Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Akademisi Dukung Bahlil Amankan Pasokan BBM Dan LPG Dari Rusia
Jumat, 17 April 2026 21:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kalangan pakar dan peneliti energi menilai langkah Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama pasokan energi dengan Rusia sebagai keputusan taktis yang patut diapresiasi.
Kerja sama ini mencakup suplai minyak mentah (crude), LPG, hingga pengembangan fasilitas penyimpanan (storage).
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev.
Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ridho Hantoro, menilai tambahan pasokan dari Rusia merupakan langkah rasional dalam upaya diversifikasi energi nasional.
“Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” ujar Ridho, Jumat (17/4/2026).
Baca juga : Pramono Bakal Tambah Armada dan Perluas Layanan Mikrotrans di Jakarta
Menurutnya, selama ini ketergantungan pada sumber impor tertentu menjadi salah satu titik lemah ketahanan energi Indonesia. Ridho juga mengapresiasi rencana pembangunan fasilitas storage dalam kerja sama tersebut.
Dia menilai, penguatan infrastruktur penyimpanan justru menjadi langkah yang lebih fundamental. “Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih mendasar, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan sekadar menambah volume pasokan,” katanya.
Meski demikian, Ridho mengingatkan agar keberhasilan kebijakan ini tidak berhenti pada capaian diplomatik semata. Ia menekankan pentingnya indikator teknis dalam implementasi di lapangan.
Menurutnya, sejumlah aspek harus menjadi perhatian, seperti harga pasokan yang kompetitif, kesesuaian jenis crude dengan kilang domestik, efektivitas LPG dalam menekan impor, hingga lokasi storage yang strategis.
“Keberhasilan kebijakan ini bukan diukur dari headline diplomatik, tetapi dari hal konkret: apakah harganya kompetitif, crude cocok untuk kilang, LPG menekan impor, storage tepat lokasi, dan stok bisa diakses cepat saat krisis,” tegasnya.
Baca juga : Temui Putin, Prabowo Amankan Stok BBM
Ridho menambahkan, kerja sama ini seharusnya diposisikan sebagai bagian dari strategi besar transisi dan ketahanan energi nasional, bukan tujuan akhir.
Dia menekankan pentingnya penguatan sektor energi dalam negeri secara paralel, mulai dari peningkatan lifting migas, modernisasi kilang, efisiensi konsumsi BBM, substitusi LPG, pengembangan bioenergi, hingga percepatan elektrifikasi.
“Tanpa itu, tambahan pasokan hanya akan memperbaiki gejala, bukan akar masalah ketahanan energi,” ujarnya.
Senada dengan Ridho, dosen dan peneliti kebijakan publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahmad Nizar Hilmi, juga mengapresiasi langkah pemerintah. Ia menilai kerja sama ini tidak hanya berdimensi teknis, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global.
“Kerja sama ini bukan sekadar solusi teknokratis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang memengaruhi kebijakan domestik,” kata Nizar.
Baca juga : Di Musda Golkar Malut, Bahlil Tegaskan Soliditas Dan Larang Pecat Kader
Di sisi lain, dia menilai kebijakan ini tetap relevan sebagai langkah stabilisasi di tengah tekanan global. Menurutnya, energi merupakan komoditas strategis yang sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi.
“Menjaga suplai dan harga tetap terkendali berarti meredam potensi tekanan sosial akibat inflasi dan gejolak ekonomi,” jelasnya.
Namun, dia mengingatkan bahwa kebijakan ini bersifat pragmatis dalam jangka pendek dan berpotensi menimbulkan ketergantungan jika tidak diimbangi perbaikan struktural.
“Ini bisa menjadi manajemen ketergantungan jika tidak diiringi agenda perbaikan yang lebih mendasar,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya