Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Catatan A. Iskandar Zulkarnain, Mantan Anggota Badan Pelaksana BPKH
Dana Haji Dan Diplomasi Negara
Senin, 29 Desember 2025 14:13 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam percaturan global hari ini, keuangan tidak lagi berdiri sebagai urusan domestik semata. Dana telah menjadi bahasa diplomasi yang menentukan posisi tawar sebuah negara. Dalam konteks haji dan umrah, bahasa itu semakin penting karena Arab Saudi tengah membangun ekosistem haji global yang terintegrasi, terencana, dan berorientasi jangka panjang. Di dalam sistem seperti ini, negara yang hanya datang sebagai pengguna layanan akan selalu berada di posisi bawah.
Dana haji, yang selama ini dipahami terutama sebagai dana amanah yang harus dijaga dengan prinsip kehati-hatian, sesungguhnya memiliki dimensi strategis yang lebih luas. Ketika dikelola secara berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan layanan jamaah, dana haji menjadi bagian dari arsitektur kebijakan yang mampu memperkuat posisi negara dalam hubungan bilateral. Ia tidak bekerja sebagai alat tekanan, tapi sebagai fondasi kemitraan yang setara.
Arab Saudi melalui Saudi Vision 2030 secara sadar menempatkan pembiayaan dan investasi sebagai elemen kunci transformasi haji. Infrastruktur layanan, kawasan akomodasi, sistem transportasi, hingga digitalisasi penyelenggaraan dirancang dalam satu rantai nilai yang membutuhkan kepastian jangka panjang. Negara-negara yang memiliki kapasitas keuangan dan konsistensi kebijakan akan memiliki ruang bicara lebih besar dalam ekosistem ini. Di sinilah dana haji memperoleh makna diplomatiknya.
Kuat Finansial, Lemah Menawar
Baca juga : Haji Bukan Sekadar Ibadah, Ini Soal Kekuatan Negara
Indonesia berada pada posisi yang sangat unik. Tidak ada negara lain yang mengelola dana haji dalam skala sebesar Indonesia dengan basis jamaah yang juga terbesar di dunia. Kombinasi antara skala dana dan skala jamaah ini seharusnya menjadi sumber pengaruh yang signifikan. Namun dalam praktik kebijakan, kekuatan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi posisi tawar yang sepadan.
Pengelolaan dana haji masih sering ditempatkan dalam kerangka internal dan sektoral. Fokus kebijakan cenderung berhenti pada stabilitas, likuiditas, dan imbal hasil jangka pendek. Sementara itu, dimensi jangka panjang seperti bagaimana dana haji dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem haji global belum sepenuhnya terintegrasi dalam strategi negara.
Akibatnya, Indonesia sering hadir dalam hubungan dengan Arab Saudi membawa beban terbesar sebagai pengirim jamaah, tapi tanpa agenda strategis yang setara. Padahal dalam geopolitik modern, kekuatan finansial yang dikelola secara institusional adalah salah satu modal utama diplomasi. Negara yang mampu menyelaraskan kepentingan keuangan dengan kepentingan layanan dan stabilitas sistem akan lebih didengar dan dihormati.
Baca juga : Kepala BGN Main Golf, Qodari: Bagian Penggalangan Dana Buat Bencana Sumatera
Dana haji sebenarnya memberi Indonesia ruang untuk berbicara dengan bahasa yang dipahami dalam diplomasi modern: konsistensi, keberlanjutan, dan kontribusi nyata. Bukan untuk menuntut, tetapi untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan. Tanpa desain kebijakan yang menyeluruh, kekuatan ini akan terus berada dalam posisi laten, besar tetapi tidak efektif.
Momentum Presiden dan Diplomasi Naik Kelas
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki momentum penting untuk mengubah arah ini. Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah membuka peluang untuk menyelaraskan kebijakan layanan, kebijakan keuangan, dan kebijakan luar negeri dalam satu kerangka yang utuh. Dalam konteks ini, dana haji tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari strategi besar kepentingan nasional.
Diplomasi haji yang naik kelas tidak ditentukan oleh seberapa keras suara Indonesia, melainkan oleh seberapa rapi desain kebijakannya. Ketika dana haji dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan dikaitkan secara langsung dengan kualitas layanan jamaah, Indonesia memiliki dasar yang kuat untuk berbicara setara dengan Arab Saudi. Bukan sebagai pihak yang selalu menyesuaikan diri, tetapi sebagai mitra yang ikut menjaga stabilitas dan kualitas penyelenggaraan haji global.
Baca juga : Merawat Pembangunan Berkelanjutan dan Peran Golkar di Tengah Perubahan
Sejumlah negara lain telah mulai menempuh jalur ini. Mereka tidak hanya mengirim jamaah, tetapi juga masuk ke dalam rantai nilai industri haji melalui kerja sama layanan, investasi, dan integrasi sistem. Jika Indonesia tidak segera menyelaraskan kekuatan finansialnya dengan kepentingan strategis negara, risiko terbesarnya bukan kehilangan dana atau jamaah, melainkan kehilangan kesempatan historis.
Menempatkan dana haji sebagai bagian dari diplomasi negara bukan berarti mengabaikan prinsip kehati-hatian. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kehati-hatian jangka panjang. Dengan desain kebijakan yang tepat, dana haji dapat tetap aman sekaligus relevan. Aman bagi jamaah, dan relevan bagi posisi Indonesia di dunia Islam.
Pada akhirnya, dana haji adalah cermin kedewasaan negara dalam mengelola amanah dan kepentingan sekaligus. Pemerintahan Pak Prabowo memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu naik kelas dalam diplomasi haji. Bukan dengan retorika, tetapi dengan kebijakan yang membuat Indonesia layak didengar dan dihormati. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia mampu, melainkan apakah Indonesia berani menempatkan dana haji sebagai bagian dari strategi besar negara.
Penulis adalah: Dr. A. Iskandar Zulkarnain, CRP, CIFM, GRCP, CIB, RIFA, WCW. Perancang kebijakan Islamic finance dan ekosistem haji-umrah serta mantan Anggota Badan Pelaksana sekaligus Chief Investment Officer Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya