Dark/Light Mode

Hadirkan Perempuan Berdaya Dan Bermartabat

Dewie Yasin Limpo Deklarasikan Gerakan Srikandi Indonesia

Sabtu, 7 Februari 2026 19:37 WIB
Dewie Yasin Limpo secara resmi mendeklarasikan Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) di Kampung Goela, Jakarta, Sabtu (7/2/2025). Foto: Haikal Amirullah/RM
Dewie Yasin Limpo secara resmi mendeklarasikan Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) di Kampung Goela, Jakarta, Sabtu (7/2/2025). Foto: Haikal Amirullah/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Dewie Yasin Limpo secara resmi mendeklarasikan Gerakan Srikandi Indonesia (GSI) sebagai wadah perjuangan dan kolaborasi perempuan Indonesia lintas profesi dan generasi.

Deklarasi yang dirangkaikan dengan penandatanganan akta pendirian dan komitmen organisasi itu menandai lahirnya sebuah gerakan perempuan yang berorientasi pada pemberdayaan nyata di bidang politik, ekonomi, dan sosial.

Dalam deklarasi tersebut, Dewie Yasin Limpo tampil sebagai pendiri sekaligus didaulat sebagai Ketua Umum Gerakan Srikandi Indonesia.

Sejumlah tokoh perempuan nasional turut tercatat sebagai pendiri dan penggerak, di antaranya peneliti sekaligus birokrat Delima Hasri Azahari, Siti Nur Azizah Ma’ruf, pengacara kondang Elza Syarief, Siti Fadillah Supari, Melani L. Suharli, serta sejumlah tokoh perempuan nasional lainnya dari berbagai latar belakang profesional.

Dewie menegaskan, GSI dibentuk bukan sekadar sebagai organisasi seremonial atau ruang berkumpul tanpa arah. Menurutnya, Gerakan Srikandi Indonesia lahir dari kegelisahan atas potensi besar perempuan Indonesia yang belum sepenuhnya terkelola secara kolektif dan berkelanjutan.

“Kita berkumpul di GSI untuk mewujudkan perempuan Indonesia yang berdaya, mandiri, dan berdaulat untuk bangsa ini. Bukan sekadar kongkow tanpa tujuan. Kita ingin era baru, perempuan yang bersatu, bahagia, tapi punya target sukses, baik di politik maupun ekonomi,” ujar Dewie dalam sambutannya, di Kampung Goela, Jakarta, Sabtu (7/2/2025).

Baca juga : Jumlah Petugas Haji Perempuan 2026 Terbanyak Dalam Sejarah Indonesia

Dia menekankan bahwa perempuan merupakan aset luar biasa bagi bangsa. Peran perempuan, kata Dewie, sangat dibutuhkan di seluruh sektor kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, sosial, hingga lingkungan. Negara pun telah membuka ruang yang luas, termasuk kuota keterwakilan perempuan sebesar 30 persen di lembaga legislatif.

“Jalurnya sudah ada. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri. Di GSI, yang ingin terjun ke politik akan kita bekali pendidikan politik. Yang ingin menjadi pengusaha, kita carikan jalannya. Kita belajar bersama, tumbuh bersama,” tegasnya.

Dewie juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi perempuan. Menurutnya, perempuan Indonesia memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, termasuk melalui pajak dan sektor usaha kecil dan menengah.

Karena itu, GSI ingin memastikan perempuan mendapatkan akses pengetahuan, jejaring, dan peluang usaha yang setara.

“Semua harus sejahtera. Bukan untuk gaya hidup semata, tapi agar kita punya daya untuk peduli kepada mereka yang membutuhkan. Masih ada jutaan rakyat Indonesia hidup di bawah standar kesejahteraan. Di situlah GSI harus hadir,” katanya.

Kepedulian sosial menjadi salah satu roh utama Gerakan Srikandi Indonesia. Dewie, yang kerap dikenal aktif turun langsung ke masyarakat akar rumput, menegaskan bahwa GSI tidak ingin berjarak dengan realitas kehidupan kaum pra sejahtera.

Baca juga : Peran Pemerintahan Desa di Era Geopolitik Saat Ini: Bangun Desa, Bangun Indonesia

Dalam waktu dekat, GSI menyiapkan gebrakan sosial pertama pada bulan Ramadan dengan menggelar buka puasa bersama para pemulung. Tidak sekadar membagikan nasi kotak, GSI berencana mengajak mereka berbuka puasa di hotel berbintang sebagai simbol penghormatan terhadap martabat manusia.

“Sekali-sekali mereka juga harus merasakan duduk nyaman dan dihormati. Itu bentuk kepedulian kita,” ujarnya yang disambut antusias para peserta deklarasi.

Lebih lanjut, Dewie menjelaskan GSI tidak hanya berupaya menghadirkan perempuan Indonesia yang berdaya guna, mandiri, dan bermartabat, tapi sekaligus menjadi energi baru atau booster bagi gerakan perempuan di Tanah Air.

GSI, kata dia, hadir dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman. Gerakan Srikandi Indonesia juga memberi ruang besar bagi generasi muda. Sekitar 30 persen keanggotaan GSI direkrut dari generasi Gen Z, yang dinilai lebih adaptif terhadap era digital dan media sosial dalam mengangkat potensi serta isu-isu perempuan Indonesia.

“Peran media sosial sangat dominan hari ini. Gen Z kita libatkan agar GSI bisa menjawab tantangan zaman dan bergerak lebih cepat,” jelas Dewie.

Dalam tahap awal, GSI memfokuskan diri pada tiga program utama. Pertama, program politik untuk menyiapkan kader perempuan menghadapi kontestasi politik, khususnya menuju Pemilu 2029.

Baca juga : PPIH: Difasilitasi Saat Diklat, Jadi Pelayan Sepenuh Hati Jemaah Haji Indonesia

Kedua, program ekonomi dan kewirausahaan melalui kemitraan dan kolaborasi antarpelaku usaha perempuan. Ketiga, program sosial yang mencakup kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

Dewie menegaskan, kegiatan sosial GSI tidak hanya terbatas pada bantuan kemanusiaan, tetapi juga edukasi lingkungan untuk mencegah bencana akibat kerusakan alam, seperti yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Ke depan, Gerakan Srikandi Indonesia ditargetkan tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.

Dewie optimistis, dengan semangat kolaborasi dan saling mendukung, GSI dapat menjadi kekuatan baru perempuan Indonesia yang solid, inklusif, dan berdampak nyata bagi bangsa.

“Jadi mari kita tumbuh bersama, saling dukung, dan berkolaborasi untuk kebaikan. Itulah semangat Srikandi Indonesia,” pungkas Dewie Yasin Limpo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.