Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan, penyebaran radikalisasi kini merambah platform game online. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan, karena menyasar anak-anak dan remaja, kelompok usia yang paling rentan terhadap paparan ideologi ekstrem.
Kepala BNPT, Komjen (Purn) Eddy Hartono, mengungkapkan, sedikitnya 13 anak dari berbagai daerah di Indonesia telah terhubung melalui permainan daring, yang kemudian menjadi pintu masuk bagi jaringan simpatisan teroris. Dari ruang permainan, interaksi bergeser ke platform komunikasi tertutup seperti Telegram dan WhatsApp, tempat proses indoktrinasi lebih intens berlangsung.
“Kami mencatat pola rekrutmen baru. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi target propaganda di media sosial, tapi juga di dalam game online yang mereka mainkan sehari-hari. Ini tantangan besar bagi kita semua,” ujar Kepala BNPT, pada Rapat Koordinasi Lintas Kementerian dan Lembaga Dalam Rangka Membahas Upaya Pencegahan Radikalisasi di Dunia Maya, di Jakarta, Selasa (30/9/2025).
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara. Pada 2024, seorang remaja 16 tahun di Singapura ditangkap karena membuat simulasi zona militer Afghanistan di game online. Permainan itu menarik banyak pengikut sebelum kemudian dipindahkan ke grup tertutup untuk penyebaran ideologi radikal. Di Amerika Serikat dan Jerman, game online juga dipakai untuk mengangkat isu kebencian, termasuk narasi Nazi, guna melawan pemerintah dan aparat.
Baca juga : Wartawan Cilik Menyusuri Energi Bersih di Grha Pertamina
BNPT menilai, pola ini selaras dengan peringatan PBB bahwa ancaman terorisme global kini semakin adaptif. Meski pengaruh Al Qaeda dan ISIS di Asia Tenggara menurun, faktor lokal seperti ketidakadilan sosial dan isu politik tetap memicu kerentanan radikalisasi.
Selain itu, penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konten propaganda memperparah situasi. Konten buatan mesin yang sulit dibedakan dari asli berpotensi menyesatkan, terutama bila terus diulang dan dianggap sebagai kebenaran.
BNPT mendorong koordinasi lintas kementerian/lembaga untuk memperkuat literasi digital, meningkatkan pengawasan ruang siber, serta memberikan perlindungan khusus bagi anak-anak dan remaja.
“Kita semua, terutama para orang tua, harus mewaspadai ruang baru radikalisasi ini. Jangan sampai anak-anak kita justru belajar kebencian lewat permainan,” tegas Kepala BNPT.
Baca juga : Menjaga Ideologi Melalui Legislasi
Rakor itu dihadiri Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komdigi Irjen Alexander, Direktur Operasi Keamanan Dan Pengendalian Informasi BSSN Satryo Suryantoro, Kementerian Sosial, Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen Mariman Darto, Plt. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Ratna Susianawati, Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah, Sekjen LPSK Sriyana, dan jajaran Densus 88 Antiteror Mabes Polri yang dipimpin Brigjen Pol Arif Makhfudiharto serta Bareskrim Polri (Subdit Anak).
Hadari juga para pejabat utama BNPT yaitu Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi Mayjen TNI Sudaryanto, Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Irjen Pol. Faizal Thayeb, Deputi Kerja Sama Internasional Andhika Chrisnayudhanto, Direktur Pencegahan Prof. Irfan Idris, Kasubdit Kontra Propaganda Kolonel Cpl Hendro Wicaksono, dan Kasubdit Kesiapsiagaan Kolonel Inf Indra Gunawan.
Direktur Identifikasi dan Sosialisasi (Idensos) Densus 88 Antiteror Polri, Brigjen Pol Arif Makhfudiharto menyambut baik inisiatif BNPT untuk memperkuat sinergi antar-kementerian/lembaga dalam menghadapi ancaman radikalisasi di dunia maya.
“Kolaborasi adalah kunci agar upaya pencegahan dan mitigasi radikalisasi di ruang digital bisa berjalan lebih efektif,” ucapnya.
Baca juga : Asta Cita, Digitalisasi Pembelajaran dan Urgensinya
Ia mengungkapkan, ancaman radikalisasi di dunia maya kini tidak lagi bersifat lokal, melainkan sudah menjadi persoalan global. Pergeseran signifikan terjadi dalam pola perekrutan, penyebaran ideologi, hingga tahapan aksi terorisme.
“Radikalisasi di dunia maya sudah sangat masif dengan sasaran anak-anak. Jika dulu terbatas pada lingkungan tertentu secara fisik, sekarang bisa menyasar siapa saja melalui dunia maya,” kata Arif.
Menurutnya, transformasi ini tampak jelas dalam proses tahapan pelaku teror. Jika sebelumnya perekrutan dimulai dari tatap muka—penyebaran ideologi, baiat, pelatihan, hingga eksekusi—kini seluruh proses itu dapat dilakukan secara daring. Bahkan baiat dan latihan persiapan (idad) telah berpindah ke ruang digital.
Situasi ini, lanjut Arif, semakin berbahaya karena menyasar kelompok rentan, terutama anak-anak dan remaja. “Ketika seorang anak memiliki permasalahan pribadi, mereka bisa lebih mudah terjerumus dalam jejaring radikal melalui dunia maya. Ini masalah serius yang perlu kita tangani bersama,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya