Dark/Light Mode

Benahi Pendidikan Tinggi

Joki Publikasi-Jurnal Predator Harus Disikat Sampai Tuntas

Kamis, 24 Oktober 2024 07:25 WIB
Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ahmad Najib Burhani. (Foto: Istimewa)
Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ahmad Najib Burhani. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) diminta bergerak cepat, menindak tegas para pelanggar etika publikasi ilmiah.

Praktik joki publikasi dan jurnal predator menjadi masalah utama yang harus segera dibenahi di sektor pendidikan tinggi. Pasalnya, praktik kecurangan itu kerap dilakukan untuk meraih gelar dan jabatan akademik.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ahmad Najib Burhani meminta Pemerintah menindak tegas para pelaku joki publikasi dan pengelola jurnal predator di Indonesia. Pasalnya, Indonesia berada pada peringkat kedua, negara dengan jurnal predator terbanyak, setelah Kazakhstan.

Baca juga : Diungkap Bawaslu, Para Cagub DKI Jakarta Kurang Dikenal Anak Muda

“Kebohongan ini telah merusak dan menghancurkan pondasi bangunan pendidikan masa depan kita. Secara tidak langsung, ini menjadikan bangsa kita menormalkan penipuan,” tegas Ahmad di Jakarta, Rabu (23/10/2024).

Selain itu, tambah dia, praktik haram tersebut juga dapat merusak character building, yang seharusnya dilakukan oleh para dosen kepada mahasiswanya. “Sesuatu yang tidak normal ini, seperti penipuan, plagiarisme, tidak mempunyai publikasi tapi mengaku punya, penyakit. Ini endemi yang perlu kita cegah, agar tidak merusak pendidikan kita,” cetusnya.

Lebih lanjut, Ahmad memperingatkan, jurnal predator atau jurnal yang tidak melalui proses peninjauan ilmiah, serta penyuntingan yang tidak baik dan benar, juga dapat berdampak terhadap keselamatan orang lain.

Baca juga : Ketuanya 20, Wakil Ketua 80

“Bayangkan jika di dunia kedokteran ada riset yang bersumber dari kebohongan. Itu berbahaya, bisa berdampak serius di kehidupan manusia, kesehatan pasien, dan lain sebagainya. Makanya, hal-hal seperti ini perlu dihindari,” pintanya.

Ahmad mengungkapkan, informasi terkait maraknya jurnal predator di Indonesia, tak hanya diketahui oleh peneliti dalam negeri, namun juga luar negeri. Bahkan, peneliti di negara Peru, mengimbau para koleganya untuk tidak melakukan kerja sama penelitian dengan para peneliti asal Indonesia karena banyaknya jurnal predator.

“Kita sedih. Peru sebetulnya negara yang tidak lebih bagus dari Indonesia. Tapi, mereka mewanti-wanti para penelitinya agar berhati-hati dalam bekerja sama dengan peneliti Indonesia, karena menormalkan ketidaknormalan dan melawan etika publikasi,” keluhnya.

Baca juga : Stok Dan Harga Beras Di DKI Aman Terkendali

Sebab itu, dia meminta, Kemendiktisaintek lebih fokus dan memperhatikan hal ini. Dengan begitu, dunia pendidikan Indonesia bisa lebih baik dan berdaya saing di mata internasional.

Ahmad mengusulkan, Kemendiktisaintek mengkaji ulang aturan kewajiban publikasi mahasiswa di jurnal ilmiah. “Kebijakan ini memiliki dampak negatif, seperti ada efek insentif publikasi yang menimbulkan adanya ‘peternakan’ publikasi’,” imbuhnya.

Terpisah, Dosen Cultural Studies Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan menyoroti fenomena maraknya publik figur seperti artis, pengusaha dan politisi, memperoleh gelar doktor, baik doktor honoris causa (HC) maupun doktor yang dicapai melalui proses akademik.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.