Dark/Light Mode

Investasi SDM

Pengamat Kebijakan: MBG Justru Diperlukan di Tengah Tantangan Ekonomi

Jumat, 6 Februari 2026 21:53 WIB
Foto: Tedy Kroen/RM.
Foto: Tedy Kroen/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat kebijakan publik Fakhrido Susilo menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan intervensi sosial fundamental dan investasi jangka panjang pembangunan manusia Indonesia.

Fakhrido, yang juga Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik President University serta Direktur Eksekutif lembaga riset Kiprah itu menyebut, dinamika ekonomi global tidak bisa dijadikan alasan untuk menghentikan program strategis seperti MBG.

“Gejolak ekonomi global tidak hanya dialami Indonesia. Negara-negara lain seperti India, Brazil, hingga Amerika Serikat juga mengalaminya. Namun tanggung jawab sosial negara tetap dijalankan. Mereka tidak menghentikan program midday meal,” ujar Fakhrido.

Menurutnya, pemerintah memiliki banyak instrumen kebijakan untuk memitigasi tekanan ekonomi tanpa harus mengorbankan pemenuhan gizi anak-anak.

"Saya pikir ada banyak instrumen kebijakan yang bisa ditawarkan pemerintah untuk bisa memitigasi atau mengatasi dinamika ekonomi, tanpa harus mengorbankan MBG," tuturnya. 

Fakhrido juga menyoroti realitas sosial orang tua di Indonesia yang kerap harus bekerja dengan lebih dari satu profesi demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Baca juga : Kemenperin: 1.236 Industri Baru Siap Produksi Di 2026, Serap 218 Ribu Tenaga Kerja

“Banyak orang tua bekerja sebagai buruh di pagi hari dan pengemudi ojek online di sore hari. Kondisi ini membuat perhatian terhadap gizi anak sering terabaikan. Kehadiran MBG meringankan beban orang tua dan memastikan anak tetap mendapat asupan bergizi tanpa mengganggu produktivitas kerja,” jelasnya.

Ia menegaskan, nutrisi dalam program MBG bukan sekadar soal perut kenyang, melainkan fondasi pembentukan kemampuan berpikir anak. Intervensi di jenjang pendidikan tinggi, menurutnya, tidak akan optimal jika fondasi gizi sejak usia dini rapuh.

“Tanpa gizi yang baik, skor PISA Indonesia akan sulit bersaing. Target Indonesia Emas 2045 pun hanya akan menjadi angan-angan,” katanya.

“Jika kita memiliki infrastruktur besar, seperti jalan tol yang luas, tetapi manusianya tidak berkualitas, bagaimana kita mau bersaing pada 2045? Indonesia Emas adalah tentang pembangunan manusia,” tambah Fakhrido.

Sebagai investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia, MBG dinilai sebagai langkah berani yang layak dikawal bersama.

Pandangan ini sejalan dengan pendapat dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, pakar sekaligus edukator kesehatan.

Baca juga : Dinikmati 60 Juta Orang, MBG Ciptakan 1 Juta Lapangan Kerja

Menurut dr. Rita, MBG merupakan solusi konkret pemerintah dalam menjawab kekhawatiran semakin terbatasnya akses anak-anak terhadap makanan bergizi.

Selain itu, jika dimaksimalkan, program ini juga berpotensi menggerakkan perekonomian melalui pengolahan pangan lokal.

“Kehadiran MBG bertujuan untuk mendekatkan dan memudahkan akses anak-anak terhadap makanan bergizi,” tuturnya.

Salah satu kunci keberhasilan MBG, lanjut dr. Rita, adalah diversifikasi menu. Ia mengingatkan agar program ini tidak terpaku pada menu tunggal seperti ayam goreng, telur, tahu, dan tempe semata.

Pemanfaatan pangan lokal dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus menggerakkan ekonomi akar rumput.

“Jika kita fokus pada pangan lokal, keragaman pangan anak meningkat, lapangan pekerjaan terbuka, dan pendapatan masyarakat ikut naik. Efek ekonominya nyata,” jelasnya.

Baca juga : BGN Wajibkan Kepala SPPG Rajin Turun Ke Lapangan

Selain itu, penggunaan bahan pangan lokal juga menjadi kunci efisiensi anggaran yang selama ini diperdebatkan publik.

Berdasarkan data, Indonesia memiliki 389 jenis buah lokal, 228 jenis sayuran, 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis protein, serta 26 jenis kacang-kacangan.

“Kadang yang kurang hanya eksposurnya. Dengan 228 jenis sayur, kita tidak akan kekurangan. Tidak akan ada keluhan soal kehabisan wortel atau buncis jika memanfaatkan pangan lokal. Ini yang perlu dieksplorasi lebih jauh,” pungkas dr. Rita.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.