Dark/Light Mode

6 dari 10 Risiko Global Isu Lingkungan, Aviliani: Pidato Prabowo di PBB Relevan

Kamis, 25 September 2025 08:29 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB. (Foto: Setpres)
Presiden Prabowo Subianto saat pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB. (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom senior dan Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro Ekonomi Kadin Indonesia Aviliani menyebut, pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Amerika Serikat, sangat relevan terkait isu lingkungan. 

Menurutnya, dari pidato Presiden Prabowo, ada dua hal besar yang bisa ditangkap. Pertama, soal perubahan iklim yang sudah merasakan dampaknya. Menurut World Economic Forum, dari 10 risiko terbesar dalam 10 tahun ke depan, 6 di antaranya adalah isu lingkungan. 

Baca juga : Indonesia Jadi Gadis Cantik Di Mata Investor Asing Usai Prabowo Pidato Di PBB

"Jadi, yang disampaikan Presiden sangat relevan. Kalau isu lingkungan ini tidak diselesaikan, kemiskinan akan semakin cepat meningkat," kata Aviliani, dalam acara bertajuk "Katadata Policy Dialogue: Presiden Prabowo di Panggung PBB, Apa Pentingnya?" di Jakarta, Rabu (24/9). 

Aviliani menjabarkan soal perubahan iklim, misalnya, ketika terjadi bencana, rumah-rumah habis. Tidak mungkin bisa dibangun kembali dalam 1–2 tahun, butuh 20 tahun. Artinya, kemiskinan makin tinggi. Jadi, komitmen menuju net zero emission 2060 harus kita lakukan bertahap. 

Baca juga : Dewan Syuro PKB Apresiasi Pidato Prabowo Di PBB

"PLN pun sudah mulai transisi ke energi terbarukan. Ini langkah baik. Walaupun Donald Trump mengatakan tidak penting, Eropa tetap konsisten, dan ekspor kita bisa ditolak kalau tidak ramah lingkungan. Karena itu, komitmen Indonesia penting untuk disampaikan di PBB," jelas Aviliani.

Kedua, lanjut Aviliani, soal kemandirian pangan, energi, dan air. Dalam 10 tahun ke depan akan ada krisis pangan dunia. Publik sudah merasakan waktu Covid-19, ketika supply shock terjadi, inflasi naik karena barang terlambat masuk, supply terbatas, sementara demand tetap tinggi. 

Baca juga : Menlu Sugiono Ungkap Agenda Presiden Prabowo: Hadiri Sidang Umum PBB Hingga Belanda

"Maka, kemandirian pangan, energi, dan air adalah kunci. Ini penting bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga kerja sama antarnegara," kata Aviliani.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.