Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kasus Cuci Darah pada Anak Meningkat: Perlu Waspada dan Lakukan Pencegahan Dini
Kamis, 8 Mei 2025 22:40 WIB
Fenomena meningkatnya jumlah anak yang menjalani cuci darah (hemodialisis) di Indonesia memicu kekhawatiran di kalangan tenaga medis dan masyarakat. Meski gagal ginjal pada anak bukan hal baru, lonjakan kasus dalam dua dan tiga tahun terakhir perlu disikapi serius melalui edukasi dan pencegahan dini.

Baca juga : Mencerdaskan Akal, Menguatkan Mental: Pendidikan Indonesia di Persimpangan Digital
Gambar kantong darah
Data Kasus Cuci Darah pada Anak
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan NOMOR HK.01.07/MENKES/1634/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Penyakit Ginjal Kronik, hasil riset dari Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan belum menemukan data yang pasti dari kasus PGK tingkat akhir (PGTA) yang dialami anak anak di Indonesia. Namun, riset mendapatkan sejumlah 220 anak yang menjalani dialisis yang merupakan sebuah terapi pengganti ginjal dan sebanyak 13 anak menjalani transpalasi ginjal yang dilakukan oleh 16 RS pendidikan yang ada di Indonesia.
Baca juga : Jaksa Bisa Gugat Ahli Waris Bayar Ganti Rugi
Kasus gagal ginjal akut pada anak berdasarkan kelompok umur per data Kementerian Kesehatan tanggal 3 November 2022. Terlihat bahwa kasus paling banyak terjadi pada kelompok usia 1–5 tahun, dengan total 170 kasus, terdiri dari 113 anak yang meninggal dan 57 yang selamat. Sementara itu, kelompok usia di bawah 1 tahun mencatat 41 kasus (dengan 32 meninggal), dan kelompok usia di atas 5 tahun mencatat kasus paling sedikit, yaitu sekitar 30 kasus dengan mayoritas tidak meninggal. Data ini menegaskan bahwa anak usia 1–5 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap kematian akibat gagal ginjal akut.
Pada 2023, kasus gagal ginjal yang semakin marak hingga 5 Februari 2023, Kementerian Kesehatan melaporkan total 326 kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak-anak yang tersebar di 27 provinsi. Dari jumlah tersebut, 204 anak meninggal dunia, 116 anak dinyatakan sembuh, dan 6 anak masih menjalani perawatan.
Faktor Penyebab Gagal Ginjal pada Anak
- Kelainan ginjal bawaan, seperti CAKUT (Congenital Anomalies of the Kidney and Urinary Tract).
- Infeksi saluran kemih berulang yang tidak tertangani.
- Kebiasaan buruk konsumsi makanan tinggi garam dan gula, serta minum terlalu sedikit air putih.
- Peningkatan kasus diabetes dan hipertensi pada anak, yang kini kian umum karena gaya hidup modern
Tips Pencegahan: Edukasi Pola Hidup Sejak Dini
- Utamakan Air Putih, Hindari Minuman Manis
Minuman tinggi gula seperti teh kemasan dan soda membebani ginjal. Biasakan anak memilih air putih sejak dini. - Batasi Makanan Tinggi Garam & Instan
Makanan cepat saji, keripik, dan junk food meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Gantilah dengan makanan rumahan bergizi seimbang. - Dorong Aktivitas Fisik dan Pemeriksaan Berkala
Ajak anak bergerak aktif setidaknya 1 jam sehari, dan lakukan cek kesehatan rutin, terutama jika anak mengalami gejala seperti bengkak atau sering buang air kecil.
Baca juga : Ketua DPR Puan Prihatin Banyak Perempuan Jadi Korban Pinjaman Online
Meningkatnya kasus cuci darah pada anak bukan hanya menjadi alarm bagi dunia medis, tetapi juga sinyal penting bagi orang tua untuk menanamkan pola hidup sehat sejak dini. Deteksi dini dan pencegahan adalah kunci utama agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat, tanpa harus menjalani prosedur medis invasif seperti hemodialisis.
Navisya Avni Zulvana & Dhea Amelia Renata
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya