Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Prabowo juga meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi karena ada pihak-pihak yang sengaja ingin memancing kerusuhan.
“Ada unsur-unsur yang selalu ingin huru-hara, yang ingin chaos. Saya sampaikan kepada seluruh rakyat bahwa hal tersebut tidak menguntungkan rakyat, tidak menguntungkan masyarakat, tidak menguntungkan bangsa kita,” kata Prabowo.
Ia mengingatkan, semua pihak harus waspada, tenang, dan tidak boleh mengizinkan kelompok-kelompok yang ingin membuat huru-hara dan kerusuhan. “Aspirasi yang sah, silakan untuk disampaikan. Kita akan perbaiki semua yang perlu diperbaiki,” pungkasnya.
Baca juga : Affan, Mati Syahid
Prabowo menegaskan Indonesia saat ini tengah melakukan pembenahan besar-besaran untuk menjadi bangsa yang kuat, sejahtera, dan berdaulat. “Bangsa kita sedang mengumpulkan semua tenaga, semua kekuatan, semua kekayaan untuk kita bangkit membangun negara yang kuat, negara yang sejahtera, negara yang berhasil mengatasi kemiskinan dan kelaparan,” jelasnya.
Indonesia, tambahnya, memiliki visi besar untuk menjadi negara maju dan mandiri. “Kita akan jadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Kita akan menjadi negara industri yang tidak kalah dengan negara-negara lain,” tegasnya.
Sementara, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro menilai, pernyataan Presiden Prabowo tersebut bukan sekadar ekspresi emosional seorang kepala negara. “Dalam politik, setiap kata yang keluar dari seorang presiden adalah gestur yang sarat makna, sekaligus pesan kepada publik dan institusi yang dipimpinnya,” ujarnya, Jumat (29/8/2025).
Baca juga : Sahroni, Mulutmu Harimaumu
Agung menjelaskan, berbeda dengan pejabat lain yang cenderung defensif saat aparat diduga melanggar hukum, Prabowo justru menegaskan kekecewaannya secara terbuka. Ia juga menekankan investigasi harus dilakukan secara tuntas dan transparan.
Dalam kacamata politik, langkah ini disebut sebagai political signaling. Merujuk teori principal-agent, seorang pemimpin (principal) kerap berjarak dari agen (aparat birokrasi dan keamanan) yang melaksanakan kebijakan di lapangan. “Dengan mengutarakan kekecewaan terang-terangan, Prabowo menegaskan bahwa jarak itu nyata dan publik perlu tahu ia tidak akan menutup mata terhadap kesalahan agen,” jelasnya.
Gestur tersebut, kata Agung, memiliki dua lapis pesan. Pertama, kepada publik: Presiden berdiri di pihak rakyat, bukan membela aparat yang bersalah. Kedua, kepada aparat kepolisian: ada garis merah yang tidak boleh dilewati, dan jika dilanggar, presiden sendiri yang akan mengambil sikap.
Baca juga : Andhyka Muttaqin: Penanganan Antrean Haji Harus Lebih Baik
Agung menilai, pernyataan Prabowo juga penting untuk menjaga legitimasi politik pemerintah di tengah defisit kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Dengan menunjukkan sikap tegas, Prabowo membalik persepsi bahwa negara cenderung melindungi aparatnya.
“Dalam teori political legitimacy ala Seymour Martin Lipset, legitimasi rezim ditentukan oleh sejauh mana pemerintah mampu merespons krisis dengan tindakan yang kredibel. Karena itu, kekecewaan Prabowo bukan hanya bahasa moral, tetapi juga strategi politik preventif untuk menjaga legitimasi pemerintah,” terang Agung.
Agung menilai, sikap terbuka Prabowo ini merupakan hal baru dalam tradisi kepemimpinan di Indonesia dan menandai era di mana presiden tidak ragu mengkritik aparat di hadapan publik. “Jika langkah ini diikuti dengan tindakan nyata, maka kekecewaan Prabowo bukan sekadar gestur politik sesaat, melainkan sinyal lahirnya standar baru dalam hubungan antara pemimpin, aparat, dan rakyat,” tutup Agung. [UMM/FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya