Dark/Light Mode

3 TNI Gugur Di Lebanon, RI Kebut Pemulangan Jenazah

Sabtu, 4 April 2026 08:36 WIB
Upacara penghormatan dan pelepasan jenazah tiga prajurit TNI, di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon, Kamis (2/4/2026). (Foto: Bakom RI)
Upacara penghormatan dan pelepasan jenazah tiga prajurit TNI, di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon, Kamis (2/4/2026). (Foto: Bakom RI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah ngebut atau bekerja cepat memulangkan jenazah tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Jika tidak ada aral melintang, ketiga jenazah itu akan mendarat di Tanah Air, sore ini.

Tiga prajurit yang gugur itu adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon. Mereka gugur saat menjalankan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian di Lebanon dalam serangan Israel yang terjadi pada 29 dan 30 Maret 2026.

Sebagai pahlawan perdamaian, jenazah ketiga prajurit TNI itu mendapat penghormatan dan pelepasan di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon, Kamis (2/4/2026). Upacara dipimpin langsung Force Commander UNIFIL Letnan Jenderal Aroldo Lazaro.

Pemerintah telah berkoordinasi dengan PBB untuk memastikan proses pemulangan atau repatriasi dapat berlangsung secara cepat, aman, dan lancar. 

“Pemerintah Republik Indonesia berkomitmen untuk memastikan proses pemulangan berjalan sebaik-baiknya. Repatriasi ini merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi para prajurit yang gugur, sekaligus wujud tanggung jawab negara kepada keluarga yang ditinggalkan,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Jumat (3/4/2026).

Baca juga : Wapres Gibran-Teddy Bahas Situasi Nasional

Dalam kondisi normal, perjalanan dari Beirut ke Jakarta memerlukan waktu sekitar 17 jam. Di tengah konflik yang masih terjadi di Lebanon, proses repatriasi memiliki tantangan tersendiri. Namun, Pemerintah berkomitmen untuk memastikan proses pemulangan berjalan dengan sebaik-baiknya. 

“Doa dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia menjadi penguat dalam mengiringi kepulangan para pahlawan bangsa," lanjut pernyataan Kemlu RI.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait memastikan, proses pemulangan jenazah tiga TNI itu berjalan lancar. Rico menjelaskan, ketiga jenazah akan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Sabtu (4/4/2026) sore. Selanjutnya, dilakukan proses persemayaman militer di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sebelum diberangkatkan rumah duka masing-masing prajurit.

Dapat Santunan

Ketiga prajurit ini meraih penghargaan dan santunan dari Pemerintah dan PBB. Untuk penghargaan ini, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan, ketiga prajurit TNI itu mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Operasi Militer selain Perang (KPLB OMSPA) dan medali Dag Hammarskjold, penghargaan anumerta tertinggi dari PBB yang diberikan kepada personel militer, polisi, atau warga sipil yang gugur saat bertugas dalam misi penjaga perdamaian PBB.

Untuk santunan, mereka mendapat masing-masing Rp 1,8 miliar. “Almarhum Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar mendapat santunan sebesar Rp 1.894.688.236, Sertu Muhammad Nur Ikhwan sebesar Rp 1.846.309.049, dan Praka Farizal Rhomadhon sebesar Rp 1.854.075.205,” ujar Panglima, dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026). 

Baca juga : Transaksi Menjadi Lebih Cepat, Mudah Dan Murah

Santunan yang diberikan terdiri atas: nilai tunai tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, beasiswa untuk dua orang anak, santunan kematian dari PBB, dana watzah (santunan dari TNI AU), tabungan wajib perumahan Angkatan Darat (TWP AD), dana personal accident, dan santunan gugur dari perbankan. 

Selain itu, keluarga yang ditinggalkan juga mendapat hak gaji terusan selama 12 bulan yang terdiri atas gaji pokok, uang lauk pauk (ULP), tunjangan jabatan, serta pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan.

Rapuhnya Perlindungan PBB

Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional Ali Mochtar Ngabalin angkat suara terkait gugurnya tiga prajurit ini. Menurutnya, tragedi ini menjadi bukti nyata rapuhnya perlindungan terhadap pasukan penjaga perdamaian di bawah sistem internasional.

Ngabalin menerangkan, ketiga prajurit TNI itu merupakan putra terbaik bangsa yang menjalankan tugas mulia menjaga perdamaian dunia di bawah mandat PBB. Namun, sistem yang secara teori dirancang untuk melindungi justru tidak mampu menjamin keselamatan di lapangan.

"Mereka berjuang di wilayah yang seharusnya dijaga oleh sistem internasional, tapi realitas berkata lain. Sistem itu ada, namun perlindungannya tidak selalu sampai ke lapangan," ucap Ngabalin, dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).

Baca juga : RS Anak Di Teheran Jaga Harapan Dan Senyuman

Dia menilai, insiden tersebut menegaskan bahwa risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian bukan lagi sekadar potensi, melainkan ancaman nyata yang terus berulang. Ngabalin juga menyoroti respons PBB yang selama ini hanya sebatas pernyataan keprihatinan dan kecaman terhadap serangan kepada peacekeepers. Sikap tersebut belum cukup untuk mencegah jatuhnya korban di lapangan. “Ini menunjukkan adanya celah besar dalam sistem perlindungan,” ujarnya.

Secara operasional, pasukan Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL memiliki keterbatasan. Mereka tidak diperbolehkan menyerang lebih dulu dan sangat bergantung pada koordinasi lintas pihak. Saat tensi memanas, mekanisme tersebut kerap tertinggal dari realitas di lapangan.

"Koordinasi tidak selalu berjalan, informasi tidak selalu sinkron, dan kepatuhan terhadap aturan tidak selalu menjadi prioritas. Di titik ini, pasukan penjaga perdamaian menjadi pihak paling rentan," ungkapnya.

Ngabalin juga menyinggung posisi Indonesia dalam berbagai forum perdamaian global. Meski memberi ruang diplomasi, ia menilai forum-forum tersebut tidak memiliki daya tekan langsung terhadap aktor yang memiliki kekuatan militer besar.

Ngabalin juga mengaitkan dinamika global dengan pengaruh Amerika Serikat dan kedekatannya dengan Israel. Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi respons terhadap konflik di kawasan. "Dalam konfigurasi seperti ini, setiap insiden tidak berdiri sendiri, tetapi berada dalam konteks kepentingan negara besar,” ujarnya. MEN/BYU

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.