Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kenang Keteladanan Buya Syafii, Wamen Fajar: Pendidikan Jangan Kehilangan Nurani
Minggu, 24 Mei 2026 17:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengingatkan pentingnya menjaga nurani dalam dunia pendidikan di tengah situasi zaman yang dinilai semakin bising dan kehilangan keteladanan.
Pesan itu disampaikan Fajar saat menghadiri malam budaya pembukaan pameran seni rupa dalam rangkaian “Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM)” di Kiniko Artspace, Yogyakarta, Jumat (23/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Fajar mengenang kedekatan personal dan intelektualnya dengan Buya Ahmad Syafii Maarif saat dirinya menjabat Direktur Eksekutif MAARIF Institute.
“Buya tidak pernah mengajarkan dengan retorika yang menggelegar. Ia mengajarkan melalui sikap, keteguhan pada prinsip, sekaligus kelapangan dalam menerima perbedaan,” kata Fajar.
Baca juga : Wamen Irene: Ekraf Tak Boleh Ada Dalam Bubble
Menurutnya, Buya Syafii mengajarkan agama sebagai sumber etika publik, bukan alat untuk mengeksklusikan kelompok lain. Nilai keberagaman dan kemanusiaan juga selalu menjadi bagian penting dalam pemikiran Buya.
Fajar menilai Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis keteladanan. Pendidikan dinilai terlalu menitikberatkan pada transfer pengetahuan, namun kurang memberi ruang pada pembentukan karakter.
“Pendidikan kita berisiko kehilangan kompas moral jika tidak ditopang nilai dan keteladanan yang otentik,” ujarnya.
Dia menegaskan, pemikiran Buya Syafii Maarif masih relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Menurutnya, ada tiga nilai utama yang perlu dijaga dalam pendidikan, yakni keislaman yang mencerahkan, keindonesiaan yang menyatukan, dan kemanusiaan yang membebaskan.
Baca juga : Wamen Fajar: Pendidikan Jadi Jalan Kebangkitan Nasional
Ketiga nilai itu dinilai penting untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.
Dalam konteks kebijakan pendidikan, Fajar menekankan sekolah harus kembali menjadi ruang dialog, refleksi, dan perjumpaan nilai.
“Pendidikan bukan hanya mengasah nalar, tetapi merawat nurani,” katanya.
Dia juga mengingatkan bahwa menjaga warisan Buya Syafii Maarif bukan berarti mengkultuskan sosoknya. Yang lebih penting adalah memastikan nilai integritas, keberanian moral, dan keberpihakan pada kemanusiaan tetap hidup dalam dunia pendidikan.
Baca juga : Strategi Kebijaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Berdasarkan Demokrasi Pancasila
“Mungkin yang kita butuhkan bukan suara yang lebih keras, tetapi cahaya yang lebih jernih,” ujar Fajar.
Kegiatan tersebut turut dihadiri mantan Ketua KPK M Busyro Muqoddas, Rektor UII Prof Fathul Wahid, serta sejumlah seniman dan perupa nasional
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya