Dark/Light Mode

Perpres MBG Sudah Jadi

Masak Dimulai Jam 2.00, Makanan TK Diantar Pagi, Agak Siang Untuk SD

Rabu, 22 Oktober 2025 08:00 WIB
Foto: Dwi Pambudo/RM
Foto: Dwi Pambudo/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Peraturan Presiden (Perpres) tentang pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah jadi. Ada banyak aturan perbaikan dalam Perpres tersebut. Di antaranya, proses memasak menu MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak boleh di bawah jam 12 malam, tapi baru boleh dimulai jam 2 dini hari. Lalu, distribusi makanan juga diatur dengan ketat; pagi untuk anak TK, siang untuk anak SD.

Rampungnya Perpres MBG diungkap Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). Menurut Dadan, Perpres MBG sudah jadi dan tinggal disosialisasikan saja. "Sudah beres, tinggal dibagikan," kata Dadan.

Dadan mengatakan, Perpres itu mengatur sejumlah hal, termasuk sanksi bagi dapur MBG yang melanggar SOP. "Ada 106 yang dihentikan operasionalnya, baru 12 yang kami rilis lagi," ujarnya.

Wakil Ketua BGN Nanik S. Deyang menegaskan, Perpres MBG menjadi tonggak baru dalam menjamin kualitas makanan bergizi untuk rakyat kecil. Contoh kecilnya saja, dapur MBG tidak boleh lagi memasak di bawah jam 12 malam.

"Masaknya harus mulai jam dua pagi. Kenapa? Supaya makanan masih hangat dan segar saat diantar,” ujar Nanik di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/10/2025).

Menurut Nanik, setiap dapur wajib mematuhi urutan produksi sesuai penerima. “Masakan untuk anak TK yang diantar pagi harus dimasak lebih dulu, baru menyusul SD dan SMP yang pembagiannya lebih siang,” jelas loyalis Presiden Prabowo itu.

Baca juga : Presiden Pimpin Sidang Kabinet Paripurna: Maaf, Saya Sering Menyita Istirahatmu

Ia menegaskan Pemerintah tak akan kompromi terhadap pelanggaran standar. “Kalau ditemukan pelanggaran, kami hentikan sementara operasionalnya sampai evaluasi selesai,” tegasnya.

Selain waktu memasak, Perpres MBG juga menekankan standar kebersihan dapur. Setiap SPPG wajib melakukan epoksi lantai, yaitu pelapisan khusus agar lantai lebih kuat, anti-air, mudah dibersihkan, dan tahan terhadap kontaminasi bakteri.

“Tempat cuci ompreng harus dipisah dari tempat mencuci bahan mentah. Ini penting supaya tidak ada kontaminasi silang,” beber Nanik.

Hasil audit BGN menemukan masih ada dapur yang tak memenuhi standar. Beberapa bahkan belum memiliki pendingin udara di ruang pemorsian, sehingga mempercepat pembusukan makanan.

Zulhas Jadi Ketua Tim Koordinasi

Menko Pangan Zulkifli Hasan mendapat tugas baru terkait pelaksanaan MBG. Lewat Perpres yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto, Zulhas-sapaannya ditunjuk menjadi Ketua Tim koordinasi penyelenggaraan MBG.

Baca juga : Tumpuk Duit Triliunan di Bank, Pemda Disentil Purbaya

"Saya baru terima tiga hari yang lalu sebagai ketua tim untuk melakukan koordinasi. Nanti dibagi begitu,” kata Zulhas.

Dengan adanya Perpres tersebut, bakal ada pembagian dalam tata kelola penyelenggaraan MBG. Pembagian peran antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjalankan program MBG.

“Pelaksana utamanya tetap BGN, tapi pengawasan akan dilakukan bersama Kementerian Kesehatan, Kemendagri, dan Pemerintah Daerah,” papar Zulhas.

Ia menjelaskan, Puskesmas dan Dinas Kesehatan akan rutin melakukan evaluasi lapangan. “Dipimpin langsung oleh Bu Nanik. Jadi, sistem pengawasan kita berlapis,” imbuhnya.

Zulhas optimistis Perpres MBG membuat pelaksanaan program semakin solid dan terukur. “Targetnya jelas: 82,9 juta penerima manfaat. Kalau orang bilang target pertumbuhan 6 persen itu mustahil, saya bilang siapa bilang nggak mungkin? Kita harus optimis,” ujarnya bersemangat.

Menurutnya, program MBG juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. “Kita lihat banyak UMKM ikut terlibat, petani lokal, peternak kecil, semua kebagian rezeki. Jadi, efeknya bukan cuma gizi, tapi juga ekonomi,” ucap Ketua Umum PAN itu.

Baca juga : Inflasi Terjaga di 2 Persen, Presiden ke-8 Puji Presiden ke-7

Diketahui, sepanjang Januari sampai Oktober, BGN sudah menyalurkan program 1,41 miliar MBG kepada 36,7 juta penerima manfaat. Penerima manfaatnya beragam: anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hingga Oktober 2025, sudah ada 12.508 dapur MBG (SPPG) beroperasi dari target 32.000 unit nasional.

Kehadiran dapur MBG juga membawa efek ekonomi. Program ini menyerap 18.895 pelaku UMKM di sektor pangan, transportasi, hingga pengemasan.

“Program ini bukan sekadar memberi makan, tapi membangun sistem gizi nasional. Dari petani, dapur, hingga anak-anak di sekolah, semua tersambung dalam satu rantai kesejahteraan,” ujar Nanik menutup pernyataannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.