Dark/Light Mode

GREAT Institute: Pertumbuhan Manufaktur dan Kontraksi Listrik Tidak Bertentangan

Rabu, 13 Mei 2026 20:50 WIB
Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adhamaski Pangeran. (Foto: Ist)
Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adhamaski Pangeran. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI merilis special report berjudul “Indonesia GDP Growth — First Quarter 2026: Behind the 5,61% Headline” sebagai tanggapan atas rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5,61 persen year-on-year (y-on-y), pada Rabu (13/5/2026).

Dalam laporan tersebut, LPEM UI menyoroti dugaan inkonsistensi data BPS, khususnya antara pertumbuhan sektor industri pengolahan sebesar 5,04 persen (y-on-y) dengan sektor pengadaan listrik, gas, dan air yang terkontraksi sebesar 0,99 persen (y-on-y). Menurut penulis laporan tersebut, Prof Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky, kedua indikator tersebut dinilai sulit dijelaskan secara logis karena industri manufaktur merupakan pengguna listrik terbesar nasional.

Menanggapi hal tersebut, Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adhamaski Pangeran berpendapat bahwasanya fenomena tersebut sebenarnya dapat dijelaskan apabila melihat kembali karakteristik sektor listrik, gas, dan air.

“Di Triwulan I-2026, ada beberapa faktor yang menjelaskan kontraksi sektor listrik, gas, dan air tanpa harus bertentangan dengan pertumbuhan manufaktur. Pertama, konsumsi listrik memang secara historis cenderung menurun pada periode Idulfitri karena aktivitas komersial bisnis dan perkantoran berhenti sementara selama libur hari raya. Sebagai gambaran, pada periode Lebaran Triwulan II-2025, sektor listrik, gas, dan air juga sempat terkontraksi secara kuartalan,” ujar Adhamaski.

Baca juga : Raih Pertumbuhan Tabungan Tertinggi, BSI Cetak Laba Bersih Rp2,2 Triliun

Ia menambahkan bahwa faktor kedua berasal dari tekanan eksternal berupa turbulensi geopolitik di Timur Tengah yang sempat mengganggu distribusi komoditas gas. Dalam kondisi tersebut, pemerintah cenderung memprioritaskan kebutuhan gas untuk rumah tangga dibanding sektor usaha.

“Terbatasnya pasokan gas bumi domestik dan penyesuaian kuota gas industri turut menekan industri energi-intensif seperti keramik, kaca, dan semen. Namun,dampaknya terhadap manufaktur nasional relatif terbatas karena tidak seluruh subsektor manufaktur memiliki ketergantungan yang sama terhadap gas,” lanjutnya.

Selain itu, faktor ketiga menurut Adhamaski, normalisasi konsumsi listrik pasca program diskon tarif listrik pada Triwulan I-2025 juga turut memengaruhi kontraksi sektor pengadaan listrik dan gas pada awal tahun 2026.

“Pada Triwulan I-2025 terdapat stimulus diskon listrik pemerintah yang mendorong konsumsi listrik masyarakat. Ketika kebijakan tersebut tidak kembali diterapkan pada Triwulan I-2026, maka secara statistik terjadi normalisasi dari sisi permintaan listrik,” jelasnya.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Stimulus Tambahan

Adhamaski juga menilai bahwa terdapat perbedaan konseptual yang penting dalam membaca data sektor listrik dan manufaktur dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB).

“Nilai tambah sektor listrik, gas, dan air dalam PDB dihitung berdasarkan margin produsen listrik, yaitu selisih antara output dan biaya produksi PLN maupun Independent Power Producer (IPP). Artinya, kontraksi nilai tambah sektor listrik tidak otomatis berarti volume fisik listrik yang disalurkan juga mengalami kontraksi pada tingkat yang sama. Kenaikan biaya produksi listrik, harga energi, maupun beban subsidi dapat memengaruhi nilai tambah sektor tersebut,” ujar Adhamaski.

Lebih lanjut, GREAT Institute juga menyoroti bahwa laporan LPEM UI belum sepenuhnya mempertimbangkan peran captive power dalam struktur industri nasional, terutama pada industri berbasis smelter.

“Smelter nikel merupakan salah satu motor utama pertumbuhan manufaktur saat ini dan sebagian besar menggunakan captive power atau pembangkit listrik mandiri. Artinya, pertumbuhan manufaktur tidak sepenuhnya bergantung pada listrik yang disalurkan PLN maupun IPP. Karena itu, hubungan antara kontraksi sektor listrik dan pertumbuhan manufaktur tidak dapat dibaca secara linier,” kata Adhamaski.

Baca juga : Jaga Momentum Pertumbuhan, Menteri Purbaya Siapkan Stimulus Baru

Selain menyoroti keterkaitan sektor listrik dan manufaktur, Prof Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky dari LPEM UI juga mempertanyakan lonjakan perubahan inventori pada Triwulan I-2026 yang dinilai terlalu besar dan lebih mencerminkan residual dalam kerangka Supply and Use Table (SUT) dibanding aktivitas ekonomi riil.

Menanggapi hal tersebut, Adhamaski mengatakan bahwa peningkatan inventori pada Triwulan I-2026 tidak dapat serta-merta dianggap sebagai residual statistik.

“Hal tersebut antara lain dipengaruhi oleh peningkatan stok beras nasional menjelang panen raya serta penurunan ekspor sektor pertambangan akibat gejolak ekonomi global yang menyebabkan sebagian hasil produksi tertahan sebagai inventori,” pungkas peneliti ekonomi GREAT Institute tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.