Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hadapi Tantangan Global, Banteng: Revitalisasi Semangat KAA 1955
Minggu, 27 April 2025 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PDI Perjuangan (PDIP) menganggap perlu merevitalisasi semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 sebagai pedoman bangsa menghadapi tantangan global terkini.
“Berbagai nilai KAA, perlu dihidupkan kembali di tengah tantangan global, seperti ketimpangan ekonomi dan krisis iklim saat ini, untuk ciptakan tatanan dunia yang lebihadil dan bermartabat,” kata Ketua DPP Bidang Luar Negeri PDIP, Ahmad Basarah di diskusi Warisan Bung Karno untuk Asia-Afrika dan Keadilan Sosial Global di Jakarta, Sabtu (26/4/2025).
Mantan Wakil Ketua MPR ini menceritakan, KAA yang diselenggarakan di Kota Bandung medio 18-24 April 1955 merupakan salah satu gebrakan gemilang Presiden Pertama RI Soekarno. Kala itu, katanya, Bung Karno membuktikan negara yang baru merdeka memiliki hak menentukan masa depan tanpa intervensi kekuatan kolonial.
Oleh karena itu, Basarah menyerukan melahirkan Asia baru dan Afrika baru, yang menegaskan kemerdekaan dan perdamaian merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Perdamaian, merupakan prasyarat penting bagi kemerdekaan.
Baca juga : Menag: Fokus Layani Jemaah
“Sebab tanpa perdamaian, kemerdekaan akan kehilangan makna dan nilainya,” tegasnya.
Basarah berpendapat, kolonialisme kini berubah bentuk menjadi neokolonialisme melalui penguasaan ekonomi, budaya, dan informasi. Hal ini, selaras dengan peringatan Bung Karno bahwa kolonialisme belum mati, hanya berganti rupa.
Anak buah Megawati Soekarnoputri itu menyoroti dampak KAA yang melahirkan gelombang dekolonisasi. Dalam satu dekade setelah KAA, sebanyak 41 negara memproklamasikan kemerdekaannya, menggambarkan suatu gelombang besar dekolonisasi yang tak lepas dari inspirasi Bandung.
Untuk itu, dia menegaskan, PDIP sebagai partai pewaris ajaran Bung Karno berkomitmen melanjutkan dan melestarikan semangat KAA. Partainya, meyakini tatanan dunia baru yang lebih adil dan setara bukan sekadar utopia, melainkan keniscayaan yang hanya bisa dicapai dengan persatuan, keberanian, dan solidaritas.
Baca juga : Kerja Di Luar Negeri Bisa Makmur, Kemen P2MI Minta Sesuai Prosedur
“Semangat menegakkan kedaulatan nasional, memperjuangkan perdamaian dunia, dan membangun solidaritas global yang sejati,” ucapnya.
Basarah juga menyampaikan gagasan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tentang perlunya penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) Jilid II guna membahas bangsa-bangsa yang belum merdeka, terutama Palestina, dan kondisi global saat ini.
“Presiden Megawati menyampaikan gagasannya kepada saya agar para pemimpin bangsa-bangsa Asia Afrika saat ini dapat menyelenggarakan pertemuan untuk mengevaluasi 70 tahun perjalanan KAA,” katanya.
Basarah menuturkan, KAA Jilid II gagasan Megawati merupakan aktualisasi politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, sekaligus peneguhan posisi Indonesia sebagai pemimpin moral dunia.
Baca juga : Negara Tidak Boleh Kalah Dengan Aksi Premanisme
Palestina, kata dia, masih hidup dalam penjajahan, yang menjadi bukti perjuangan melawan kolonialisme belum selesai. Nantinya, KAA Jilid II bukan sekadar nostalgia, tetapi menjadi forum nyata membangkitkan solidaritas Global Selatan-Selatan serta merespons isu ketidakadilan global, eksploitasi sumber daya, ketergantungan ekonomi, dan perjuangan bangsa Palestina.
“KAA Jilid II diharapkan menjadi wadah penggalangan kekuatan moral dan politik demi keadilan global,” ucapnya. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya