Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam beberapa hari terakhir ini ramai dibicarakan tentang pemberhentian Dekan FK Unair oleh Rektor, yang kemudian memancing banyak sekali komentar. Untuk ini ada tiga hal yang ingin saya sampaikan.
Pertama, saya sudah sejak lama beberapa kali berkomunikasi dengan Prof Budi Santoso, Dekan FK Unair yang diberhentikan mendadak ini. Saya punya tiga kesan terhadap beliau, pertama amat mumpuni dan berprestasi dalam tugasnya sebagai Dekan FK Unair, dan juga sebagai Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI).
Kedua, Prof Budi Santoso mampu menyajikan analisa yang dalam, tajam dan comprehensive terhadap masalah yang dihadapi dunia kedokteran Indonesia sekarang ini.
Baca juga : Mahfud Risau Keberanian Berantas Korupsi Menurun Drastis
Ketiga, Prof Bus merupakan pribadi yang santun. Ketiga hal ini tentu setidaknya memberi gambaran bahwa pemberhentian tiba-tiba Prof Bus sebagai Dekan benar-benar nampaknya memang tidak patut terjadi.
Kedua, sebagai insan akademik maka saya sangat setuju dengan prinsip kebebasan mimbar akademik, dan sudah melakukannya sejak saya jadi mahasiswa dan pimpinan Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di akhir 1970an, sudah lama sekali ya, sampai sekarang menjadi Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Saya sangat sejalan dan amat mengapresiasi dari pernyataan Kemendikbudristek terkait Pencopotan Dekan FK Unair yang saya baca dari media massa yang menyebutkan “Kemdikbudristek telah berkomunikasi dengan Rektor Unair untuk mengingatkan kewajiban menjunjung tinggi kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik civitas akademika Unair.” Aspek kebebasan mimbar akademik ini juga menunjukkan bahwa Prof Bus tidak selayaknya diberhentikan berdasar apa yang disampaikannya.
Baca juga : Menag: Fase Pemberangkatan Jemaah Berjalan Lancar
Ketiga, walaupun tidak ada penjelasan resmi tentang sebab pasti diberhentikannya Prof Budi Santoso maka banyak pihak yang menghubungkannya dengan pernyataan Prof Bus tentang dokter asing. Khusus tentang dokter asing ini, sudah banyak pendapat yang diberikan. Kalau diambil ilustrasi bahwa ada sejumlah Puskesmas dinegara kita tidak ada dokternya, maka apakah dokter asing akan didatangkan untuk mengisi Puskesmas-Puskesmas itu, dengan sarana dan prasana yang ada serta perlakuan yang sama yang seperti diberikan ke Dokter Puskesmas WNI.
Hal yang sama juga berlaku untuk ketersediaan dokter spesialis, apakah dokter asing akan ditempatkan di daerah-daerah yang belum ada dokter spesialisnya di berbagai daerah dan si dokter asing akan berhadapan dengan sarana dan prasana yang ada serta perlakuan yang sama yang seperti diberikan ke Dokter Spesialis WNI.
Belum lagi tentang kemampuan bahasa Indonesia dokter asing itu, dll. Kalau disebutkan ini bagian dari “transfer of knowledge” maka sudah sejak puluhan tahun yang lalu selalu berbagai Fakultas Kedokteran kita bekerjasama dengan Universitas luar negeri, ada dokter luar negeri yang memberi ceramah, kuliah dan pelatihan ke dokter dan mahasiswa kita, dan ada juga dokter kita yang diminta memberi ceramah, kuliah dan memberi pelatihan di luar negeri.
Baca juga : Demokrasi Dan Pendidikan
Kalau disebutkan bahwa ada kebutuhan kemampuan dokter spesialis di luar Jawa misalnya, sehingga perlu mendatangkan dokter yang membedah dari luar negeri, maka tentu ada berbagai pilihan jalan keluar, baik dengan mendatangkan saja dokter dari daerah lain di Indonesia untuk melakukan pembedahan itu, atau melatih dokter setempat oleh dokter-dokter lain didalam negeri, atau berbagai pendekatan lainnya.
Semoga Prof Budi Santoso mendapat perlakuan yang adil, baik dan memberi manfaat maksimal dalam kinerja dan karya Prof Bus bagi kesehatan anak negeri kita.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya