lihat, sehingga saya mempertahankan korespondensi yang teratur, sehingga saya tidak pernah gagal untuk menulisnya masing-masing dengan setiap surat.”

Di Nusantara, jaringan surat-menyurat antaintelektual ini berkait dengan kisah Alfred Wallace. Ia mengirim tulisan tentang evolusi dari bumi Nusantara, tempat ia melakukan penelitian alam, kepada Charles Darwin di Inggris. Korespondensi di antara mereka menyadarkan Darwin bahwa ia harus bergegas menerbitkan teorinya tentang evolusi. Darwin menerbitkan teori evolusi dengan bukti kuat dalam buku terbitan tahun 1859, On the Origin of Species, mengatasi penolakan ilmiah dari konsep awal transmutasi spesies. Surat-menyurat di antara mereka telah mendorong pertumbuhan pengetahuan. Respublica Literaria dalam hal ini menjadi komunitas pembelajar internasional, yang dirajut bersama para ilmuwan melalui surat-surat yang ditulis dengan tangan dan dikirim melalui jasa pos, lalu kemudian diterbitkan dalam buku-buku atau jurnal-jurnal tercetak.

Mendahului Darwin dan Wallace, Copernicus, Newton, Descartes, serta raksasa-raksasa Abad Pertengahan bertukar pikir dengan sejawat mereka melalui korespondensi. Keampuhan model komunikasi ilmiah dalam mengatasi pergolakan antarkepentingan ditunjukkan oleh pertukaran pengetahuan di antara mereka, mampu menembus wilayah geopolitik, etnis, kekuasaan, agama dan sekat-sekat lainnya.

Legitimasi Respublica Literaria ini dibangun berdasarkan produksi pengetahuan yang baru. Peran korespondensi dalam pengembangan ‘disiplin ilmu’ sama pentingnya dengan laboratorium. Lembaga-lembaga ini telah menjaga pengetahuan sepanjang masa dengan menjadi penengah atau penyambung lidah antara para ilmuwan dan masyarakat luas. Termasuk dalam hal ini, setiap lembaga yang baru mendefinisikan ulang praktik-praktik pengetahuan lama. Kalangan aktivis di Republic of Letters menjauhi universitas yang telah dibuat bangkrut secara intelektual oleh konflik agama. Mereka memanfaatkan korespondensi jarak jauh untuk mengesahkan penemuan-penemuan baru itu.

Hasil riset terhadap banyak surat dari para intelektual terkemuka yang selamat, pernah dilakukan oleh tim dari Universitas Stanford, dengan membuat database dari semua surat yang disimpan oleh Universitas Oxford. Mereka memiliki 55.000 surat dari 6.400 penulis. Mereka kemudian memvisualisasikan data tersebut di peta sehingga kita dapat melihat dengan tepat siapa yang menulis kepada siapa, di mana, dan kapan. Apa yang mereka temukan adalah bahwa Republic of Letters benar-benar merupakan sambungan dari jaringan yang lebih kecil, kebanyakan jaringan nasional. Dengan cara yang sangat aneh, jaringan penulisan surat pribadi di abad Pencerahan ini sangat mencerminkan topologi internet saat ini.

Mesin Cetak dan Obrolan di Kedai Kopi

Namun, harus diakui hubungan sosial di antara intelektual dalam republik tersebut bisa terjalin karena beberapa kondisi dan penyebab sebagai berikut.

Berita Terkait : Kereta Cepat Membangun Sejarah dan Peradaban

Pertama, sesudah penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1450, gerakan literasi di Eropa dimulai. Gutenberg merupakan seorang pandai emas yang mengembangkan mesin cetak buku dari mesin press anggur atau wine. Sebelum Gutenberg menciptakan mesin untuk mencetak buku secara cepat, para intelektual biasanya menulis buku dan menduplikatnya dengan cara ditulis ulang. Jika tidak ditulis oleh dirinya maka pada zaman itu ada seorang yang bekerja untuk menuliskan ulang naskah. Kekurangan dari proses tersebut tentu makan waktu. Ketika mesin cetak ini sudah dipakai maka munculah revolusi besar-besaran dalam dunia perbukuaan di Eropa. Buku jadi lebih mudah didapat dengan ongkos yang lebih murah.

Penemuan mesin cetak mampu merevolusi denyut kehidupan yang tadinya begitu lamban selama berabad-abad, menjadi amat dinamis. Kehadiran percetakan itu dalam perjalannya juga memunculkan cara baru orang berkomunikasi, dari komunikasi lisan dan tatap muka, menjadi komunikasi massa dengan medianya buku dan surat kabar. Di sisi lain kedahiran buku membawa dampak yang begitu besar bagi masyarakat, utamanya dalam perubahan sosial dan kemajuan peradaban. Di kemudian hari, peningkatan pesat dalam produksi dan transformasi pengetahuan bertambah, setelah penemuan mesin ketik secara komersial oleh Christopher Latham Sholes, Carlos Glidden dan Samuel W. Soule pada tahun 1867.

