Dark/Light Mode

Hadiri Komisi Narkotika Di Austria

Kepala BNN: Indonesia Perkuat Deteksi Dini Hadapi Ancaman Narkoba Sintetis

Selasa, 9 Desember 2025 10:42 WIB
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN RI) Komjen Suyudi Ario Seto saat menghadiri sidang ke-68 The Commission on Narcotic Drugs (CND) yang berlangsung pada 4-5 Desember 2025 di United Nations Headquarters, Wina, Austria. Foto: BNN RI
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN RI) Komjen Suyudi Ario Seto saat menghadiri sidang ke-68 The Commission on Narcotic Drugs (CND) yang berlangsung pada 4-5 Desember 2025 di United Nations Headquarters, Wina, Austria. Foto: BNN RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN RI) Komjen Suyudi Ario Seto menyoroti ancaman narkotika sintetis di dunia global, khususnya di Indonesia.

"Indonesia menegaskan perlunya respons nasional yang lebih adaptif terhadap ancaman sintetis, khususnya nitazenes dan prekursor desainer yang berkembang sangat cepat di berbagai kawasan dunia," ujar Komjen Suyudi.

Hal itu diungkapkan Suyudi saat menghadiri sidang ke-68 The Commission on Narcotic Drugs (CND) yang berlangsung pada 4-5 Desember 2025 di United Nations Headquarters, Wina, Austria.

Komjen Suyudi hadir didampingi Direktur Kerja Sama, RM Aria Teguh Mahendra Wibisono, Direktur Narkotika Ruddi Setiawan, serta Plt. Direktur Intelijen, Adri Irniadi.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Relaksasi Dan Bantuan

Untuk itu, Komjen Suyudi menegaskan pentingnya kesiapan nasional dalam menghadapi ancaman narkotika sintetis. Indonesia perlu memperkuat kapasitas laboratorium untuk sistem deteksi dini.

Indonesia, kata Suyudi, dipastikan akan terus berperan aktif dalam forum internasional untuk memastikan setiap kebijakan global berbasis ilmiah, berimbang, dan memperhitungkan kepentingan keamanan kesehatan publik.

"Indonesia memerlukan penguatan kapasitas laboratorium, sistem deteksi dini, dan standar toksikologi yang memadai guna mengantisipasi masuknya narkotika jenis baru, serta mendukung model class-based scheduling bagi zat sintetis berisiko tinggi," ujarnya.

Forum ini membahas perkembangan implementasi tiga Konvensi Internasional Pengendalian Narkotika, tren global narkotika sintetis, rekomendasi teknis WHO, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi arah kebijakan narkotika internasional.

Baca juga : Indonesia Perkuat Sertifikasi Hutan Untuk Hadapi Regulasi Global & EUDR

Pada agenda pembahasan implementasi konvensi, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) memaparkan lonjakan signifikan jumlah New Psychoactive Substances (NPS) atau zat baru yang menyerupai narkotika secara global.

Dari 254 jenis menjadi lebih dari 1.400 jenis dalam satu dekade terakhir, termasuk 168 opioid sintetis yang telah terdeteksi. Tren ini selaras dengan meningkatnya peredaran designer precursors dan kelompok zat sintetis baru seperti nitazenes, yang kini menjadi perhatian utama negara-negara anggota.

WHO melalui Expert Committee on Drug Dependence (ECDD) merekomendasikan dua jenis nitazenes untuk dimasukkan ke Schedule I Konvensi 1961, serta MDMB-Fubinaca ke Schedule II Konvensi 1971.

Perdebatan juga mengemuka soal status daun koka, dengan rekomendasi WHO agar tetap berada di Schedule I, posisi yang didukung Indonesia. Dalam sidang juga dibahas perkembangan implementasi Resolusi 68/6 mengenai pembentukan Panel Ahli Independen beranggotakan 19 pakar internasional.

Baca juga : Hilirisasi Mineral Kritis, Kunci Indonesia Perkuat Posisi Global

Hingga sesi ini, 15 kandidat ahli telah mendapatkan persetujuan, sementara beberapa kelompok regional masih berproses untuk mencapai konsensus. Panel ini berperan penting dalam menyusun analisis ilmiah yang menentukan arah kebijakan global terkait narkotika dan prekursor.

Dinamika geopolitik juga mengemuka saat persidangan, dari perdebatan mengenai operasi antinarkotika, keberatan negara terhadap kandidat panel dari kawasan tertentu, hingga sorotan negara-negara Asia dan Afrika terkait penanganan opioid sintetis.

BNN RI mendapatkan apresiasi karena komitmen yang tegas, konsisten, dan konstruktif dalam mendukung rekomendasi WHO, serta komitmen pada peningkatan kapasitas laboratorium nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.