Dark/Light Mode

Mengenang 76 Tahun PDRI: Palupuh, Mobile Brigade dan Front Pertempuran

Sabtu, 28 Desember 2024 13:33 WIB
Barisan Pengawal Nagari/Kota (BPNK) yang memegang peran penting dalam menjaga keamanan nagari. Sumber: Leon Salim, 1951.
Barisan Pengawal Nagari/Kota (BPNK) yang memegang peran penting dalam menjaga keamanan nagari. Sumber: Leon Salim, 1951.

Di masa Kolonial Belanda, Palupuh berada di bawah Kelarasan Tilatang Kamang, Afdeling Agam . Posisinya strategis, menghubungkan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Palembayan, Pasaman, Koto Tinggi Limapuluh Kota. Palupuh dalam sumber-sumber Kolonial Belanda memang tidak banyak dibicarakan, karena masih berada di bawah pemerintahan Tilatang (Kamang), beribukota di Pakan Kamih. Dan, sebelum pemekaran di tahun 1961, empat wilayah yang menjadi empat nagari pada hari ini, masing-masing Koto Rantang, Pasie Laweh, Pagadih, dan Nan Tujuah -dikenang dalam lembaran sejarah dengan nama Moedik Paloepoeh (De locomotief , 8 Juli 1901).

Palupuh dalam Memori Kolektif Natuurmonument

Posisi Palupuh memang strategis. Kerap menjadi persinggahan dari rombongan Padri menuju ke Bonjol, District Rao. Residen Sumatra Westkust Francais yang sudah kewalahan menghadapi Perang Padri, menjalankan taktik licik. Tujuannya adalah untuk meringkus Tuanku Imam Bonjol. Tepatnya pada 28 Oktober 1837, utusan marsose memberitakan, bahwa Francais ingin berdamai dengan Padri (Kartodirjo, 1973). Sepasukan marsose yang telah menunggu di Batang Palupuh, segera menawan Peto Syarif -kemudian menandai redupnya perlawanan Padri (Radjab, 1964).

Pasca kekalahan Padri, Palupuh mulai dikenal luas. Beberapa kali daerah ini diangkat dalam pemberitaan surat kabar berbahasa Belanda. Pada November 1872, Sumatra-Courant  meliput berita tentang seorang penghulu suku dari Palupuh yang menangkap seekor harimau besar, dengan perangkap sederhana. Perangkap itu hanya berupa bak mandi. Perangkap sederhana itu diperuntukkan bagi kawanan harimau yang kerap turun di Laras Tilatang Kamang, serta menyerang kandang sapi milik masyarakat (Sumatra-Courant, 1 Desember 1872).

Kembali pada 1904, surat kabar berbahasa Belanda mengabarkan penunjukan seorang pengawas kelas 2 bernama E van Put dari Palupuh ke Sibolga. Sebaliknya, seorang berkebangsaan Belanda bernama C.L van den Akker ditempatkan untuk bekerja di Palupuh  sebagai pengawas kelas 3 (De Nieuwe Courant,  21 April 1904). Setahun kemudian, kembali diberitakan mutasi pegawai antar Afdeling.  (Sumatra-Bode, 4 Maret 1905).

Baca juga : Menteri Karding Minta PMI Jaga Sikap Di Negara Penempatan

Laporan mutasi pegawai pada 1904, tentu menarik dicermati. Seorang pengawas kelas 3 berkebangsaan Belanda itu, erat hubungannya dengan kawasan konservasi untuk Palupuh. Banyaknya ditemukan tanaman langka di Palupuh, mendorong pemerintah Kolonial Belanda untuk melindungi Palupuh dari eksploitasi alam dan reklamasi arkeologi.

Aturan itu ditetapkan melalui Ordonantie tanggal 18 Maret 1916 -yang tertuang dalam Staatbalad No.278 (De-Locomotief, 12 Desember 1930). Dalam peraturan itu, ditegaskan bahwa di sekitar Batang Palupuh akan menjadi kawasan natuurmonument, atau  Monumen Alam (kini: cagar alam).  Tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa di Batang Palupuh ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi dari pembalakan, eksplorasi besar-besaran, dan ekskavasi untuk arkeologi?

Rupanya, daerah ini merupakan endemik untuk tumbuhan langka. Tahun 1925 dan 1930 diwartakan, bahwa di Batang Palupuh kerap ditemukan bunga bangkai, jenis Raflesia Arnoldi berdiameter 93 cm -yang diukur dari ujung salah satu kelopak ke ujung kelopak lawannya (Indische-Courant, 8 Agustus 1925). Dalam beberapa literatur botani menulis, ukuran diameter bunga itu bisa melebihi satu meter.

Lima tahun kemudian, kembali diwartakan  mekarnya Raflesia Arnoldi. Bunga ini ditemukan di sekitar Batang Palupuh pada awal September dan tetap mekar sebelum 12 Desember 1930. Tentunya menarik untuk disimak, bahwa bunga bangkai jenis ini, bisa tumbuh di Palupuh yang berjarak 10 kilometer dari Fort de Kock (baca: Bukittinggi) dan merupakan jalur utama menuju Lubuk Sikaping Afdeling Pasaman.

Front Palupuh dan Pertempuran Sengit 1948

Baca juga : Penting, Pemuda Bangun Gerakan Sosial Lawan Intoleransi dan Promosikan Toleransi

Pasca tersebarnya berita proklamasi, seluruh komponen masyarakat Palupuh berjuang mempertahankan kemerdekaan. Narasi perjuangan ini, makin menguat tatkala agresor Belanda menyerang ibukota Yogyakarta, serta menahan dua founding fathers Bung Karno dan Hatta.

Agresor Belanda pun tidak tinggal diam. Mereka segera membombardir kekuatan militer dan republikein. Pasukan artileri Belanda dan mulai merangsek dari Padang menuju ke Bukittinggi. Adapun beberapa organ pertahanan milik Republik di masa darurat saat itu, antara lain adalah APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia), PMT (Pasukan Mobil Teras) dan Mobbrig (Mobilie Brigade).

Ketika terdengar berita Bukittinggi telah jatuh ke tangan agresor, pada 22 Desember 1949, kembali personil Mobbrig, APRI, dan BPNK mundur dari Sipisang ke Bateh Sariak –sebagai basis pertahanan Mobbrig Sumatra Tengah (Markas Sektor II) daerah pertempuran Agam. Komandan Mobbrig masa itu adalah Inspektur Polisi I Amir Machmud. Sektor II ini dalam dokumen sejarah dikenang dengan nama Front Palupuh (Kepolisian, 1987).  

Sejak serangan sporadis dari tentara Belanda di beberapa garis demarkasi selama pertempuran, dihadapi oleh Mobbrig Besar Cabang Djawatan dan Mobbrig Karesidenan. Untuk pertahanan Mobbrig masa itu, hanya dipusatkan pada tiga daerah, masing-masing di Palupuh (Agam), Lintau (Tanah Datar), serta Rantau Berangin (Riau).

Untuk personil Mobbrig yang tidak bersenjata bergabung dengan Polisi Umum dan BPNK. Sebagian kecil, ada yang memilih kembali dan bergabung di kampung halamannya masing-masing (Salim, 1951). Pasca pindah ke Bateh Sariak Palupuh, pasukan Mobbrig dikomandi oleh A.K.B.P Sulaiman Efendi, Inspektur Polisi II Kaliansa Situmorang (Komandan Polisi bagian Sumatra Barat), dan Inspektur Polisi I Amir Machmud selaku Komandan perjuangan Front Palupuh.

Koordinasi dari Wedana Militer selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Kecamatan (MPRK), unsur APRI, dan para pemuda dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam BPNK, serta pasukan Mobbrig sebagai basis pertahanan utama adalah faktor keberhasilan dari kuatnya benteng pertahanan di Front Palupuh.

Baca juga : Bangun Ruang Aman, KAI Raih Penghargaan Dari Komnas Perempuan

Mengapa MPRK turut andil? Struktur MPRK yang ditetapkan oleh Gubernur Militer Sumatra Tengah Mr. Sutan Moh Rasjid yang merangkap Ketua DPD, telah berkoordinasi dengan Wedana Militer (Ketua), Opsir Militer (Wakil Ketua), Kepala Kepolisan/Mobbrig (Kepala Keamanan MPRK), dan empat orang wakil dari BPNK (Sufyan, 2018).

Untuk barisan BPNK Palupuh sendiri pada akhir 1948 digerakkan oleh Anwar Datuak Taman Batuah, Zainal Pakiah Muncak, dan Syafei (Darwis, 1999). Dapur umum dikawal oleh ibu-ibu dan para gadis nagari, juga turut berperan besar membantu perjuangan di Palupuh. Persoalan utama yang dihadapi bagian dapur umum adalah persediaan logistik makanan dan mendistribuskan masakannya dalam kecamuk perang  mempertahankan Palupuh dari agresor Belanda.

Pasukan Belanda yang memusatkan basis pertahanannya di Pasar Palupuh bergerak dengan tank melalui darat, dan melalui pesawat pembom di udara. Bila logistik dan persenjataan mereka berkurang, suplai selalu datang dan berhamburan lewat udara.

Taktik bertahan dan menerobos maju yang diilhami dari pertahanan semestanya Tan Malaka dalam jarak 5 kilometer itu, membuat Belanda putus asa, untuk menerobos bagian Utara yang menghubungkan Bukittinggi dan Sibolga.

Selain itu, pertahanan yang kokoh ini juga menghalangi Belanda masuk ke arah Selatan Koto Tinggi, Kabupaten Limapuluh Kota. Namun, sampai satu saat, Front Palupuh kedodoran. Belanda berhasil merangsek masuk, menyerang membabi buta, dan menewaskan 19 orang.

Untuk mengingat heroiknya Front Palupuh dalam mempertahankan sektor Utara dan Selatan, empat tahun kemudian, atau tepatnya pada 1952, didirikan tugu peringatan sederhana di Patapian Palupuh. Peresmian dan syukuran berdirinya tugu peringatan Front Palupuh ini, diramaikan oleh masyarakat Palupuh, organ perjuangan, dan Kepala Wilayah Darurat Sumatra Tengah, yakni AKBP Sulaiman Effendi. 

Fikrul Hanif Sufyan
Fikrul Hanif Sufyan
periset dan pengajar sejarah. Pernah menjadi dosen tamu di Faculty of Art University of Melbourne Australia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.