Kedua, kedai kopi sebagai tempat transaksi intelektual. Adanya gelombang kolonisasi orang Eropa ke belahan dunia lain seperti Amerika dan Asia, menyebabkan orang-orang pada masa itu saling bertemu dalam satu bahasan komoditas unik seperti the, kopi dan lada. Republic of letters juga terbangun dari kedai-kedai kopi, ketika kedai tersebut berisi orang-orang dari berbagai wilayah, bukan hanya Eropa, untuk saling bertukar ide dan pengetahuan. Buku The Cambridge History of Science: Volume 3, berisi tulisan sejarawan sains, salah satunya Adrian Johns. Dalam tulisanya berjudul Coffee Houses and Print Shop menjelaskan bahwa cafe dan rumah percetakan berpengaruh besar terhadap republik literasi. Coffee shop menjadi tempat upaya intelektual mulai dari filsafat alam, seperti temuan terbaru mengenai jenis tumbuhan atau hewan. Di dalam cafe terjadi saling tukar menukar informasi, berdebat mengenai ilmu pengetahuan, bahkan tak jarang diwarnai baku hantam.

Minum kopi diyakini sebagian orang dapat membuat lebih berkonsentrasi. Sejumlah penulis dunia bahkan minum kopi secara ekstrim tatkala menulis. Novelis Perancis, Honore de Balzac misalnya, yang dianggap sebagai salah seorang pelopor realisme pada literatur Eropa, dengan magnum opus La Comédie Humaine, selalu menghabiskan sekitar 50 cangkir kopi tiap hari untuk bisa terus menulis. Sejumlah pendapat mengungkapkan, Balzac hampir tidak pernah tidur saat sedang menulis berbagai karyanya. Tak hanya Balzac, penulis lain dengan kebiasaan minum kopi dalam jumlah besar adalah Voltaire. Ia biasa minum kopi sebanyak 40 cangkir dalam sehari.

Kedai kopi memiliki keunggulan kita dapat datang dan pergi kapan pun suka, tidak memerlukan undangan untuk masuk ke dalamnya. Orang-orang pergi ke kedai kopi untuk mendengar berita terbaru dan mendiskusikan peristiwa terkini. Banyak surat kabar awal benar-benar memulai di kedai kopi. Kedai kopi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pub, karena kurangnya alkohol cenderung menghasilkan percakapan yang lebih baik, dan tentu saja, lebih sedikit pertengkaran. Mereka sering memiliki asosiasi atau setidaknya dekat dengan universitas. Contohnya, kedai kopi pertama di Inggris dibuka pada tahun 1650 di Oxford. Di kota-kota seperti London, beberapa orang, yang disebut pelari, akan lari dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya dengan berita terbaru.

Ketiga, perpustakaan. Lembaga-lembaga perpustakaan telah berjasa besar dalam menjaga agar himpunan karya dan pengetahuan selama ratusan abad tidak lenyap dari ingatan kolektif masyarakat. Kehadiran Internet, dengan segala kedigdayaannya, menopang keberlanjutan pengalihan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lebih dari Republic of Letters, Perpustakaan membuka peluang yang lebih leluasa bagi mereka yang mengaksesnya untuk mereguk informasi dan pengetahuan. Perpustakaan dapat dilihat sebagai jalan untuk menghasilkan pengetahuan baru, layaknya laboratorium, bukan sekedar metode dalam menyajikan informasi dan pengetahuan.

Ilmuwan, rohaniwan, bangsawan dan kalangan terdidik menghimpun seluruh pengetahuan tertulis di dalam institusi bernama perpustakaan. Perpustakaan bukan sekedar gedung, melainkan institusi yang di dalamnya pengetahuan dihimpun, diorganisasikan, dirawat dan dilayankan. Perpustakaan dibangun atas dasar keyakinan bahwa menulis merupakan cara terbaik untuk mengorganisasi pengetahuan dan memastikan dapat ditransformasikan melampaui ruang dan waktu. Misalnya, perpustakaan Wells Cathedral di Inggris, merupakan perpustakaan yang telah ada sebelum 1800. Mengoleksi buku dari abad Ie 16, 17 dan 18 yang membahas teologi, ilmu pengetahuan, kesehatan, sejarah dan biologi.

Pada abad ke-17 sampai 18 penghimpunan buku di berbagai wilayah semakin meluas. Motifnya kadang-kadang adalah pamer belaka, tetapi lebih sering karena kecintaan yang tulus pada ilmu pengetahuan. Di seluruh Eropa dan di Amerika Utara, beberapa koleksi pribadi yang bagus dikumpulkan, banyak di antaranya akhirnya menjadi inti dari perpustakaan nasional dan negara bagian yang besar saat ini — karena masa ini merupakan periode yang menentukan pembentukan koleksi nasional perpustakaan dan universitas yang baru didirikan.

