Dark/Light Mode

IA-ITB Aceh Dorong Desa Mandiri Dengan PLTS, Atasi Layanan Lumpuh Pascabencana

Jumat, 12 Desember 2025 10:39 WIB
Perangkat internet satelit bantuan IA-ITB Aceh di RSUD dr Muchtar Hasbi Aceh Utara. Foto: M Ade Al Kautsar/RM
Perangkat internet satelit bantuan IA-ITB Aceh di RSUD dr Muchtar Hasbi Aceh Utara. Foto: M Ade Al Kautsar/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Aceh kini berfokus mengalihkan respons tanggap darurat menjadi program pemulihan awal pascabencana hidrometeorologi besar. 

Langkah strategis ini diwujudkan melalui inisiasi penguatan desa dengan konsep Desa Tanggap Bencana dan Berdikari Energi, yang mana Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dijadikan sebagai kunci kemandirian energi.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dipicu oleh terbentuknya Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025. Bencana ini meninggalkan dampak yang sangat luas, meliputi 18 kabupaten/kota, 225 kecamatan, dan 3.658 gampong (desa) terdampak. Hingga 8 Desember 2025, tercatat lebih dari 1,9 juta jiwa menjadi korban terdampak, dengan 848.870 jiwa mengungsi di 1.978 titik pengungsian.

Sekjen IA-ITB Aceh, Mulkan Fadhli, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah meningkatkan ketahanan desa terhadap bencana melalui energi bersih, guna menjamin ketersediaan tiga layanan dasar: air bersih, penerangan, dan komunikasi, saat krisis maupun pasca-bencana. 

Baca juga : RSUD Aceh Tamiang Sudah Mulai Aktif, Buka Layanan IGD dan Cuci Darah

IA-ITB mengusung konsep teknis utama berupa pembangunan "Solar Water Purification Station" di setiap desa atau klaster pengungsian. 

Stasiun ini dirancang mampu mengambil air dari berbagai sumber seperti sungai, sumur, atau bak penampungan darurat, dan memurnikannya menggunakan mesin penyuling air yang seluruh tenaganya berasal dari PLTS dan baterai. 

Secara khusus, inisiatif ini bertujuan menyediakan akses air bersih darurat, penerangan, serta menjadi titik daya di posko dan fasilitas publik.

"Kami siaga sejak hari pertama melalui koordinasi rapid response dan dukungan teknologi tepat guna: PLTS, Starlink, mesin penyuling air," ujar Mulkan Fadhli, Kamis (11/12).

Baca juga : Pakar UGM Soroti Mitigasi Pemulihan Infrastruktur Komunikasi Pasca Bencana

Mulkan juga menambahkan bahwa aspek keberlanjutan program dijamin melalui penguatan kelembagaan. IA-ITB mendorong pembentukan dan penguatan BUMDes Energi atau Pokja Energi Desa, termasuk di dalamnya pelatihan teknisi PLTS tingkat dasar bagi pemuda desa. 

Setelah fase tanggap darurat berlalu, sistem ini tidak dibongkar, melainkan tetap beroperasi sebagai layanan air bersih dan energi berbiaya murah. Air bersih dapat dijual dengan tarif sosial untuk menutupi biaya perawatan filter, pompa, dan baterai. Pendapatan ini kemudian dikelola oleh BUMDes Energi untuk O&M sistem, penggantian suku cadang, dan gaji pegawai.

"Penguatan kelembagaan ini penting agar PLTS terpelihara dan berkelanjutan," lanjutnya. Ia menegaskan pentingnya alih kelola kepada masyarakat.

IA-ITB melalui Badan Ganesha Peduli (BGP) telah bergerak cepat sejak 27 November 2025, merespons bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Dalam fase tanggap darurat, bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan dasar, air bersih, obat-obatan, serta dukungan teknologi seperti PLTS, mesin penyuling air, dan layanan komunikasi darurat (Starlink). 

Baca juga : Misbakhun Dorong Percepatan Pemulihan Ekonomi Sumatera Pasca-Bencana

Mulkan Fadhli berharap pendekatan kolaboratif ini dapat memastikan bantuan menjangkau masyarakat terdampak secara lebih merata dan efektif.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.