Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Bacakan Pledoi, Hasto Terisak Saat Kutip Ucapan Bung Karno dan Kasus Kudatuli
Kamis, 10 Juli 2025 17:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto dua kali meneteskan air mata ketika membacakan nota pembelaan atau pledoi di kasus dugaan suap pengurusan pergantian antara waktu (PAW) DPR periode 2019-2024 dan perintangan penyidikan Harun Masiku.
Momen pertama, saat dia menyampaikan bila Presiden Soekarno mewariskan semangat perjuangan untuk membangun Indonesia.
"Sebab Bung Karno mengatakan, 'bahwa revolusi belum selesai'. Dan Ibu Megawati Soekarnoputri telah berseru lantang pada tahun 1993 bahwa, 'bendera sudah saya kibarkan, pantang untuk diturunkan'," kata Hasto dengan suara bergetar dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2025).
Baca juga : Bacakan Pledoi, Hasto Singgung Ada Pengaruh Kepentingan Politik di Kasusnya
Air mata Hasto kembali jatuh ketika menceritakan sejarah PDIP berperan sebagai suluh demokrasi yang menjadi harapan rakyat tertindas. Khususnya, saat mengingat peristiwa penyerangan kantor PDI pada 27 Juli 1996, atau Kudatuli.
Kata Hasto, apa pun risikonya, Partai terus memimpin pergerakan rakyat. Partai digerakkan oleh ide dan cita-cita bagi kemerdekaan agar keadilan dan kemakmuran rakyat dapat diwujudkan.
"Di dalam PDI Perjuangan selalu menyala dengan jiwa perjuangan. Dalam sejarahnya pula ketika rezim otoriter berkuasa selama 32 tahun lamanya, PDI berperan penting sebagai suluh demokrasi. PDI Perjuangan menjadi harapan rakyat tertindas dan wahana bagi suara-suara kritis," ucap Hasto dengan suara terisak.
Baca juga : Sekretaris Fraksi PDIP DPR Yakin Hasto Dapat Keadilan di Kasus Harun Masiku
"PDI Perjuangan mencoba dihancurkan melalui dualisme kekuasaan dengan campur tangan negara secara langsung yang berujung pada peristiwa 27 Juli 1996 yang sebentar lagi akan kami peringati," sambungnya.
Hasto sempat berhenti membacakan pledoi pribadinya untuk menghela nafas dan menahan tangis. Lalu dia melanjutkan dengan menyampaikan, PDIP tetap setiap pada demokrasi di tengah tantangan pragmatisme politik yang semakin menguat.
Kata Hasto, sejarah penindasan melahirkan PDI Perjuangan. Partai yang selalu setia pada jalan demokrasi meskipun pada periode 2004–2014, pragmatisme politik semakin menguat.
Baca juga : Pushati FH Trisakti Bedah PP Piutang Negara, Kasih Saran Ini
"Pada periode ini, eksistensi partai sepertinya hanya mewujud apabila menjadi bagian pemerintahan. Dalam periode ini PDI Perjuangan terus melakukan konsolidasi ideologi, organisasi, kader, dan sumber daya kepartaian," tandas Hasto.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya