Dark/Light Mode

Bahas Ekonomi Global & Eskalasi Di Timteng, Presiden Jaga APBN Tetap Terkendali

Jumat, 13 Maret 2026 07:50 WIB
Presiden Prabowo Subianto rapat soal energi dan ekonomi dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (Foto: Biro Pers)
Presiden Prabowo Subianto rapat soal energi dan ekonomi dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (Foto: Biro Pers)

 Sebelumnya 
Menurut Purbaya, kenaikan harga batu bara dipengaruhi efek substitusi, di mana sejumlah negara di Eropa dan Asia mulai mencari alternatif energi akibat gangguan pasokan minyak dan gas alam cair. 

Sementara itu, harga CPO tercatat naik 14 persen secara year to date menjadi 1.110,47 dolar AS per ton, meskipun masih mengalami kontraksi 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Harga nikel juga naik 4,9 persen secara year to date menjadi 17.469 dolar AS per ton atau meningkat 12,7 persen secara tahunan. Komoditas tembaga turut mengalami kenaikan 4,3 persen menjadi 12.954 dolar AS per ton dengan lonjakan tahunan mencapai 40,3 persen. 

Baca juga : Imbas Perang, Pupuk Kita Diincar Banyak Negara

Selain itu, harga emas juga melonjak signifikan hingga 19,5 persen sepanjang tahun berjalan menjadi 5.164,39 dolar AS per troy ounce, atau meningkat 75,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

“Harga emas masih dalam tren meningkat karena pergeseran sentimen pasar menuju aset yang dianggap aman atau safe haven. Sementara harga komoditas mineral seperti nikel dan tembaga juga tetap kuat sehingga mendukung kinerja penerimaan negara,” jelas Purbaya. 

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia acuan jenis Brent crude oil tercatat naik 47,1 persen sepanjang tahun berjalan menjadi 89,9 dolar AS per barel. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah sekitar 8,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Baca juga : Feriansyah: Kampus Harus Aktif, Tidak Tutupi Kasus

“Harga minyak Brent sempat menembus level 100 dolar per barel, tetapi saat ini telah berkoreksi turun setelah adanya pernyataan Presiden Donald Trump yang memperkirakan perang akan segera berakhir,” tuturnya. 

Sementara itu, Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan dunia saat ini sedang menghadapi situasi yang ia sebut sebagai perfect storm. Apa itu? Yakni ketika keti­dakpastian ekonomi global terjadi ber­samaan dengan eskalasi konflik geopolitik. 

“Dampaknya sangat nyata terhadap rantai pasok energi global dan kita tidak tahu kapan situasi ini mereda,” papar Luhut melalui unggahan di akun Instagram resminya, @luhut.pandjaitan, Kamis (12/3/2026). 

Baca juga : Kurniasih Mufidayati: Satgas PPKS Kampus Harusnya Diperkuat

Meski demikian, Luhut memastikan ketahanan energi nasional saat ini masih cukup kuat. Pasokan BBM dan gas nasional masih dalam kondisi mencukupi. “Fokus utama kita adalah memastikan guncangan luar tidak menghantam langsung daya beli masyarakat,” beber Luhut. 

Menurutnya, dalam situasi saat ini, kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan berbasis data menjadi kunci bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. 

“Waspada itu perlu, tetapi menjaga optimisme melalui kerja keras dan kekompakan seluruh elemen bangsa itu wajib. Dengan begitu, kita bisa bernavigasi melewati badai tantangan global ini dengan selamat,” pungkas Luhut. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.