Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pemerintah Pulangkan 48 WNI Dari Myanmar
Kemen P2MI Minta Masyarakat Tak Jadi Pekerja Migran Ilegal
Senin, 3 Maret 2025 07:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI) kembali mengingatkan masyarakat, agar tidak nekat menjadi pekerja migran secara ilegal. Hal tersebut merupakan respon atas pemulangan sebanyak 84 Warga Negara Indonesia (WNI) korban penipuan online (scamming) dari Myanmar.
Direktur Layanan Pengaduan, Mediasi, dan Advokasi Pekerja Migran Indonesia pada Pemberi Kerja Perseorangan Kemen P2MI, Firman Yulianto menyatakan, kasus yang menimpa puluhan WNI yang tiba dari Myanmar pada 28 Februari-1 Maret 2025, harus menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat. Dia meminta, seluruh angkatan kerja yang ingin bekerja di luar negeri, memperhatikan aspek-aspek jaminan keamanan dan keselamatan.
Firman mengingatkan, para pemberi kerja ilegal di luar negeri kerap mengiming-iming para pekerja dengan gaji besar. Dia meminta, publik tidak terbuai dengan iming-iming tersebut, serta tetap taat prosedur dan hukum.
"Masyarakat yang terbuai untuk menjadi pekerja migran ilegal, berpotensi ditipu dan dieskploitasi. Karenanya, Kemen P2MI terus menerus mengingatkan masyarakat untuk mempunya perjanjian kerja resmi dan diketahui oleh perwakilan RI. Saya rasa, itu saja dari kami," ujar Firman dalam keterangannya, Minggu (2/3/2025).
Baca juga : PSU Serang Pakai Dana Makan Bergizi Gratis
Firman menambahkan, masyarakat yang berangkat melalui jalur legal atau prosedural, akan memiliki kontrak kerja resmi, keberadannya terjamin, dan diketahui oleh Pemerintah. "Puluhan WNI yang sudah tiba di Indonesia dari Myanmar akan direhabilitasi, dipulihkan mentalnya sebelum di kembalikan ke daerah asal," imbuhnya.
Senada, Direktur Jenderal Pemberdayaan KemenP2MI, Muh. Fachri mengatakan, masyarakat yang menjadi pekerja migran secara legal akan mendapat banyak keuntungan. Di antaranya, para pekerja migran legal dari Indonesia akan memiliki jaminan hukum dan sosial.
Selain itu, lanjut Fachri, mereka juga akan memiliki akses terhadap kesehatan dan jaminan sosial dari Pemerintah Indonesia dan negara tujuan. "Negara yang sudah G to G, pasti bisa memberi perlindungan, baik itu perlindungan hukum maupun perlindungan sosial. Kontrak kerjanya jelas, gaji dan hak-hak kerja bisa lebih aman," cetusnya.
Sementara itu, Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Bencana dan Kedaruratan Kementerian Sosial (Kemensos), Rachmat Koesnadi mengatakan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan psikologis bagi para pekerja migran korban praktik scammer yang menderita stres dan gangguan mental.
Baca juga : KPK Tagih Pembayaran Uang Pengganti Rp 44 M
"Kami akan melakukan rehabilitasi dan pemeriksaan. Secara psikososial, di tahap yang pertama banyak yang mengalami stres berat dan ada kecenderungan mengalami gangguan jiwa," ujarnya.
Selain itu, lanjut Rachmat, Kemensos juga menawarkan pelatihan kewirausahaan bagi para korban, sebelum mereka dipulangkan ke daerah asal masing-masing. "Pelatihan vokasional atau kewirausahaan akan mencegah atau membuat mereka tidak mengulangi kesalahan seperti ini," harapnya.
Diketahui, pada 28 Februari-1 Maret 2025, Pemerintah berhasil memulangkan sebanyak 84 WNI yang menjadi korban kasus penipuan daring (online scam) di Myawaddy, Myanmar. Proses pemulangan mereka melibatkan kerja sama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) KemenP2MI, Kemensos, dan Bareskrim Polri.
Di media sosial X, perbincangan soal pekerja migran ilegal tidak pernah sepi. "Gue heran, kok masih ada aja yang kena tipu ya. Kita memang butuh pekerjaan dan penghidupan, tapi ya pilih-pilih juga," cuit akun @17129021_.
Baca juga : Mudik Jadi Lebih Hemat, Daya Beli Bisa Meningkat
"Sudah saatnya masyarakat berani melapor, bila mendapatkan infirmasi tentang tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Jangan sampai, ada lagi keluarga, atau teman-teman kita yang menjadi korban," tulis akun @roescce8191.
Sementara itu, akun @liliputh menyoroti tentang perkembangan modus dan kurangnya informasi kepada masyarakat. "Ini kok terus-menerus terjadi, ya? Kita kalah canggih? Mereka ini, disuruh nipu bangsa sendiri oleh orang asing loh. Ini kayak jaman penjajahan. Bedanya, aksi nipu bangsa sendiri dilakukan di luar negeri," tuturnya. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya