Dark/Light Mode

Perang Dengan Iran, 2 Raksasa Migas Amerika Buntung

Senin, 4 Mei 2026 07:40 WIB
Dua raksasa migas asal AS Exxon Mobil dan Chevron, alami kerugian besar. (Foto: Ilustrasi, dibuat oleh AI/Gemini)
Dua raksasa migas asal AS Exxon Mobil dan Chevron, alami kerugian besar. (Foto: Ilustrasi, dibuat oleh AI/Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran berdampak besar ke bisnis di dalam negeri AS. Dua raksasa migas AS ; Exxon Mobil dan Chevron, alami kerugian besar. 

Meskipun terjadi gencatan senjata, perang yang berlangsung 2 bulan itu menghambat jalur vital distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz. Gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak pun tak terhindarkan.

Imbasnya, dua raksasa migas asal AS, Exxon Mobil dan Chevron, ikut terpukul. Laba keduanya anjlok dalam pada kuartal I-2026. 

Berdasarkan laporan kinerja perusahaan yang dirilis Jumat (30/4/2026), Exxon membukukan laba 85,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.475,98 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut turun hingga 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Meski demikian, kinerja Exxon masih sedikit di atas ekspektasi Wall Street yang memproyeksikan pendapatan sebesar 82,18 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.424,67 triliun. 

Baca juga : OSO Buka Bimteknas DPRD, Singa Logo Baru Hanura

Sementara itu, laba bersih Chevron tercatat sebesar 48,61 miliar dolar AS atau sekitar Rp 842,7 triliun, turun 36 persen dibandingkan kuartal I-2025. Angka ini juga berada di bawah perkiraan Wall Street sebesar 52,1 miliar dolar AS. 

CEO Exxon Mobil Darren Woods mengungkapkan, konflik di Timur Tengah berdampak pada sekitar 15 persen produksi perusahaan. Selain itu, perang juga mengganggu distribusi dan rantai pasok minyak global. 

Ia memperkirakan, dibutuhkan waktu hingga dua bulan untuk menormalkan distribusi migas setelah Selat Hormuz kembali dibuka. Sementara pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke konsumen memakan waktu sekitar satu bulan. 

“Exxon mengalihkan sekitar 13 juta barel ke pasar yang paling membutuhkan selama perang. Namun, langkah ini berdampak negatif terhadap pendapatan kuartal pertama,” jelas Woods. 

Sedangkan CEO Chevron Mike Wirth menyebut, dampak perang terhadap perusahaannya relatif lebih kecil. Hal ini karena operasi Chevron di kawasan Timur Tengah tidak sebesar di kawasan lain seperti Amerika, Asia, dan Afrika. 

Baca juga : Zulhas Urai Kerumitan Regulasi, Pengolahan Sampah Jadi Listrik Dikebut

“Dampak dari peristiwa di Timur Tengah relatif lebih kecil dibandingkan perusahaan lain,” ujar Wirth. 

Tak hanya sektor migas, dampak perang juga merembet ke industri penerbangan. Maskapai asal AS, Spirit Airlines, dilaporkan bangkrut dan menghentikan operasionalnya. 

Melalui pengumuman resmi di situsnya, perusahaan menyatakan seluruh penerbangan dibatalkan dan layanan pelanggan dihentikan. 

Kenaikan tajam harga bahan bakar jet menjadi salah satu penyebab utama kebangkrutan. Penutupan ini berdampak pada sekitar 17.000 pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan. Perusahaan memastikan akan mengembalikan dana pelanggan, namun tidak menyediakan layanan pengalihan penerbangan. 

Sementara itu, biaya operasi militer AS terhadap Iran juga membengkak. Awalnya diperkirakan sebesar 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp 433 triliun, namun kini disebut bisa mencapai 40 hingga 50 miliar dolar AS atau setara Rp 800-an triliun. Lonjakan biaya ini belum termasuk pengeluaran untuk perbaikan pangkalan militer yang rusak serta penggantian peralatan tempur. 

Iran Gertak AS 

Baca juga : Kartu Kendali Kursi Roda, Benteng Perlindungan Lansia Di Masjidil Haram

Di tengah tekanan tersebut, konflik masih jauh dari kata usai. Perundingan damai antara AS dan Iran belum menemukan titik temu. Gencatan senjata masih berlangsung, namun ketegangan tetap tinggi. 

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan konflik atau memilih jalur diplomasi berada di tangan AS. “Sekarang bola ada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan konfrontasi,” ujarnya. 

Presiden AS Donald Trump juga mengakui tengah mempertimbangkan proposal damai terbaru dari Iran, meski ia meragukan kesepakatan dapat segera tercapai. 

Menurutnya, AS memiliki dua opsi, melanjutkan serangan besar-besaran atau menempuh jalur negosiasi. Trump menegaskan lebih memilih opsi diplomasi, meskipun tekanan terhadap Iran tetap tinggi. 

“Secara kemanusiaan, saya lebih memilih tidak melakukan serangan besar-besaran,” kata Trump. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.