Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dukung Visi Jangka Panjang Erick Thohir
Guru Besar Olahraga UNM Nilai Pembatasan Pemain Naturalisasi Tidak Diskriminatif
Sabtu, 11 Maret 2023 15:02 WIB
Sebelumnya
Winarno menyatakab, pemain naturalisasi hanya dibutuhkan dalam waktu jangka waktu tertentu yang relatif lebih pendek untuk mendongkrak atmosfer kompetisi.
"Naturalisasi diperlukan dalam jangka waktu tertentu 5-10 untuk mendongkrak atmosfer kompetisi Liga 1 dan 2 menjadi lebih menari, lebih sehat, lebih kompetitif, dan memunculkan budaya baru di persepakbolaan nasional untuk memunculkan para pemain terbaik,” urainya.
“Jika liga sepak bola sudah seperti Jepang, Korea, dan liga-liga di Eropa, rasanya itulah batas akhir naturalisasi di persepakbolaan nasional,” sambung Winarno.
Baca juga : Santri Dukung Ganjar Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Untuk Majelis Taklim
Lebih lanjut, Winarno mengatakan, jika kebijakan pembatasan pemain naturalisasi konsisten diterapkan, maka akan memberikan kesempatan besar kepada para pemain muda untuk terus mengasah kemampuannya dalam sebuah kompetisi yang sehat.
“Jika kebijakan Ketua PSSI dijalankan, maka akan membuat atmosfer baru dan memberikan ruang yang lebih luas bagi pemain sepak bola muda kita untuk berkompetisi. Kebijakan tersebut akan memberi kesempatan pemain nasional untuk banyak mengikuti kompetisi,” terang Winarno.
Sebelumnya, wacana pembatasan pemain naturalisasi di tiap klub Liga 1 muncul ke permukaan dalam Sarasehan Sepak Bola Nasional. Ketika wacana itu muncul, sejumlah pemain naturalisasi pun menyuarakan protes mereka.
Baca juga : Guru Besar UNS Surakarta Usul Seleksi Calon Pejabat Diperketat
Menanggapi hal tersebut, Erick Thohir menekankan bahwa tidak ada diskriminasi dalam wacana tersebut. Erick menilai, masih banyak slot tempat pemain naturalisasi bermain.
Erick Thohir menegaskan tidak pernah terbesit untuk mendiskriminasi para pemain naturalisasi yang merumput di Indonesia.
“Saya rasa tidak ada diskriminasi. Kalau klub mengukurkan naturalisasi untuk jalan singkat prestasi, itu yang kita harus atur,” ucapnya.
Baca juga : Perindo: Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional Tidak Boleh Diskriminatif
Erick yang juga menteri BUMN itu menyampaikan bahwa rencana itu sejatinya berguna untuk menemukan keseimbangan dalam membangun sepak bola Indonesia.
“Ini bukan masalah diskriminasi, saya tidak pernah diskriminasi, saya IOC member tidak mungkin saya mendiskriminasi,” tutur dia.
“Ini aturan yang semua harus kita mainkan untuk keseimbangan. Makanya, kemarin di sarasehan Liga 2 dan Liga 1, itu klub-klub bersepakat. Bukan PSSI menginstruksikan, bukan. Itu klub-klub bersepakat,” tandas Erick. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya