Dark/Light Mode

MASJID TUO BERUSIA 2 ABAD DI BINGKUDU CANDUNG

Rabu, 11 Maret 2026 07:53 WIB
Masjid Bingkudu yang telah berusia 203 tahun sebelum berganti atap. Sumber: dari berbagai sumber.
Masjid Bingkudu yang telah berusia 203 tahun sebelum berganti atap. Sumber: dari berbagai sumber.

Masjid Bingkudu terletak di Jorong Bingkudu, Candung, Kabupaten Agam, Propinsi Sumatra Barat.  Sebelah utara dan timur berbatasan dengan kebun komunitas, sedangkan sebelah selatan dan barat berbatasan dengan jalan setapak. Nama lain masjid ini adalah Masjid Bengkudu. Masjid berukuran besar dan telah berusia dua abad ini memang menarik bila dihubungkan dengan pendiriannya di tengah kecamuk Perang Padri.

 

Bingkudu dan Candung di Masa Kolonial Belanda

Bangunan awal dari sebuah surau yang diinisiasi oleh Haji Salam yang bermukim di Lareh Canduang, pada tahun 1823. Pembangunan surau ini juga melibatkan beberapa nagari yang ada di bawah distrik Ampat Angkat, yaitu Canduang, Koto Laweh, Lasi Mudo, Pasaneh, Bukik, Batabuah, dan Lasi Tuo (Sinar Sumatra, 14 April 1924). 

Bila dilihat dari tahun berdirinya, surau ini didirikan saat terjadinya peristiwa Padri. Bingkudu yang merupakan bagian dari Nagari Candung masa itu berada di bawah Distrik Ampat-Angkat Afdeling Oud Agam.  Kawasan yang menjadi bagian dari distrik ini merupakan basis dari pendukung Padri. Kielstra (1888) mencatat bahwa masyarakat nagari bertani dan berkebun kopi. 

Lebih lanjut, ia mencatat, “Ampat-Angkat masa itu merupakan sementara sebagian besar lahan pertanian di kampung-kampung lain di distrik ini berada di bawah kepemilikan keluarga Padri dan penduduknya sangat menderita.” (Kielstra, 1888). 

Baca juga : Presiden Tenangkan Masyarakat Soal Dampak Perang, Pangan Kita Aman

Meskipun berada di bawah kendali Padri, namun masyarakat yang bermukim di sekitar  Masjid Bingkudu tidak berubah menjadi penganut Wahabi. Mereka tetap menjalankan keyakinannya sebagai bagian dari Tarekat Naqsyabandiyah. Bahkan, pasca kekalahan Padri, masyarakat Candung masih tetap bertahan dengan identitasnya.   

Perubahan dari surau menjadi surau tidak diketahui pasti. Bangunan masjid di awal abad ke-20 sudah diperluas untuk menampung umat yang melaksanakan shalat. Pintu masuk dibangun di sebelah Barat. Di bagian selatan terdapat kolam, sedangkan di bagian timur terdapat bangunan asrama perempuan. Di bagian utara terdapat satu makam Syech Ahmad Thaher, pendiri Madrasah Ulumi Syriah, sebuah sekolah Islam pertama di Candung (Tjaja Sumatra, 20 Juli 1925).   

Madrasah ini dibangun pada tahun 1922, kemudian ditutup pada tahun 1977. Pada tahun 1992, madrasah ini dibuka kembali. Selain satu makam di halaman ini, terdapat beberapa makam lain yang terletak di tepi jalan sebelum pintu masuk masjid. 

 

Tinggalan Masjid Tuo Bingkudu

Bila dihitung sejak masa berdiri dan bertahan hingga kini, Masjid Bingkudu telah berusia 203 tahun. Struktur bangunan pun masih kokoh. Bahan utama yang digunakan dalam pembangunannya adalah kayu. Dinding luar masjid dicat dengan warna biru muda. 

Baca juga : Geledah Kantor Ombudsman, Kejagung Sita Dokumen & BBE

Masjid dipasang dengan pasak, bukan paku. Pada dindingnya dan balok penopang di ruang shalat terdapat ukiran khas Minang. Bangunan utama masjid  berukuran 21 × 21 meter, dengan dinding terbuat dari kayu. Pada beberapa bagian dinding luar terdapat hiasan dekoratif (Permatadinata dan Nasution, 2023).

Setidaknya ada 25 tiang dalam ruang shalat utama. Komposisi ini terdiri dari 1 tiang utama – yang disebut tiang macu – dan 24 tiang penyangga. Tiang-tiang ini dibagi menjadi lima baris, masing-masing baris memiliki lima kolom (Campo, 2009). 

Tiang utama terletak di tengah ruangan, tepatnya di baris ketiga dan kolom ketiga. Tiang utama memiliki bentuk heksagonal dan bagian bawahnya berwarna biru gelap. Di bagian bawah tiang ini terdapat hiasan berbentuk belah ketupat. 

Rangka atapnya memang lebih kecil. Rangkanya berbentuk heksagonal sehingga terlihat relatif bulat. Di antara tiang-tiang masjid, terdapat papan kayu melintang di bagian atas yang menghubungkan satu tiang dengan tiang lainnya. Papan-papan ini diukir dengan hiasan yang dicat merah dan emas.

Mimbar masjid pun masih asli berbentuk L, bukan persegi panjang seperti mimbar pada umumnya pada akhir abad ke-19. Dengan bentuk mimbar ini, khatib dapat naik mimbar dari dua sisi. Mimbar ini terbuat dari kayu dan memiliki ukiran di berbagai sisi (Budi dan Wibowo, 2018). 

Dinding, tiang, serta mimbarnya diukir dengan pola ragam hias khas Minang. Mulai dari kaluak paku, saluak laka, carano kanso, lumuik anyuik dan masih banyak motif ukiran lain sehingga membuat takjub setiap mata yang memandangnya.

Baca juga : Aroma Regenerasi Menguat, Musda Golkar Sulsel Tunggu Arahan DPP

Atap bangunan utama Masjid Bingkudu berbentuk piramida empat sisi dengan tiga lapisan dan terbuat dari bahan ubin berwarna abu-abu gelap. Di antara lapisan-lapisan tersebut terdapat ruang kosong. 

Ruang ini menurut Permatadinata dan Nasution (2023) berupa papan dengan lubang bulat untuk ventilasi. Atapnya dilengkapi dengan mustaka yang memiliki atap berbentuk kubah kecil. Bagian ini merupakan tambahan baru pada masjid.

Lampu-lampu minyak yang yang terpajang pada setiap sudut masjid rata-rata juga sudah menjadi barang antik, karena telah berumur ratusan tahun.  Seperti kebanyakan masjid dan surau tuo di Sumatra Barat, di atas menara ini dahulu terdapat Cenang (gong) Besar yang dibunyikan setiap datang waktu salat. 

Selain itu, pada pekarangan masjid juga terdapat sebuah menara dengan ketinggian 30 meter, dengan tangga naik berbentuk spiral. Menara ini juga digunakan untuk mengumandangkan azan, terutama saat belum ada pengeras suara. Di dekat jalan ke arah menara terdapat sebuah Tabuah (beduk) Besar yang dibunyikan setiap sebelum azan.

Dalam budaya Minangkabau, masjid merupakan salah satu contoh arsitektur tradisional yang menjadi saksi keberadaan peradaban Islam. Kiasan dalam pepatah-petitih tentang pentingnya peran surau atau masjid di Minangkabau tertuang dalam syarat berdirinya sebuah nagari. 

Nagari bapaga jo undang, kampuang bapaga jo pusako, dibari basasok bajurami, balabuah batapian, bapandam bapakuburan, bakorong bakampuang, barumah batanggo, babalai bamusajik. Artinya,  negeri dipagari dengan undang-undang, kampung dibatasi oleh pusaka, diberi semak dan jerami, punya jalan dan tepian, punya pekuburan, ada dusun dan kampung, rumah tangga, balairung dan masjid.

Fikrul Hanif Sufyan
Fikrul Hanif Sufyan
Periset dan pengajar sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.