Dark/Light Mode

Nilai Wakaf Tembus 2.050 Triliun, Mayoritas Aset Tak Produktif

Jumat, 27 September 2024 09:34 WIB
Simposium keuangan dan, ekonomi syariah bertajuk Penguatan Inklusi Keuangan Syariah Menuju Indonesia Emas di Jakarta, Kamis (26/9/2024). Foto: Istimewa
Simposium keuangan dan, ekonomi syariah bertajuk Penguatan Inklusi Keuangan Syariah Menuju Indonesia Emas di Jakarta, Kamis (26/9/2024). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Aset wakaf di Indonesia saat ini cukup besar. Angkanya diperkirakan mencapai Rp 2.050 triliunan. Hanya saja, mayoritas dari aset wakaf tersebut berupa aset fisik dan kurang produktif.

Data tersebut disampaikan Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Rifki Ismal dalam forum Simposium Keuangan dan Ekonomi Syariah yang bertajuk "Penguatan Inklusi Keuangan Syariah Menujj Indonesia Emas", di Jakarta pada Kamis (26/9/2024).

Dia menuturkan, BI sebagai otoritas moneter memiliki kepentingan terhadap ekonomi syariah. "Termasuk keuangan syariah dab keuangan sosial," katanya.

Rifki menjelaskan khusus untuk wakaf, di Indonesia sejatinya sudah sangat besar. Dalam catatannya aset wakaf di Indonesia saat ini sekitar Rp 2.050 triliun. Namun kebanyakan dari aset wakaf tersebut, wujud aset tidak produktif secara ekonomi.

"Kalau kita bicara wakaf, masyarakat oahamnya masjid, makam, atau pesantren," katanya.

Pandangan tersebut kata Rifki tidak salah. Namun sejatinya paradigma terhadap wakaf itu sangat luas. Dia mencontohkan kampus Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir merupakan lembaga pendidikan yang berdiri di atas aset wakaf.

Baca juga : Penerimaan Pajak Tembus 1.000 T, Sri Mul Happy

Rifki juga menyampaikan angka literasi atau melek ekonomi syariah masih 28 persen. Artinya dari 100 orang, ada 28 orang yang paham ekonomi syariah. Kemudian dari sisi profesi, pemahaman soal ekonomi dan keuangan syariah adalah dosen dan PNS.

Dia berharap, dengan keterlibatan masyarakat, khususnya dari kalangan jurnalis, literasi keuangan syariah di masyarakat bisa meningkat.

Sementara itu, Kepala Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI) Irwan Abdullah menegaskan BEI akan terus berupaya melakukan kampanye atau sosialisasi wakaf saham. Khususnya kepada anak-anak muda. Pasalnya jumlah investor anak muda, jumlahnya cukup besar.

Irwan mengatakan 95 persen investor pasar modal itu ritel dan anak muda. Mereka iinj adalah anak-anak muda yang jadi investor di pasar modal ini, punya cita-cita kelak akan menjadi sultan.

"Market ini yang kita garap. Supaya sadar ada filantropi di pasar saham," katanya.

Termasuk mengenalkan adanya wakaf saham. Irwan menjelaskan MUI sudah mengeluarkan fatwa atau regulasi. Bahwa saham bisa juga untuk wakaf. Tantangan yang dihadapi di lapangan, masyarakat masih menilai bahwa wakaf itu harus berupa aset fisik. Padahal sudah sejak lama, negara membuat regulasi tentang wakaf uang.

Baca juga : PMI Manufaktur Turun, Jokowi Minta Genjot Penggunaan Produk Lokal

Selain itu juga wakaf saham. Menurut Irwan wakaf saham sejatinya cukup simpel. Diantara skemanya adalah hasil dari penjualan saham, didistribusikan untuk wakaf.

Dengan skema yang mudah tersebut, dia berharap ke depan semakin banyak investor yang ikut berwakaf lewat saham. Dia pun mengapresiasi terselenggaranya seminar ini. Dia berharap melalui kegiatan ini, dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi tentang ekonomi syariah ini.

Sebab menurutnya, literasi untuk wakaf tunai saja, itu masih sangat kurang sehingga butuh diperkuat. Terutama terkait literasi mengenai wakaf saham, perlu gencar dilakukan edukasi yang lebih gencar lagi ke masyarakat.

Sementara Ketua Umum Forum Jurnalis Wakaf Indonesia (Forjukafi) Wahyu Muryadi mengatakan, simposium bertajuk Penguatan Inklusi Keuangan Syariah Menuju Indonesia Emas ini merupakan salah satu ikhtiar Forjukafi dalam mendukung penguatan keuangan Syariah.

Dia lalu mengutip laporan The Global Islamic Economy Indicator dalam State of Global Islamic Economy (SGIE) 2023 yang diluncurkan oleh Dinar Standard di Dubai, Uni Emirat Arab, Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Malaysia dan Arab Saudi. "Pencapaian ini menunjukkan potensi besar ekonomi syariah Indonesia di kancah internasional,” ujarnya.

Potensi ini menurut Wahyu, harus terus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pelaku industri Syariah di Indonesia. Salah satunya dengan penguatan inklusi keuangan Syariah.

Baca juga : Toilet Sekolah Bersih Ciptakan Generasi Sehat, Cerdas, dan Produktif

"Sebab, Industri keuangan syariah dan industri halal telah menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi syariah, yang dapat mendukung target Indonesia Emas 2045," ujar Wahyu.

Adapun simposium ini dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dan para pakar keuangan syariah. Acara ini terbagi dalam dua sesi panel. Sesi pertama mengangkat tema "Optimalisasi Pasar Modal dan Perbankan dalam Percepatan Inklusi Keuangan Syariah”.

Sesi ini menghadirkan Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Rifki Ismal, Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia Irwan Abdulloh, serta Co Founder & CEO Shafiq, Kevin Syahrizal.

Lalu pada sesi kedua, diskusi panel mengangkat tema “Tantangan dan Peluang Pengelolaan Haji” dengan narasumber Dr Sulistyowati, ME, WMI, CFP salah satu Pimpinan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Lalu Consumer Finance Business Division Head Bank Mega Syariah Raksa Jatna Budi, serta Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Irfan Syauqi Beik.

Simposium Keuangan dan Ekonomi Syariah ini didukung oleh PT Pertamina (persero), Badan Pengelola Kuangan Haji (BPKH), PT Rintis Sejahtera (PRIMA), PT Hutama Karya, Yayasan Jala Surga, PT Semen Indonesia (SIG), Yayasan Amaliah Astra, PT Jasa Raharja, dan PT Pelindo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.