Dark/Light Mode

Pakar: Koperasi Desa Merah Putih Sejalan Dengan Semangat Ekonomi Rakyat

Selasa, 8 Juli 2025 17:34 WIB
Sosialisai pendirian Koperasi Desa Merah Putih. (Foto : Kop.id)
Sosialisai pendirian Koperasi Desa Merah Putih. (Foto : Kop.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menargetkan pendirian 80.000 unit Koperasi Desa Merah Putih hingga akhir 2025.  Rencananya program ini akan diluncurkan secara nasional pada 12 Juli mendatang.

Langkah ini dinilai sebagai lompatan besar yang menegaskan kembali pentingnya peran ekonomi rakyat berbasis kolektivitas, gotong royong, dan kemandirian usaha lokal.

Menurut Ariyo Irhamna, Chief Economist BPP HIPMI, inisiatif Prabowo ini merupakan titik balik dari kecenderungan kebijakan yang selama ini meminggirkan koperasi dalam struktur ekonomi nasional.

Baca juga : Prabowo Kembangkan Koperasi Desa, Pakar: Ini Jalan Ekonomi Gotong Royong

"Ini adalah langkah besar yang mengafirmasi peran ekonomi rakyat berbasis kolektivitas, gotong royong, dan kemandirian usaha lokal. Langkah ini harus dilihat sebagai titik balik dari pendekatan kebijakan yang selama ini cenderung meminggirkan koperasi dalam arsitektur ekonomi nasional," jelas Ariyo dalam keterangannya yang dikutip Selasa (8/7).

Ia mengatakan pasca reformasi, koperasi seringkali hanya ditempatkan sebagai pelengkap retorika pembangunan, tanpa penguatan kelembagaan yang serius dan konsisten.

Terkait skema pembiayaan yang dijanjikan pemerintah melalui bank-bank Himbara (BRI, Mandiri, BNI) dengan plafon Rp1–3 miliar per koperasi, Ariyo menilai kebijakan ini potensial, namun perlu diiringi dengan penguatan kelembagaan koperasi untuk menghindari risiko kredit macet.

Baca juga : Pakar: Klarifikasi Menteri Maman Ke KPK Tunjukkan Political Goodwill

Sebagai solusi, Ariyo mendorong pembentukan Badan Usaha Koperasi Sekunder di bawah bank Himbara yang bisa menjadi payung dan agregator bagi koperasi primer yang sudah sehat.

Misalnya, BRI dapat fokus pada koperasi sektor pertanian, Mandiri di sektor perdagangan dan jasa, dan BNI untuk sektor industri kecil-menengah.

“Dengan model kebijakan seperti ini, koperasi-koperasi anggota akan memiliki akses pembiayaan yang lebih sehat, layanan manajemen terpadu, serta integrasi ke dalam rantai nilai yang lebih kuat. Model seperti ini telah terbukti berhasil di negara lain. Selain itu sudah ada beberapa contoh sukses dari model integrasi koperasi dan perusahaan jasa keuangan,” tambah dosen Universitas Paramadina ini.

Baca juga : Koperasi Desa Merah Putih Dan Tantangannya

Lebih jauh, ia menekankan bahwa arah kebijakan koperasi ke depan harus bertransformasi dari pendekatan populistik menjadi pendekatan institusional dan berbasis pasar.

Koperasi perlu ditempatkan sebagai institusi modern yang mampu mengelola sumber daya, menjangkau pasar, dan menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

“Indonesia tak kekurangan semangat kolektif dan semangat gotong royong. Yang kurang adalah keberanian untuk keluar dari jebakan pendekatan programatik jangka pendek dan seremonial menuju pembangunan koperasi yang profesional, sehat, dan berdaya saing tinggi,” tegas Ariyo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.