Dark/Light Mode

Membedah Pemikiran Kebangsaan Cak Nur

Rabu, 17 Juli 2024 17:00 WIB
Putut Widjanarko. (Foto: Ist)
Putut Widjanarko. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemikiran Cak Nur dalam buku Indonesia Kita cetakan kedua tetap dianggap sebagai inti dari pergulatan dari gagasannya. Tulisan dalam buku tersebut, meng-capture seluruh pemikiran Cak Nur.

Dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1985 tersebut, Cak Nur menyebutkan, pada saat ini bangsa Indonesia telah tumbuh sebagai nation, modal nasionalitas adalah keutuhan wilayah, konstitusi dan falsafah negara, pengalaman pembangunan ekonomi secara sistematis.

Hal ini disampaikan oleh Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Putut Widjanarko, Ph.D, pada diskusi terbatas edisi ke-10, yang diadakan oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) bekerja sama dengan Yayasan Persada Hati. Diskusi ini mengangkat topik “Indonesia Kita dan Platform Kebangsaan Cak Nur” pada Rabu (17/7/2024).

Baca juga : APOLIN Apresiasi Perpanjangan Kebijakan Gas Murah

Menurutnya, Cak Nur menganggap kita ini kedaerahan yang dianggap sukuisme yang dinasionalisasikan. Maka Cak Nur dalam hal ini lebih mendekati atau dekat dengan suku jawa.

Islam dalam Indonesia, menurut Cak Nur, adalah harta berharga. Istilah dari Cak Nur adalah milik nasional dari Indonesia adalah keislaman. Pengaruh Islam di barat berdasarkan pada pengaruh teologi dan sains tetapi di Asia Tenggara adalah bidang-bidang kemasyarakatan, hukum dan politik. Tetapi, Cak Nur tidak setuju dengan adanya negara Islam.

Indonesia sebagai bangsa tidak lagi dibentuk oleh Belanda, tetapi hanya wilayahnya saja Hindia Belanda. Bahwa sebelum kedatangan kekuasaan kolonial, Asia Tenggara disebut sebagai emis versi Islam.

Baca juga : Gibran: Kaesang Jangan Di Jakarta

“Kata ‘Indonesia’ melambangkan cita-cita tanah air ke depannya. Pada tahun 31 nama Indonesia memberikan semangat bagi Indonesia, wilayah nusantara merupakan wilayah bawah angin,” kata Putut.

“Ketika munculnya mahasiswa Indonesia tahun 1928 muncul, merasa satu bangsa dengan orang yang datang dari Celebes atau Sulawesi hingga Ambon. Tetapi orang melayu Malaysia yang dijajah oleh Inggris merasa beda bangsa,” tambahnya.

Sifat kolonialisme Inggris dengan Belanda berbeda cara. Dalam hal ini, kolonial Inggris sangat kuat, hingga Bahasa Inggris digunakan di mana-mana hingga saat ini.

Baca juga : Pemberhentian Dekan FK Unair

“Perlawanan Indonesia cukup unik, pertemuan nasional pemuda, Hatta dan lain sebagainya dipertemukan di Jakarta atau Batavia. Ditambah saat Syarikat dagang Islam atau SDI Ketika berubah nama menjadi Syarikat Islam atau SI di mana pergerakan nasionalnya lebih modern,” tutur Putut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.