Dark/Light Mode

Cegah Data Pribadi Bocor, Begini Menurut Indonesia Digital & Cyber Institute

Senin, 28 Juli 2025 07:50 WIB
Wakil Direktur Keamanan Siber IDCI, Mario Romano. (Foto : Ist)
Wakil Direktur Keamanan Siber IDCI, Mario Romano. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia Digital & Cyber Institute (IDCI), lembaga strategis di Indonesia yang fokus pada transformasi digital dan keamanan siber menilai, perlindungan data pribadi dan keamanan siber semakin mendesak di era digital. 

"IDCI mendorong semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta, maupun individu, untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif terhadap keamanan data," kata Wakil Direktur Keamanan Siber IDCI, Mario Romano mengomentari dugaan sebanyak 4,6 juta data warga Jawa Barat bocor dan sempat viral di medsos dalam keterangannya, Senin (28/7/2025).

Menurut Mario Romano, publik harus sadar terhadap keamanan siber. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya keamanan data pribadi, termasuk cara melindungi informasi yang sensitif menjadi sangat penting.

"Selain itu, sadar terhadap implementasi teknologi keamanan yang kuat dengan penggunaan enkripsi, sistem keamanan yang canggih, dan audit reguler untuk memastikan bahwa data terlindungi dari akses yang tidak sah," jelasnya. 

Baca juga : Danantara Jadi Motor Kemandirian Industri Dalam Negeri

Kerja sama antar lembaga guna mendorong kolaborasi antara lembaga pemerintah dan sektor swasta dalam berbagi informasi mengenai ancaman siber dan cara menghadapinya juga sangat penting.

Hal lain, harus ada upaya penegakan hukum yang tegas dengan mendorong pihak berwenang untuk menindak tegas pelaku kejahatan siber, termasuk mereka yang terlibat dalam jual beli data di Dark Web.

Insiden ini, menurut  Romano, merupakan pengingat semua pihak memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan data pribadi.

IDCI berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan keamanan siber di Indonesia serta memberikan dukungan kepada pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan ini. "Mari bersama-sama menjaga keamanan data kita untuk masa depan yang lebih aman." pungkasnya.

Baca juga : Kemenekraf Dan GEKRAFS Perkuat Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Sebelumnya sempat ada dugaan peretasan data warga Jawa Barat sebanyak 4,6 juta data pribadi yang berhasil dicuri dan dijual di Dark Web.  

Peretasan ini diduga dilakukan oleh individu yang dikenal dengan nama akun Twitter @digitalghostt, yang mengklaim memiliki akses ke data sensitif seperti nama lengkap, alamat, Nomor Induk Kependudukan (NIK), email, dan pekerjaan warga.

Klaim ini dilengkapi dengan logo resmi dari Pemprov Jawa Barat, yang menimbulkan kekhawatiran akan kredibilitas dan keamanan pengelolaan data oleh lembaga pemerintah.

Namun Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat membantah isu yang menyebutkan data pribadi 4,6 juta warga bocor.

Baca juga : Prabowo, BRICS, Dan Peran Indonesia Di Mata Internasional

"Berdasarkan hasil penelusuran dan validasi yang telah kami lakukan, kami memastikan bahwa klaim kebocoran data yang dikelola Pemprov Jabar itu tidak benar," kata Kepala Diskominfo Jawa Barat Mas Adi Komar di Bandung, Minggu (27/7).

Adi menambahkan unggahan akun bernama DigitalGhostt pada media sosial X yang mengklaim telah membocorkan data warga Jabar dan menawarkan di forum darkweb tidak sesuai fakta.

Adi menambahkan, Pemprov Jabar tetap berkomitmen untuk menjaga keamanan data pemerintah dan data pribadi masyarakat.
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.