Dark/Light Mode

China Jadi Episentrum Baru Peradaban, Muslim Berperan Sebagai Jembatan Dunia

Rabu, 5 November 2025 14:19 WIB
Foto: LPOI.
Foto: LPOI.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menilai, kemajuan pesat peradaban China serta kepemimpinannya di berbagai bidang telah menjadikan negeri itu sebagai episentrum baru peradaban global.

Ia menegaskan, umat Muslim di China kini memiliki peran strategis sebagai jembatan penghubung antarperadaban dunia.

Dalam keterangan persnya di sela-sela kunjungan ke China pada 3–7 November 2025, Said Aqil menyebut bahwa China kini bukan hanya menjadi pemimpin (leader), tetapi juga trend setter dan pusat peradaban modern dunia.

 “China telah berhasil mengubah gaya hidup dunia. Daya tahan dan daya saing mereka sebagai negara sosialis modern benar-benar teruji di tengah kompetisi global,” ujar Said Aqil.

Ia mengungkapkan, sistem sosial, budaya, pemerintahan, bisnis, lingkungan hidup, hingga kemajuan teknologi di China berjalan kokoh dan tangguh menghadapi berbagai gejolak global.

Menurut mantan Ketua Umum PBNU periode 2010–2021 itu, eksistensi multi-religi di China telah melebur dalam satu tarikan napas sejarah, budaya, dan tata nilai kehidupan masyarakat.

Baca juga : Prabowo Cerita Masa Muda Pengguna Setia Kereta Api

“Meski bukan negara agama, China menghormati dan menyediakan ruang tumbuh bagi semua agama, termasuk Islam,” ujarnya.

Said Aqil yang juga menjabat Dewan Pengarah BPIP menuturkan, umat beragama di China, khususnya umat Muslim, memiliki kebebasan dalam menjalankan ibadah sejauh selaras dengan konstitusi negara.

Ia menilai pemerintah China memberi perhatian besar terhadap pelestarian masjid-masjid kuno dan makam bersejarah Islam yang masih terawat dengan baik hingga kini. 

Terkait isu dugaan tekanan terhadap etnis Uighur, Said Aqil menegaskan bahwa propaganda Barat tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

“Fakta membuktikan masyarakat Uighur dan Xinjiang hidup damai, bahagia, dan memiliki sumber kehidupan yang memadai. Indeks kebahagiaan dan harapan hidup mereka cukup tinggi,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap negara berhak menjaga keamanan nasionalnya dari ancaman radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Baca juga : Kemenag Pastikan, Peralihan Aset Haji ke Kemenhaj Berjalan Tanpa Hambatan

“Upaya memberantas ekstremisme dan terorisme adalah sah dan dibenarkan. Radikalisme adalah musuh agama dan negara,” tambahnya. 

Said Aqil optimistis, Muslim China dapat menjadi penghubung (connecting bridge) bagi peradaban global sekaligus perekat hubungan antar-Muslim dunia.

“Kehadiran Muslim China dengan ekosistem halal-nya bisa menjadi ujung tombak penetrasi pasar Muslim global,” katanya.

Ia juga menilai potensi ‘China Muslim Culture’ dapat menjadi komoditas budaya baru yang menentukan tren Muslim global di masa depan.

Sekretaris Jenderal LPOI, Imam Pituduh, menambahkan bahwa kecanggihan teknologi dan semangat juang kaum muda China akan menjadi kanal baru persahabatan global berbasis digital.

“Keruntuhan dominasi Barat dan kepemimpinan Asia yang dipimpin China akan membuka babak baru sejarah peradaban dunia. BRIC Plus bisa menjadi ruang bersama untuk menata dunia yang lebih damai,” ujarnya.

Baca juga : PT Timah Perkuat Citra RI Sebagai Pemimpin Timah Dunia

Sementara itu, Said Aqil menilai relasi Indonesia–China yang terhubung secara historis, kultural, dan spiritual dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan bersama.

Ia mengusulkan agar kerja sama antarumat Muslim kedua negara dikembangkan melalui diplomasi Business to Business (B2B), People to People (P2P), dan Government to Government (G2G) dengan fokus pada misi “Muslim Silk Road” (Jalur Sutra Muslim).

Menutup keterangannya, Said Aqil mengusulkan agar China menghidupkan kembali “Spirit Muhibah Laksamana Zheng He” sebagai simbol persahabatan dan kerja sama dunia Islam.

“Dari China bersama komunitas Muslim, untuk peradaban yang lebih baik,” ujarnya.

Delegasi LPOI dalam kunjungan ke China kali ini di antaranya terdiri atas Dr. H. Yusnar Yusuf Rangkuti, Dr. KH. Anwar Sanusi, Dr. Baharudin Husein, KH. Sadzeli Karim, Muhammad Yunus, SE, Ir. H. Faisal Nur Syamsi, H. Yance Andrianto, Dr. TGH Muslihan Habib, Dr. KH. Imam Sofwan Yahya, Indera Hidayat, dan Rohmat Faisol.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.