Berita Terkait : Yandri Susanto: Taufik Kurniawan Tak Kenal Lelah Besarkan PAN

Selain itu, terdapat perkembangan lain. Di Inggris telah didirikan sejumlah perpustakaan paroki, melekat pada gereja dan terutama ditujukan untuk penggunaan pada kalangan rohaniwan. Koleksi perpustakaan kadang-kadang merupakan hasil sumbangan awam. Misalnya, seorang pedagang asal Manchester, Humphrey Chetham, meninggalkan uang pada tahun 1653 untuk pendirian perpustakaan paroki di Bolton dan Manchester. Belakangan, pada abad ke-18, terutama di Inggris (walaupun juga di tempat lain di Eropa) dan Amerika Serikat, ada perubahan besar pada perpustakaan, yang semula bersifat entropis kemudian bergeser pada akses, dengan dibukanya sirkulasi dan keanggotaan bagi masyarakat. Perpustakaan menyediakan layanan referensi dan meminjamkan koleksi untuk anggota mereka. Sejak itu, perpustakaan memiliki banyak pengaruh pada pembentukan ide, pandangan dan pengetahuan masyarakat.

Berdasarkan sumber sekunder dari Belanda, perpustakaan paling awal berdiri di Hindia Belanda pada masa VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Perpustakaan berada pada sebuah Gereja di Batavia. Perpustakaan Gereja Batavia ini dirintis sejak tahun 1624. Karena berbagai kesulitan, usaha tersebut baru diresmikan pada 27 April 1643, dengan penunjukan pendeta Dominus Abraham Fierenius sebagai pustakawannya. Pada masa itu, perpustakaan Gereja Batavia meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit di Batavia, bahkan peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana di Jawa bagian tengah (Sulistyo-Basuki, 1991).

Berkat pesatnya pertumbuhan penerbitan buku, kemudian ada upaya penghimpunan koleksi buku dalam sebuah tempat dinamai perpustakaan. Namun penghimpunan koleksi buku dalam satu tempat bernama perpustakaan saja tidak cukup. Kebutuhan lain yang tak kalah pentingnya ialah temu kembali informasi. Untuk itu dibutuhkan alat kendali bernama katalog. Namun, sesungguhnya perkembangan katalog dimulai pada zaman Alexandria yang memiliki susunan alfabetik menurut nama pengarang dan disertai biografi setiap pengarang. Selanjutnya pada tahun 1605 Thomas James pertama kali menemukan katalog buku atau tercetak dengan susunan klasifikasi. Pada akhir abad 19, berbagai macam kode katalog telah dirancang, kemudian pola susunan katalog tersebut disempurnakan dengan penambahan tajuk subjek, entri utama, klasifikasi, entri utama, entri tambahan dan bibliografi yang cukup lengkap. Setelah itu muncul katalog kartu yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1743 oleh Abbi Rosier di Prancis.

Republic of Letters diyakini telah mati pada pertengahan abad ke-19. Hal itu terjadi karena banyak perubahan sosial dan teknis yang berbeda. Munculnya telegraf dan peningkatan transportasi seperti kereta api dan kapal bertenaga uap membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Percetakan menjadi lebih baik dan lebih murah yang memungkinkan berita dan opini tersebar lebih luas dan cepat. Selain itu, sistem penerbitan dan penelitian akademik yang lebih formal, ditambah kompleksitas topik yang meningkat, membawa banyak diskusi ilmiah sepenuhnya di bawah payung universitas.

Namun, nyatanya praktik gerakan literasi terus berkembang hingga saat ini. Praktik gerakan literasi ini terus digerakkan dan disambut oleh berbagai kalangan. Peran ilmuwan, cendekiawan, sastrawan, pustakawan berkelindan dengan berbagai profesi lain dari kalangan pendidikan, kerohanian dan pegiat. Tidak diragukan lagi, banyak pemikiran hebat dan inovatif dari masa ke masa apinya terus terjaga. Dalam ekosistem literasi itu ada pertukaran ide yang terjadi yang mengarah pada banyak kemajuan ilmiah dan sosial berkat dukungan teknologi internet. Misalnya, komunikasi ilmiah dalam open journal system, indeksasi artikel ilmiah, webometric sitiran, repositori institusi, e-journal, e-book dan perpustakaan digital. Perkembangan itu, meneruskan semangat yang sama dalam pertukaran pemikiran selama beberapa abad lalu oleh warga Respublica Literaria.

Di Indonesia semangat gerakan literasi ini tercermin dari 164.610 perpustakaan, yang diakui sebagai terbanyak kedua dunia oleh IFLA (International Federation Library Association and Institution), gerakan literasi berbasis kemasyarakat yang dimotori oleh Pustaka Bergerak Indonesia dengan 2.878 simpul Pustaka di seluruh pelosok wilayah tanah air, serta 6.408 taman bacaan masyarakat, kafe baca atau kafe literasi yang dikelola komunitas pegiat literasi di berbagai kota hingga desa. Kini literasi bukan hanya soal tulis-menulis. Secara kontekstual literasi lebih dekat dengan aktivitas mengasah budi-pekerti, kognisi dan kapabilitas individu. Gerakan literasi Indonesia telah menjadi Cultural Refinement, membuat seseorang mampu mengambil sikap dan tindakan atas apa yang terjadi dalam diri dan lingkungannya, berdasarkan apa yang dibaca, didengar, dilihat, diketahui, dialami, dipikirkan dan dilakukan secara multimodal. Salam literasi untuk kesejahteraan…!■

Joko Santoso, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas