Dark/Light Mode

Taufan Rahmadi: Pariwisata Jadi Solusi Entaskan Kemiskinan Di Indonesia

Minggu, 25 Agustus 2024 06:54 WIB
Pakar Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto : ist)
Pakar Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto : ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi menilai sektor pariwisata menjadi salah satu solusi efektif dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Menurut Taufan, sektor pariwisata menjadi pilar ekonomi global yang paling dinamis, menawarkan solusi praktis dan berkelanjutan bagi berbagai tantangan sosial-ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. 

"Di Indonesia, negara yang kaya akan keanekaragaman alam dan budaya, pariwisata bukan hanya soal keindahan pantai atau pesona budaya, tetapi juga tentang bagaimana sektor ini dapat dimobilisasi sebagai alat strategis untuk mengurangi kemiskinan," kata Taufan, pria kelahiran Mataram pada 15 September 1974 dalam keterangannya, Minggu (25/8).

Sektor pariwisata memiliki kemampuan unik menciptakan lapangan kerja dalam skala besar, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Di Indonesia, dijelaskan akademisi asal Lombok ini, tercatat sektor pariwisata menyumbang sekitar 10,2 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2019, baik melalui pekerjaan langsung seperti pemandu wisata, staf hotel, dan operator tur, maupun pekerjaan tidak langsung dalam sektor-sektor pendukung seperti pertanian, transportasi, dan kerajinan tangan .

Yang membedakan lapangan kerja di sektor ini adalah inklusivitasnya. Dengan rendahnya ambang pendidikan yang dibutuhkan untuk banyak posisi dalam sektor pariwisata, masyarakat lokal, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil, memiliki akses ke peluang pekerjaan yang lebih besar.

"Hal ini pada gilirannya membantu mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan pendapatan rumah tangga, yang merupakan langkah awal penting dalam upaya pengentasan kemiskinan," jelas Taufan, salah satu tokoh terkemuka di bidang pariwisata Indonesia ini.

Selain itu, pariwisata juga berperan sebagai katalisator bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Baca juga : Pelaku Pasar Pantau Aksi Darurat Indonesia

Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, lebih dari 60% dari total pendapatan pariwisata di Indonesia berasal dari UMKM, terutama di sektor kerajinan tangan, kuliner, dan akomodasi berbasis komunitas .

Ekonomi kreatif, yang dipadukan dengan pariwisata, memungkinkan masyarakat lokal untuk menciptakan produk-produk yang unik dan memiliki nilai tambah tinggi, seperti batik, tenun ikat, dan produk-produk kuliner khas daerah.

"Pendapatan yang dihasilkan dari produk-produk ini sering kali langsung masuk ke kantong masyarakat, memperkuat basis ekonomi lokal dan mempercepat proses pengentasan kemiskinan," urai Taufan, anggota Dewan Pakar TKN Prabowo Gibran yang fokus pada penyusunan dan penyuarakan kebijakan strategis di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sementara itu, pengembangan infrastruktur pariwisata tidak hanya meningkatkan aksesibilitas bagi wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat.

Pembangunan jalan, bandara, pelabuhan, serta fasilitas umum lainnya meningkatkan mobilitas dan akses ke layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.

Contohnya, proyek pembangunan infrastruktur pariwisata di destinasi pariwisata superprioritas di Labuan Bajo, Mandalika dan Danau Toba telah membawa perubahan signifikan dalam kualitas hidup masyarakat setempat dengan membuka isolasi geografis dan memperluas akses ke pasar .

Selain itu, investasi yang masuk melalui pariwisata sering kali memicu pembangunan yang lebih luas, mencakup perumahan, pendidikan, dan layanan kesehatan.

"Efek domino ini memperkuat struktur ekonomi dan sosial di daerah-daerah yang sebelumnya kurang berkembang, menjadikannya lebih resilient terhadap berbagai tantangan ekonomi," tegas Taufan, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB periode 2014-2016. .

Baca juga : Ketum Partai Rakyat Imbau Anies Siapkan Mental Jika Diusung PDIP

Penggagas program “Catwalk In The Air: Lombok Sumbawa di Langit Indonesia” di atas pesawat Garuda Indonesia ini juga menerangkan pengentasan kemiskinan bisa dilakukan lewat pariwisata berbasis komunitas.

Saat ini, menurutnya, wisata berbasis komunitas (community-based tourism) menjadi model yang semakin diakui di Indonesia.

Masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif, tetapi juga aktor utama dalam pengelolaan dan pelestarian warisan budaya serta lingkungan.

Program-program seperti Desa Wisata dan Ekowisata di berbagai daerah telah membuktikan bahwa masyarakat lokal dapat menjadi penjaga budaya sekaligus pelaku ekonomi yang berdaya.

Contoh nyata adalah Desa Penglipuran di Bali, yang sukses memadukan pariwisata dengan pelestarian budaya lokal, sehingga tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 70% .

"Inisiatif semacam ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan, yang dalam jangka panjang akan memastikan keberlanjutan pariwisata dan ekonomi lokal," kata Taufan yang juga penggagas pendirian Masjid Nurul Bilad Mandalika dan pengembangan desa-desa wisata di Lombok.

Pendapatan dari sektor pariwisata juga memberikan kontribusi signifikan dalam bentuk pajak dan retribusi yang dapat dialokasikan untuk program-program pengentasan kemiskinan.

Di Indonesia, pajak pariwisata telah digunakan untuk mendanai berbagai inisiatif sosial, termasuk program pendidikan dan kesehatan di daerah-daerah terpencil .

Baca juga : Gandeng Hyundai, Pertamina Kembangkan Ekosistem Hidrogen Di Indonesia

"Redistribusi pendapatan melalui pajak ini membantu menjembatani kesenjangan ekonomi antara daerah-daerah yang berkembang dengan yang tertinggal, memastikan bahwa manfaat pariwisata dirasakan secara merata di seluruh negeri," terang Taufan yang juga anggota Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan PIC Mandalika Kemenparekraf RI (2016-2018).

Menurut kader Partai Gerindra, yang juga aktif  di HIPMI dan Kadin ini, diversifikasi sumber pendapatan melalui pariwisata juga penting dalam mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor ekonomi tradisional, seperti pertanian, yang rentan terhadap fluktuasi pasar global dan perubahan iklim.

Dengan adanya pariwisata, masyarakat lokal memiliki lebih banyak pilihan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan mereka, yang pada gilirannya membuat ekonomi mereka lebih tahan terhadap berbagai guncangan .

Pariwisata, jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan, dapat menjadi motor penggerak yang kuat untuk pengentasan kemiskinan di Indonesia.

"Dengan memanfaatkan kekayaan alam dan budaya yang ada, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, Indonesia dapat membangun masa depan yang lebih inklusif dan sejahtera melalui sektor ini," tutup  lelaki yang pernah mengantarkan Lombok meraih penghargaan internasional sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia di ajang World Halal Travel Award 2015 di Abu Dhabi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.