Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pesawat ATR 42-500 Tabrak Bulusaraung, 1 Korban Ditemukan Dalam Jurang
Senin, 19 Januari 2026 08:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tak sampai 1x24 jam, Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak, berhasil ditemukan Tim SAR di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Pesawat yang diduga menabrak gunung itu, hancur berkeping-keping. Selain serpihan pesawat, Tim SAR juga berhasil menemukan 1 korban di dalam jurang, tak jauh dari serpihan badan pesawat.
Enam serpihan pesawat ditemukan pada Minggu (18/1/2026) pagi, di lereng Gunung Bulusaraung. Bagian yang pertama ditemukan adalah pintu, badan, dan ekor serta serpihan kecil-kecil dari pesawat.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan mengungkapkan, badan dan ekor pesawat tersebut ditemukan pada pukul 07.49 WITA oleh tim darat. Mendapat informasi ini, Basarnas lalu memberangkatkan Tim AJU untuk melakukan evakuasi pada badan dan ekor pesawat ATR 42-500.
Evakuasi dilakukan dengan hati-hati mengingat posisi penemuan berada di lereng gunung yang terjal. Selain itu, kondisi cuaca yang berubah-ubah menjadi kendala bagi Tim SAR gabungan melakukan evakuasi.
Selang beberapa jam, tepatnya pukul 14.20 WITA, tim berhasil menemukan satu korban dengan jenis kelamin laki-laki di koordinat 04°54' 44"S dan 119° 44' 48" S. Korban berada di dalam jurang tidak jauh dari serpihan pesawat.
"Di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, di Kabupaten Maros, Sulsel, Minggu (18/1/2026).
Arif menegaskan operasi SAR akan terus dilanjutkan. Seluruh kegiatan tetap mengutamakan keselamatan personel. "Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara maksimal, profesional, dan terukur," janjinya.
Tim SAR juga telah menemukan alat pemancar sinyal (Emergency Locator Transmitter/ELT) milik pesawat ATR 42-500. Benda berwarna oranye itu awalnya sempat dikira blackbox atau kotak hitam pesawat.
Baca juga : Kunker ke Inggris-Swiss: Presiden Akan Bertemu Raja Charles, Pidato di WEF
Danrem 141 Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan mengakui, pihaknya sempat keliru karena mengidentifikasi alat tersebut sebagai kotak hitam pesawat. Menurutnya, hal ini terjadi karena ciri-ciri yang mirip antara ELT dan kotak hitam.
"Bahwa itu bukan blackbox, warnanya sama, hanya namanya ELT yaitu alat pendeteksi radar. Karena kondisinya malam tadi," jelasnya di Posko Tim SAR, Desa Tompobulu, Kecamata Balocci, Pangkep.
Sementara itu, Kasi Ops Basarnas Makassar Andi Sultan mengungkapkan, ELT pesawat itu memiliki ukuran sekitar 22 cm x 30 cm. Alat tersebut ditemukan pada bagian depan pesawat.
"Biasanya kalau blackbox itu di belakang. Jadi kami konfirmasi tadi yang menemukan, bahwa dia menemukan di depan," Andi Sultan.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan dugaan awal terkait jatuhnya pesawat ATR 42-500. KNKT menduga pesawat menabrak gunung hingga membuat emergency locator transmitter (ELT) tidak berfungsi.
"Ada namanya ELT, Emergency Locator Transmitter, tapi dengan kejadian kalau dia nabrak gunung, kalau bener dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga," ujar Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono.
Di tempat terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan, proses pencarian pesawat ATR 42-500 terus dilakukan secara intensif. Ia memastikan, akan memberikan pendampingan, dukungan informasi, dan layanan yang dibutuhkan kepada keluarga korban.
Dudy menyampaikan, sejak laporan hilang kontak diterima, pemerintah langsung mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Operasi pencarian dan pertolongan dikoordinasikan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dengan dukungan TNI, Polri, AirNav Indonesia, BMKG, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya.
