Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Paus Fransiskus Ke Istiqlal, Prof Nasaruddin: Bukti RI Aman Dan Toleran
Sabtu, 31 Agustus 2024 09:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Nasaruddin Umar menyampaikan pandangannya terkait kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal pada Kamis, 5 September 2024. Menurut dia, kunjungan ini menjadi bukti kuat bahwa Indonesia adalah negara yang aman, penuh persahabatan, serta memiliki solidaritas dan toleransi yang sangat tinggi.
"Kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal merupakan sebuah kehormatan. Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu menjadi negara yang diperhitungkan di mata dunia, bukan hanya karena keamanan, tetapi juga karena kemampuan kita dalam menghargai tamu dan menjaga hubungan antarumat beragama," kata Kiai Nasaruddin, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka, di kantornya, Jakarta, pertengahan Agustus lalu.
Lebih lanjut, Prof Nasaruddin menekankan Indonesia, meskipun merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, dipilih oleh Paus untuk dikunjungi. Hal ini menunjukkan pengakuan atas stabilitas dan keberhasilan bangsa Indonesia. Kata dia, kunjungan Paus Fransiskus juga dapat dilihat sebagai simbol legitimasi internasional terhadap Indonesia sebagai bangsa yang sukses dan aman.
Baca juga : Jeda Internasional, Persib Bandung Pulihkan Pemain Cedera
"Karena Tidak mungkin seorang pemimpin besar seperti Paus Fransiskus akan mengunjungi sebuah negara jika negara tersebut dianggap tidak aman atau memiliki masalah diskriminasi. Ini adalah pengakuan dunia bahwa Indonesia adalah negara yang berhasil," ungkapnya.
Menurutnya, kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal juga mencerminkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yaitu, menjadikan masjid sebagai tempat yang inklusif dan terbuka untuk semua orang, termasuk tokoh lintas agama.
"Nabi Muhammad sering menerima tokoh-tokoh lintas agama di masjidnya, dan kami di Istiqlal juga berusaha melakukan hal yang sama," jelasnya.
Baca juga : Sambut Paus Fransiskus, Unika Atma Jaya Serukan Semangat Toleransi
Selain itu, Prof Nasaruddin mengungkapkan bahwa Masjid Istiqlal saat ini juga dipercaya sebagai pusat dialog internasional. Istiqlal dipercaya sebagai Presiden Asosiasi Imam Internasional. Peserta asosiasi tersebut aktif terlibat dalam berbagai diskusi global, termasuk dalam isu-isu lingkungan hidup bersama tokoh-tokoh Nasrani, Yahudi, dan Islam. "Kami berupaya membangun sistem perlindungan lingkungan berdasarkan ajaran Abraham yang diakui oleh tiga agama besar dunia," ungkapnya.
Prof Nasaruddin mengakhiri wawancara dengan menekankan pentingnya menjaga masjid sebagai lembaga yang mempererat hubungan antarumat beragama dan mempromosikan perdamaian. Karena itu, antara Masjid Istiqlal dan Katedral ada terowongan toleransi.
"Masjid harus menjadi tempat yang menghubungkan, bukan memisahkan. Ini yang terus kami upayakan di Istiqlal," tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya