Dark/Light Mode

Boleh Kritik Asal Membangun Bangsa

Naik Perahu PrabowoAgar Tak Terombang-Ambing

Jumat, 16 Agustus 2024 10:49 WIB
Gunawan Sumodiningrat (batik cokelat) potong tumpeng ulang tahunnya yang ke-74, ditemani B. Wiwoho dan Parni Hadi.
Gunawan Sumodiningrat (batik cokelat) potong tumpeng ulang tahunnya yang ke-74, ditemani B. Wiwoho dan Parni Hadi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Konsep pembangunan nasional sudah berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 di tiap pemerintahan, termasuk kabinet Presiden Terpilih Prabowo Subianto mendatang. Tinggal bagaimana caranya bisa dipahami dan dilaksanakan agar bermanfaat bagi rakyat. Pandangan itu mengemuka saat launching dan bedah buku revisi trilogi "Tonggak-Tonggak Orde Baru" karya wartawan senior B. Wiwoho, di Jakarta. 

Acara yang didukung IKAL-Lemhannas KSA X dan Grha Sembada Insani itu dihadiri banyak tokoh. Yakni; Gunawan Sumodiningrat (Guru Besar Ekonomi UGM), Parni Hadi (wartawan senior), Hariman Siregar (tokoh aktivis), Haris Rusly Moti (Komandan TKN Relawan Prabowo-Gibran), Ade Supendi (Eks KASAL/Ketua Dewan Penasehat FKA ESQ), Imam Sufaat (Eks KASAU), Martiono Hadianto (Eks Dirut Pertamina), Djoko Moeljono (Eks Dirjen Perdagangan), Soehardjo (Eks Dirjen Bea Cukai), Luluk Sumiarso (Eks Dirjen Migas), Prijanto (Eks Wagub DKI Jakarta), Iskandar Zulkarnain (Ketua Yayasan GSI), Guntur S Mahardika (Ketua Intani) dan Tri Agung Kristanto (Wakil Pemimpin Umum Kompas).

Menurut Gunawan, buku B. Wiwoho sangat menarik karena mengupas sejarah. Mulai dari masa peralihan orde lama ke orde baru, strategi pembangunan, program dan gangguan Kabinet Pembangunan hingga revolusi perpajakan. Dari situ terlihat, ideologi Pancasila Sebagai Jati Diri Bangsa sudah lama mewarnai proses pembangunan. Dengan segala kekurangannya, tinggal diperbaiki dan diteruskan saja. 

"Buat apa kembali ke UUD 1945? Kita sudah melaksanakannya kok. Silakan kritik pemerintah, asal ikut membangun bangsa. Saran saya, naik perahunya Prabowo. Agar tak terombang-ambing dan bisa merasakan langsung serta menilai proses pembangunan kayak apa," kata Gunawan, yang sedang berulang tahun ke-74. 

Baca juga : BRI Rilis Kebijakan Baru Terkait Perubahan Ketentuan Produk Tabungan

Omongan tadi merujuk pada karier Gunawan. Sejak menjadi asisten begawan ekonomi Prof Mubyarto, hingga menjabat Deputi Kepala Bappenas, Deputi Sekretaris Wapres, Sekretaris Komite Penanggulangan Kemiskinan dan Dirjen Pemberdayaan Sosial Kemensos. 

"Sebagai akademisi, saya konsisten melaksanakan keilmuan dengan tiga tahap teori. Filsafat hidup berbangsa bernegara epistemologi, paradigma ilmu pengetahuan berdasarkan rasionalitas teoritis dan empiris, serta pemahaman digitalisasi. Dalam pemahaman spritualitas Jawa dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula gusti, dan memayu hayuning bawana," terangnya. 

"Itu dituliskan Pak B. Wiwoho dalam perjalanan spiritual Presiden Soeharto. Jadi dapat disimpulkan, Tonggak-Tonggak Orde Baru adalah landasan pembangunan nasional 'Membangun Indonesia Dari Desa Berbasis Ekonomi Kreatif'," imbuh Gunawan. 

Sementara itu, Martiono berharap bangsa ini tidak melupakan sejarah. Bahwasanya, apapun pemerintah dan siapapun Presidennya, memiliki sisi positif. "Jangan dilihat negatifnya saja. Misalnya Pak Harto. Sejak dilantik pada Maret 1968 hingga jatuh pada Mei 1998, beliau membawa Indonesia dari negara miskin terbelakang menjadi berkembang," ucap peraih Bintang Mahaputera Utama dari Presiden itu. 

Baca juga : Rusun Bakal Dipermak Agar Nyaman Dan Aman

Lain halnya Hariman. Belakangan dia memang agak sedih dengan kondisi politik di Tanah Air pasca Pilpres lalu. Namun demi kebaikan negara, rakyat tetap harus melangkah. "Saya pakai istilah 'majuisme'. Kita mesti melihat sejarah untuk bergerak maju. Menuju Indonesia yang lebih baik dan sejahtera," cetusnya. 

Adapun B. Wiwoho melihat trilogi bukunya memang mengangkat hal-hal yang perlu dicermati bersama. Sebagai refleksi untuk membangun Indonesia yang modern untuk masa depan.

Di tempat lain, Agus Moh Najib, Direktur Sosialisasi dan Komunikasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyatakan bahwa sebagai bangsa yang besar, rakyat Indonesia mestinya menghormati para pahlawannya. Pasca kemerdekaan, para pahlawan adalah orang-orang yang membangun masyarakat dan negara untuk kemajuan Indonesia. Terlepas dengan segala kekurangannya, karena sistem yang ada serta kondisi sosial politik yang mengitarinya, semua Presiden Indonesia adalah para pahlawan bangsa di era kemerdekaan ini. 

Berkat mereka, bersama semua komponen bangsa, Indonesia dapat mencapai kemajuan sampai dengan saat ini.

Baca juga : Pembangunan IKN Terus Lanjut, Prabowo: Pasti Kita Selesaikan

"Pemerintahan Prabowo-Gibran dengan misi Asta Cita-nya akan melanjutkan pembangunan di segala bidang untuk mencapai Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. Hal ini tentu perlu dukungan seluruh komponen bangsa, di samping kritik-kritik yang konstruktif demi mempercepat terwujudnya cita-cita pendirian NKRI, yang tercantum dalam alinea dua dan empat Pembukaan UUD 1945," tandas Najib.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.