Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menteri Dan Anggota DPR Jangan Sibuk Berpolemik
Pernyataan Gaduh Bisa Jadi Beban Presiden
Jumat, 29 Agustus 2025 06:40 WIB
Sebelumnya
“Akibatnya, citra DPR semakin terpuruk, dianggap lebih tunduk pada agenda oligarki ketimbang aspirasi rakyat,” katanya.
Selanjutnya, kata Pangi, muncul pernyataan Menteri yang kontroversial. PPATK dan rekening nganggur, kebijakan pemblokiran rekening tidur tiga bulan menimbulkan keresahan, padahal masyarakat diajarkan untuk menabung.
“Wacana penyitaan tanah nganggur oleh Menteri ATR/BPN, mengancam rasa aman masyarakat. Pemberian izin tambang di kawasan wisata kelas dunia di Raja Ampat oleh Menteri ESDM menuai kecaman,” ungkapnya.
Baca juga : Top, Laba Bersih BTN Tumbuh Double Digit
Selanjutnya, kata Pangi, Menteri Keuangan dengan pernyataan bahwa gaji guru dan dosen menjadi beban negara, meski dibantah kemudian, melukai hati rakyat. Menteri Kesehatan, komentar “celana ukuran 33 cepat meninggal” dan “gaji Rp15 juta pasti sehat dan pintar” dianggap ngawur, tidak sensitif, dan melukai perasaan rakyat.
Begitupun, kata Pangi, pembatasan penjualan LPG di tingkat agen menyebabkan kelangkaan dan antrean panjang, lagi-lagi rakyat menjadi korban. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pun sama terkait kebijakan administratif tentang perebutan pulau Aceh–Sumatera Utara memicu konflik horizontal antarwilayah hingga menyinggung isu kedaulatan.
“Semua kasus di atas itu memperlihatkan minimnya kepekaan para menteri dalam memahami aspirasi rakyat dan nampak menantang rakyat,” katanya.
Baca juga : Kontribusi Sektor Hulu Dan Hilir Migas Semakin Besar
Pangi mengatakan, di tambah lagi kontroversi memuncak ketika anggota DPR Sahroni menyebut usulan pembubaran DPR sebagai pendapat “orang tolol sedunia.” Pernyataan tersebut, kata Pangi, justru memicu aksi demonstrasi rakyat ke DPR.
“Pesan rakyat jelas, jangan sekali-kali menantang suara rakyat. Itu sama dengan masuk ke pusaran air-cepat atau lambat pasti tenggelam,” katanya.
Pangi menegaskan, rakyat tidak membutuhkan pejabat yang sibuk “flexing,” menari-nari, atau melempar komentar ngawur. Rakyat, kata dia, butuh pejabat yang peka terhadap penderitaan mereka, berpikir sebelum berbicara, fokus bekerja, bukan membuat drama lalu meminta maaf.
Baca juga : Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung Akan Digeber Lagi
"Berhentilah berpolemik. Berhentilah melukai hati rakyat. Dengarkan suara rakyat, jangan abaikan penderitaan rakyat,” pungkasnya. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya