Dark/Light Mode

Ahli Sarankan Sistem Rantai Dingin untuk Jaga Mutu Program MBG

Jumat, 3 April 2026 13:29 WIB
Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM.
Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga standar mutu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional.

Di tengah evaluasi tersebut, ahli teknologi pangan mendorong penerapan sistem rantai dingin guna menjamin keamanan dan kualitas makanan.

Hingga 1 April 2026, sebanyak 1.256 SPPG di wilayah Indonesia Timur dihentikan sementara operasionalnya sebagai bagian dari proses evaluasi.

Langkah ini bertujuan memastikan kualitas makanan yang disajikan tetap konsisten di berbagai daerah.

Ahli Teknologi Pangan, Yuyun Anwar, menilai evaluasi yang dilakukan BGN merupakan bentuk tanggung jawab untuk memastikan petunjuk teknis berjalan optimal.

Ia menyebut, masih banyak mitra yang belum sepenuhnya memahami standar pengolahan makanan dalam skala besar.

Baca juga : Sambangi Taman Siswa Bogor, Wamen Fajar Dengar Suara Siswa Soal MBG

“BGN memang sudah memberikan panduan dasar melalui program pra-syarat. Namun, penerapan aspek teknis seperti troubleshooting dan langkah pencegahan masih perlu dioptimalkan. Jika tidak segera dibenahi, program ini berisiko menuai kritik,” ujar Yuyun, Jumat (3/4/2026).

Untuk itu, Yuyun mengusulkan penerapan sistem katering rantai dingin (cold chain catering). Sistem ini menjaga suhu makanan tetap stabil sejak proses produksi hingga sampai ke konsumen.

“Tujuannya agar program MBG tidak hanya sukses secara kuantitas, tetapi juga menjamin mutu, keamanan, dan kepercayaan masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, proses pendinginan cepat setelah makanan dimasak dan menjaga suhu selama distribusi dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen secara signifikan.

Ia merujuk studi Journal of Food Protection yang menyebut kesalahan manajemen suhu pada rentang 5°C hingga 60°C menjadi penyebab utama lebih dari 70 persen insiden keamanan pangan dalam layanan katering skala besar.

Yuyun juga menyoroti besarnya skala operasional program, yang dapat mencapai 3.500 porsi makanan dengan perputaran dana hingga Rp 52 juta per hari. Karena itu, diperlukan rekayasa ulang proses produksi agar lebih efisien dan aman.

Baca juga : Apresiasi Pembatalan Sekolah Daring, DPR: Momentum Perkuat Mutu Pendidikan

“Saya ingin berbagi pengalaman praktis, bukan hanya teori, tentang bagaimana menyiapkan, menyimpan, dan mendistribusikan makanan agar tetap aman,” jelasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan BGN. Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III BGN, Rudi Setiawan, menegaskan pihaknya terus memastikan seluruh SPPG memenuhi standar keamanan pangan dan pengelolaan limbah.

“Kami ingin memastikan seluruh SPPG memenuhi standar, baik dari sisi keamanan pangan maupun pengelolaan limbah. Ini penting untuk melindungi kesehatan penerima manfaat,” kata Rudi.

BGN menghentikan sementara operasional sejumlah SPPG untuk memberi waktu melengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Dalam pedoman BGN, SPPG wajib memperoleh SLHS dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Prosesnya meliputi verifikasi dokumen, inspeksi lokasi, pengambilan sampel air dan makanan, serta pemeriksaan kesehatan karyawan.

Sampel tersebut kemudian diuji di laboratorium untuk memastikan keamanannya. Jika memenuhi syarat, sertifikat akan diterbitkan.

Baca juga : Kakorlantas Sarankan Pemudik Manfaatkan WFA untuk Atur Jadwal Arus Balik

Sebaliknya, jika belum memenuhi, SPPG akan diminta melakukan perbaikan dan mengulang proses sertifikasi.

Rudi menambahkan, BGN akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi berkala. SPPG yang telah memenuhi seluruh ketentuan dapat kembali beroperasi setelah melalui proses verifikasi.

“SPPG yang disuspend diharapkan segera melakukan perbaikan dan melengkapi persyaratan, agar bisa diverifikasi dan kembali beroperasi,” ujarnya.

Dengan penguatan sistem operasional dan pengawasan ketat, program MBG diharapkan tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui mutu dan keamanan pangan.

“Jika semua disiplin menerapkan standar tinggi, MBG bisa menjadi model nasional pengelolaan pangan bergizi yang aman dan profesional,” pungkas Rudi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.