Baca juga : Tak Ada Lagi Daerah Terisolir di Sumatera
Dudy berpesan agar tim tetap menekankan keselamatan dan pencarian menjadi prioritas utama pemerintah. Seluruh unsur terkait terus bekerja untuk memperluas area pencarian dan menindaklanjuti setiap informasi yang diterima.
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak berspekulasi, dan tetap mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh pihak berwenang. CrisisCenter telah dibuka di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebagai pusat koordinasi informasi.
Diketahui, Pesawat ATR 42-500 hilang kontak saat berada di wilayah Pegunungan Leang Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/01/2026). Pesawat milik Indonesia Air Transport ini terbang dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta menuju Sultan Hasanuddin Makassar.
Jadi Sorotan DPR
Menanggapi insiden ini, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera audit menyeluruh terhadap pengawasan kelaikudaraan pesawat di Indonesia.
"Karena pesawat tersebut buatan tahun 2000, artinya sudah berusia 26 tahun. Investigasi ini krusial agar kejadian serupa tidak terulang," pinta Huda dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/1/2026).
Huda mengapresiasi langkah cepat Basarnas, TNI AU, dan otoritas Bandara Sultan Hasanuddin dalam operasi pencarian di wilayah pegunungan Bantimurung dan Desa Leang-leang. Ia mendorong penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk menyisir area sulit di tengah cuaca yang tidak menentu.
Diingatkan, industri penerbangan nasional waspada terhadap fenomena Siklon Tropis Nokaen di utara Sulawesi Utara. Siklon ini memicu cuaca buruk di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur yang berisiko tinggi bagi aktivitas penerbangan.
Huda meminta, maskapai tidak mengabaikan ambang batas cuaca minimum (weather minimal) demi keselamatan penumpang. "Insiden ini harus jadi pengingat keras bagi seluruh penyedia layanan transportasi udara. Keselamatan adalah harga mati," tegasnya.
Baca juga : Bahas Strategi Hankam dan Geostrategi, Prabowo Rutin Ketemu Pimpinan TNI
Wakil Ketua Komisi V DPR Ridwan Bae menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Artinya, kesehatan dan kelaikan pesawat wajib benar-benar dipastikan sebelum terbang.
Ridwan menyampaikan empati kepada keluarga kru dan penumpang pesawat, sekaligus mengapresiasi respons cepat tim SAR gabungan Basarnas, TNI, dan Polri. "Setiap kejadian harus menjadi pelajaran untuk terus memperbaiki sistem," katanya.
Pengamat penerbangan Alvin Lie memprediksi, kecelakaan ATR 42-500 bukan hanya karena faktor cuaca buruk, tapi ada faktor lain. Sebab, pesawat ini sudah diizinkan untuk melakukan pendaratan saat berada di wilayah Leang-Leang, Kabupaten Maros.
Artinya, cuaca saat itu tak terlalu mempengaruhi pesawat melakukan pendaratan. "Karena sebelum hilang, sudah diizinkan mendarat, sudah dekat bandara. Kalau cuaca buruk, bandara pasti ditutup dan dinyatakkan tak layak untuk mendarat atau take off," ulasnya.
Senada, pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai, kondisi cuaca saat kejadian tak menunjukkan gangguan ekstrem. Karena penerbangan lain yang menuju Bandara Sultan Hasanuddin tetap dapat mendarat tanpa kendala.
"Kalau cuacanya ekstrem, pasti akan ada pesawat lain yang mengalami gangguan saat pendaratan. Apakah ada? Tidak,” urai Gerry.
Selain cuaca, ia juga menyoroti faktor komunikasi dan sistem penerbangan. Menurutnya, alat komunikasi pada saat itu dinilai memadai dan tidak ada laporan gangguan dari penerbangan lain. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa penyebab kecelakaan tidak berdiri pada satu faktor saja.
Gerry menekankan, dalam setiap kecelakaan pesawat, biasanya terdapat lebih dari satu faktor yang saling berkaitan. Karena itu, ia meminta agar publik menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas terkait untuk mengetahui penyebab pasti jatuhnya pesawat ATR di Maros. MEN/FAQ
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya