Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tips Atasi Serangan Siber Yang Makin Luas

Senin, 5 Desember 2022 20:04 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi memengaruhi banyak aspek kehidupan dari interaksi sosial, transaksi belanja, pendidikan, dan lain-lain.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebutkan sejak Januari hingga medio Oktober 2022, anomali trafik atau serangan siber yang masuk ke Indonesia mencapai 891,56 juta kali. Serangan ini didominasi oleh serangan infeksi malware, lalu diikuti kebocoran data.

“Banyaknya infeksi malware di Indonesia disebabkan oleh penggunaan aplikasi dan layanan bajakan yang telah terinfeksi oleh malware,” ujar Dr Sulistyo, pemerhati keamanan siber.

Infeksi malware tersebut, ia menambahkan, yang dapat menyebabkan pencurian data pribadi sehingga berpotensi membahayakan masyarakat.

Berita Terkait : Dua Singa Saling Gigit

Sulistyo menyampaikan hal itu dalam webinar CyberCorner bertajuk “Permukaan Serangan Siber Semakin Luas, Bagaimana Antisipasi?” yang diadakan secara virtual pada Sabtu (3 /12) oleh Institut Kesehatan Indonesia (IKI), BEM Fakultas Hukum Universitas Malahayati, dan media online Cyberthreat.id yang didukung oleh PT Bank Negara Indonesia (BNI).

Hadir pula sebagai pembicara AVP Information Security BNI Bobby Pratama, Ketua Pengwil APJII DKI Jakarta Tedi Supardi Muslih, dan Akademisi hukum Nurlis Effendi. Dalam acara yang digelar melalui Zoom Meeting tersebut hadir sekitar 200 peserta dari berbagai kampus.

Sulistyo menghimbau kepada masyarakat untuk selalu teliti sebelum menggunakan aplikasi dan layanan daring. Pastikan untuk selalu mengunduh layanan dari sumber resmi serta membaca syarat dan ketentuan sebelum menggunakannya.

“Jangan malas untuk membaca syarat dan ketentuannya karena secara tidak langsung kita menyetujui untuk memberikan data kita secara secara sukarela,” tutur Sulistyo.

Berita Terkait : Tolak, LGBT Bertentangan Dengan Pancasila

Sementara itu, AVP Information Security BNI Bobby Pratama juga menyebut tentang pentingnya perangkat dan perangkat lunak resmi.

BNI menerapkan aturan bahwa layanan seperti m-banking tidak akan bisa berjalan pada perangkat seluler (ponsel) yang telah di-jailbreak. Sebab, menurutnya ponsel yang telah dirusak dari versi pabrikan akan rentan terhadap serangan siber, seperti infeksi malware dan pencurian data pribadi.

Oleh karenanya, ia menyarankan agar nasabah lebih baik menginstal dari sumber-sumber resmi seperti Google Play Store atau App Store.

Sebagai industri perbankan yang banyak ditarget dalam serangan siber, BNI menyadari bahwa keamanan sistem informasinya sangat utama.

Berita Terkait : Peringati HBT ke-72, Gus Halim Serahkan Sejumlah Penghargaan dan Bantuan

Oleh karenanya, kata dia, secara umum BNI telah menerapkan tiga pilar untuk mencegah terjadinya kejahatan siber yaitu orang, proses, dan teknologi.
 Selanjutnya